HAPPY READING 🧡
*
*
*
Terhitung sudah dua minggu pernikahan mereka. Hari-hari berjalan seperti biasanya. Hanya saja, Aksara mulai banyak berbicara, tidak sedingin dan sekaku dulu.
Kini keduanya tengah bersiap untuk pergi ke rumah orang tua Aksara. Tadi malam, Jihan meminta mereka untuk tinggal di sana selama beberapa hari karena sang suami sedang ada pekerjaan di luar kota, jadi wanita itu ingin di temani oleh anak dan menantunya.
"Jangan bawa banyak-banyak."
Aksara menyimpan lagi beberapa pakaian yang akan Kanaya bawa tadi. Gadis itu terlihat seperti akan pindah rumah, padahal hanya menginap beberapa hari saja.
Setelah selesai, Aksara meninggalkan rumah yang kini sudah ada beberapa satpam dan juga asisten rumah tangga yang baru bekerja kurang kebih satu minggu. Tidak mungkin jika semua pekerjaan rumah di kerjakan oleh Kanaya, sedangkan gadis itu juga masih harus sekolah.
"Sa, ada minum nggak? Gue haus."
"Nggak ada."
Tanpa berbicara lebih lanjut lagi, Aksara meminggirkan mobil nya saat melihat ada sebuah warung kecil di sana.
"Tunggu sebentar."
Aksara turun dan menghampiri warung tersebut, lalu membeli dua botol air mineral dan sebuah camilan untuk Kanaya.
"Harganya berapa, dek?" Tanya Aksara pada si penjaga warung yang sepertinya masih duduk di bangku SMP.
Gadis itu malah terlihat kebingungan.
"Biasanya harganya berapa, kak?" Tanya nya balik membuat Aksara mengerutkan kening. Yang jual siapa nanya harga ke siapa...
"Mama saya lagi nggak dirumah, kak. Jadi saya nggak tau harganya berapa. Kakak tau?"
Aksara menggeleng pelan, lalu mengeluarkan selembar uang berwarna merah kepada gadis itu.
"Ehh, kak. Ini kayaknya kebanyakan, deh, uangnya" ujarnya menahan langkah Aksara yang akan kembali ke mobil.
"Nggak papa, daripada uangnya kurang."
Gadis itu mengangguk dan membiarkan Aksara pergi.
"Terimakasih ya, kak" ujarnya sedikit keras. Rejeki nomplok..
***
"Lo nggak gandeng tangan gue, Sa?" Tanya Kanaya tak sadar.
Posisi mereka kini tengah berdiri di depan pintu rumah, Aksara menoleh sedikit terkejut.
"Hah?" Sahut Aksara bingung. Dia melihat Kanaya yang langsung mengalihkan pandangan dari tangan ke arah Aksara.
"Apa?" Tanya Kanaya lugu.
Aksara memandang gadis itu datar.
"Apa? Emang gue bilang apa tadi?" Kanaya terlihat seperti orang linglung.
Jadi Aksara di prank? Daripada meladeni tingkah Kanaya yang semakin tidak jelas, Aksara memilih masuk ke dalam rumah dengan langkah santai.
Setelah bersalaman dan mengobrol ringan dengan Jihan, Aksara meminta izin untuk pergi ke kamar di ikuti oleh Kanaya.
"Gue pinjem gitar lo ya, Sa" izin Kanaya di angguki oleh cowok itu. Setelahnya, Kanaya mulai melangkah menuju balkon kamar Aksara.
Aksara mulai memejamkan mata dengan pakaian serta sepatu yang masih melekat di tubuhnya. Tapi, bunyi yang tidak teratur dari arah balkon mengganggu pendengarannya, Aksara bangkit menghampiri asal suara.
KAMU SEDANG MEMBACA
AKSARA
Teen Fiction"Jadi, kenapa akhirnya lo terima lamaran gue?" "ya, setelah gue pikir-pikir, omongan lo waktu itu emang bener, sih. Dari pada gue nikah sama om-om, kan?" "Lo sendiri kenapa, tiba-tiba dateng buat lamar gue?" Cowok itu diam, tak berniat menjawab. M...
