Di ruangan besar rumah itu, kedelapan remaja tengah berbincang asyik satu sama lain. Ada yang memainkan jari diatas keyboard handphone, berbincang ria dan tertawa malu melihat pantulan tubuhnya di cermin. Kedelapan makhluk itu terlihat menikmati kebersamaan mereka.
"Woy, bagi snack'nya. Gue juga pengen," teriak Arkan berusaha merebut snack di tangan Dinda.
"Wlee... gitu aja nggak bisa ambil sendiri. Cih! Katanya cowok, tapi lemah kayak gini," cibir Dinda memeletkan lidahnya.
"Wah parah nih cewek. Lo mau gue apain, hm? Lo bilang gue lemah? Cih! Lo nggak tau gue siapa?" balas Arkan tak terima.
"Ohh pasti tau dong. Lo itu WILIAM ARKANA JOHN, cowok playboy kelas atas di SMA GARUDA yang jagonya ngebaperin cewek tapi nggak tanggung jawab saat cewek ngelabrak balik," tutur Dinda mengangkat satu alisnya meremehkan Arkan. Arkan sendiri terkekeh.
"Ohhh jadi selama ini lo kepoin gue?"
"Kepo palalu peyang."
"Udah, ngaku lo. Buktinya lo tau semua hal tentang gue. Jangan bilang lo suka sama gue?"
"Dihh jangan ge'er. Gue nggak bakal suka sama cowok playboy kayak lo. Sukanya ngebaperin anak orang tapi nggak tanggung jawab. Cemen tau nggak!"
"Jadi, lo mau tau keseriusan gue menjalin hubungan sama cewek?" tanya Arkan dengan sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Dinda. Cewek itu terlihat gugup saat Arkan menatapnya tajam. Bahkan plastik snack di tangannya telah jatuh bersamaan dengan berseraknya isi snack itu. Arkan sendiri terus mendekatkan wajahnya kearah Dinda. Bahkan cewek itu bisa merasakan terpaan nafas cowok itu.
"Mau ngapain lo?" tanya Dinda gugup.
"Mau nunjukin ke lo kalau gue bisa serius menjalin hubungan."
Dinda mati kutu. Dirinya bingung harus berbuat seperti apa. Sikap bobroknya hilang saat itu juga melihat ulah makhluk tak berotak di depannya itu.
"Jadi gimana? Lo mau liat keseriusan gue?" tanya Arkan lagi. Cewek itu sendiri menelan salivanya mendengar pertanyaan maut yang Arkan lontarkan.
"Lo-lo gila hah!" sentak cewek itu. "Gue nggak nyuruh lo lakuin itu."
Arkan tertawa lepas. Lucu sekali baginya melihat tingkah Dinda yang super bawal berhasil ia takhlukkan. "Heh! Nggak usah ge'er lo. Gue nggak bakal sudi lakuin hal kayak tadi sama lo. Lo itu musuh terbesar gue. Bahkan... lo adalah musuh yang paling gue benci melebihi rasa benci gue sama si Alfa Bangke," tutur Arkan disela tawanya.
Rayina dan Reygan serta para sahabatnya yang lain hanya bisa geleng kepala melihat tingkah kedua makhluk itu. Dinda sendiri mati-matian menahan emosinya yang siap meledak saat itu juga terhadap Arkan. Melihat cowok itu bertawa lepas di depannya, emosi Dinda kian menggebu.
"DIAM LO, SETAN!" teriak Dinda.
"Biasa aja kali. Ohhh iya satu lagi, kalau gue setan berarti lo mak lampir," balas Arkan semakin membuat cewek itu murka.
"Bengke lo!"
"Bodoamat."
Begitulah seterusnya perdebatan keduanya. Tak ada kata perdamaian jika kedua makhluk itu bersatu. Jangankan bersatu, bertemu saja pasti ada kata perang mulut antara keduanya. Selalu diselingi dengan perdebatan unfaedah merupakan ciri khas dari mereka. Bahkan keduanya menganggap satu sama lain sebagai musuh. Ettt, tapi tunggu dulu. Bukannya musuh bisa jadi orang yang sangat kita butuhkan?
"Lo kenapa?" tanya Reygan kepada Rayina yang melamun. Cowok itu memilih berbincang dengan kekasihnya daripada mendengar bacotan Arkan dan Dinda yang tak ada ujungnya. Selain bisa berduaan, Reygan juga bisa bersikap manja terhadap Rayina. Lebih bermanfaat daripada meladeni Arkan dan Dinda, bukan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Reygan & Rayina (END)
Teen FictionMengisahkan tentang pertemuan dua insan karena suatu insiden yang tak terduga, yang mana insiden itu membuat mereka saling terikat satu sama lain tanpa disadari. "Lo gila hah!" "Maaf..." "Akal sehat lo mana, Rey?" "Gue takut!" Deg... Rayina mendeka...
