53.

251 9 0
                                        

Dor!!!

Semua membisu mendengar suara menggelar itu. Disana, seseorang berdiri kaku merasakan sensasi panasnya peluru yang menembus perut kanannya. Bahkan, Sweater putih yang ia kenakan telah berubah warna menjadi merah pekat.

Bruk!!!

Aira menoleh menatap Gedung dimana suara itu berasal. Tiba-tiba cewek itu merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya walau hanya sesaat. Sakit itu tak bisa ia deskripsikan dalam bentuk kata-kata. Sakit yang membuatnya menahan napas dalam beberapa detik.

Melihat raut aneh yang dipancarkan Rayina, Bima menghampiri cewek itu. "Ra, kenapa?"

Sejujurnya, Bima juga merasa gelisah mendengar suara tembakan dari dalam Gedung. Firasat cowok itu mengatakan bahwa sesuatu telah terjadi di dalam sana. Melihat raut wajah Aira yang berubah seperti menahan sakit pada area perutnya, cowok itu semakin yakin telah terjadi sesuatu.

"Perut gue sakit. Sakit banget," adu cewek itu.

"Lo masih kuat nggak? Atau perlu gue antar ke rumah sakit?"

"Nggak usah Bim. Gue cuman mau ketemu abang sekarang. Gue mau mastiin kondisi dia."

Aira dan Bima adalah teman seangkatan. Perbedaan antara keduanya adalah Aira anak Mipa sedangkan Bima anak Bahasa.

"Tapi di dalam bahaya, Ra. Gue nggak mau Bang Rey marah sama gue kalau lo masuk. Disini gue ditugaskan buat lindungin lo. Nanti gue dikira nggak becus kalau lo kenapa-napa. Lo tau kan watak abang lo. Gue nggak mau dihajar sama dia."

"Plis Bim. Gue mau liat kondisi dia. Tolong jangan halangin gue kali ini. Gue mohon."

Melihat raut Aira yang memelas, hati Bima meluluh. Setelahnya cowok itu mengantar Aira menuju Gedung. Namun saat telah sampai, pemandangan di depan matanya membuat dada Aira sesak. Cewek itu menahan napas dalam beberapa saat sebelum setelahnya menjerit histeris.

"ABANG!!!"

Terlambat. Semuanya telah terjadi. Reygan yang malang menjadi korban tembakan Alfa setelah menyelematkan Galang. Awalnya peluru itu mengarah kepada Galang tapi Reygan lebih cepat menyelamatkan sahabatnya dan berakhir dialah yang menjadi korban. Ini adalah kali kedua Reygan menyelamatkan Galang dari serangan maut yang Alfa lakukan.

Arion memantung mencerna kejadian itu. Di samping Reygan terkapar bersimbah darah, Galang terlihat diam membisu sambil menutup luka pada perut sahabatnya sambil berharap perbuatan itu bisa menghentikan pendarahan. Sayangnya sebuah fq3rakta sedang tak bisa mereka hindari. Darah malah semakin mengucur deras dari sana.

Aira mendekat dan menggengam tangan kakaknya. Kaki cewek itu seketika melemas melihat Reygan tak berdaya sekarang.

"Bang liat gue," panggilnya pada Reygan. Raut pucat cowok itu membuat Aira sangat takut. Sambil menggenggam kuat tangan Reygan yang berlumuran darah, Aira berusaha menyadarkan cowok itu.

"Lo kuat bang. Tolong bertahan. Bentar lagi ambulance datang..." isaknya.

Reygan menatap bidadari kecilnya. Meski sedang menangis, wajah Aira masih terlihat imut di matanya. "Lo can-tik kalau lagi nangis dek," bisiknya sambil berusaha maraup udara yang ada di sekitarnya. Sungguh sakit itu membuat Reygan mati rasa.

Cowok itu beralih menatap mata lembut Aira. "Dek gue udah penuhin permintaan lo. Bentar lagi gue bakal pergi seperti yang lo minta. Tapi kenapa lo nangis sekarang. Bukannya lo senang liat gue kayak gini? Gue udah sekarat dek. Bentar lagi harapan lo tercapai. Berhenti nagisin abang nggak becus kayak gue."

Tangis Aira pecah mendengar kata-kata yang Reygan ucapakan. "Nggak hiks... Gue nggak mau lo pergi. Waktu itu gue cuman kesal sama lo. Gue nggak pernah harapin lo pergi. Gue nggak rela bang. Tolong bertahan. Jangan tinggalin adek sendirian. Adek sayag abang... hiks."

Reygan & Rayina (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang