5. A lies✓

755 111 55
                                        

A/n: sedang dilakukan revisi, jadi jika kalian baca di chapter yang belum di revisi trs berbeda dengan chapter yang sudah di revisi atau bahkan beberapa di jelaskan kembali di chapter yang belum di revisi harap di maklumi><

***

Seminggu kemudian.

Mobil BMW hitam kini memasuki area sekolah SMA Bhakti yang nampak tengah ramai dikunjungi oleh beberapa orang tua yang menghantarkan anak mereka untuk berkemah.

Saat mobil tersebut sudah terparkir di basemen khusus seorang wanita anggun itu kembali menatap putrinya yang sibuk mengecek kembali peralatan yang akan di bawanya.

"Na, kamu jangan ikut bus ya biar nanti Mama sama Papa aja yang nganterin," rayunya sambil memegang tangan putrinya yang sendiri tadi sibuk mencari sesuatu.

Una menatap sang Mama. "Enggak deh, Mah enggak enakan sama regu Una nanti yang ada mereka nyangka Una enggak ikut kemah Mas kepala sekolah," ucap Una sambil kembali membereskan tasnya yang sempat di acak-acak karena mencari sesuatu. "Mama inget, kan gara-gara mereka semua tau kalo Kakak Una kapsek jadinya mereka ngedeketin Una karena ada maunya aja, jadi sekarang Una enggak mau narik perhatian orang lain lagi."

Lisa yang tak lain adalah ibunda Una itu memandang anaknya dengan sangat sayang. "Una masih kesel gara-gara waktu tes masuk SMA Bhakti semua orang ngeraguin kepintaran Una dapet skor tertinggi karena Mas kamu?"

"Iyalah, Mah! Gara-gara itu kan atas tes tambahan, tes minat bakat dan untungnya Una masih dapet skor terbaik meskipun hampir ke geser sama Alex." Una menjelaskan dengan nada tak suka mengingat betapa banyak orang yang meragukan kecerdasannya, dan karena diadakan lagi tes secara dadakan membuat dirinya semakin di benci oleh seluruh angkatan, untungnya kebencian mereka tidak terlalu di tampakkan mengingat jabatan yang di pegang Masnya.

"Oh iya selain karena itu juga aku enggak mau bareng Mama itu karena aku enggak mau seluruh sekolah tau kalo Papa ketua yayasan, nanti yang ada aku di curigain lagi," sambungnya.

"Jadi ... beneran enggak mau bareng nih ke perkemahannya? Nanti juga Mama sama Papa ke perkemahan, biasalah Papa ngasih sambutan. Mau bareng enggak?" tanya sang Mama kembali.

Una menggeleng tegas. Gadis itu kini membuka pintu mobil dan mengeluarkan barang bawaannya, sebelum menutup pintu mobil ia kembali berbicara, "kalo mau ke perkemahan bawa cemilan yang banyak ya, Mah, titipin ke Mas aja."

"Siap putriku! Nanti hati-hati ya jangan pisah-pisah sama regu kamu, terus tidurnya jangan deket-deketan sama cowok!" Lisa memperingati anaknya dengan satu jari telunjuk mengarahkan kearah Una sebagai tanda penekanan.

"Yeh masa Mama enggak tau, meskipun regunya ada cowok tapi tidurnya tetep di pisah, cuman deket-deketan tendanya."

"Oh gitu ya Mama enggak tau tuh soalnya Papa enggak ngejelasin, sibuk terus dia!" kesalnya membuat Una tertawa kecil. "Yaudah sana ke regu kamu, atau Mama bantuin bawa barang-barangnya?"

"E-e-eh enggak usah, Mah lagian nanti regu Una bakalan kesini sendiri kok, Mamah pulang aja sekalian belanja cemilan buat di bawa ke perkemahan."

"Oke, oke Mama pulang dulu ya."

"Iya hati-hati Mama!" Una melambaikan tangannya saat mobil yang dikendarai Mama nya itu kian menjauhi sekolahnya.

A Lies || EunkookTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang