A/n: sedang dilakukan revisi, jadi jika kalian baca di chapter yang belum di revisi trs berbeda dengan chapter yang sudah di revisi atau bahkan beberapa di jelaskan kembali di chapter yang belum di revisi harap di maklumi><
~~~~^^~~~~
Dunia ini terlalu singkat hanya untuk memikirkan kesalahan orang lain.
~~~~^^~~~~
Saat pelajaran selesai Arkan seperti biasa langsung berjalan menuju meja Una. Gadisnya ini bukannya ke kantin seperti orang-orang pada umumnya malah masih sibuk dengan buku-buku pelajaran, padahal tanpa Una belajar pun perempuan itu sudah pintar.
"Na, udah baca berita di mading?" tanya Arkan sambil mengambil pensil Una.
Una menoleh pada Arkan yang tengah mencoret-coret dan menuliskan beberapa kata-kata bijak di buku khusus menghitungnya. "Enggak, emang kenapa?"
"Kita bakal kemah. Kamu ikut?" Arkan menghentikan aktivitasnya, cowok itu menatap serius pada Una.
"Enggak tau. Kalau, Mas ikut ya kayaknya aku juga ikut," katanya. Mas yang di maksud Una di sini adalah Kakaknya sendiri.
Arkan mengangguk mengerti. Keadaan hening kembali. Arkan yang bosan dengan keheningan ini memilih membuka aplikasi WhatsApp-nya, melihat seberapa banyak orang yang mengirim pesan padanya.
"Na, udah dong belajarnya kelas kita aja ngambis kalau mau penyisihan aja masa kamu ngambis setiap saat sih, Na," rajuk Arkan sambil menggoyangkan lengan Una.
Una melirik Arkan yang menatapnya dengan tatapan merayu. "Kalau sistem kebut semalam buat dapetin nilai gede itu bakal lebih capek dari pada orang yang nyicil belajar setiap hari."
Cowok itu mendesah panjang sambil menjatuhkan kepalanya di meja. Una yang melihatnya langsung memainkan rambut Arkan sambil tersenyum tipis. "Arkan jangan marah ya, i love you."
Bisikan dari Una membuat Arkan langsung bangkit kembali. Cowok itu menatap Una dengan tatapan seolah tak percaya, sekaligus kaget. "Tadi kamu ngomong apa?"
Una menggeleng lantas kembali membaca buku. Kadang dirinya merasa malu jika harus mengungkapkan kata-kata yang menunjukkan seberapa sayangnya ia pada orang tersebut.
"Ih kok gitu. Tadi ngomong apa Una?" Arkan kali ini mengguncang-guncang pelan tubuh perempuan di sampingnya. "Aku enggak denger ih. Eh denger deh, tapi aku mau ngerekam omongan kamu tadi, soalnya kamu jarang banget ngomong kaya gitu."
"Kay---," ucapan Una terpotong karena seruan seseorang.
"Ngakunya sih agama Islam tapi kok masih pacaran," sindir seseorang dari depan kelasnya.
Una dan Arkan yang merasa tersindir pun lantas menatap ke arah orang yang berbicara tadi. Terlihat di sana perempuan itu kini tengah mengetik sesuatu di hpnya kemudian memasuki kelasnya sambil terus memandang Arkan dan Una.
"Rasulullah SAW bersabda, “Tidak boleh antara laki-laki dan wanita berduaan kecuali disertai oleh muhrimnya, dan seorang wanita tidak boleh bepergian kecuali ditemani oleh muhramnya.”(HR. Muslim)." Suara khas google itu bergema dengan nyaringnya membuat perempuan yang sengaja mencari hadis ini tersenyum puas.
"Terus lo ngerasa lebih baik dari pada orang pacaran gitu maksud lo?" tanya Arkan pada Ines yang tengah menyeder di tembok dengan tatapan meremehkan keduanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Lies || Eunkook
Fanfiction[Romantis-Komedi-sad] Kau tau hal apa yang palingku benci didunia ini? PERSAHABATAN. Ya persahabatan, persahabatan bisa sejahat iblis dan bisa sebaik malaikat. Namun, yang ku temui di dunia ini adalah sahabat yang sejahat iblis. Se...
