Dengan langkah pelan Reygan mencoba masuk tanpa sepengetahuan penghuni rumahnya. Cowok itu tersenyum menang saat akan menaiki tangga menuju kamarnya tanpa sepengetahuan siapapun. Namun na'as, suara toa adiknya berhasil menghentikan langkah lebar cowok itu.
"Dari mana aja lo?" tanya Aira menyelidiki.
"Apa urusannya sama lo?" jawab Reygan sinis.
"Urusannya, lo Abang laknat gue. Gue berhak tau apa yang lo lakuin sepanjang hari sampai pulang malam kayak gini."
"Nggak penting."
Aira mendengkus kesal. Kakaknya memang sangat datar jika sudah berbincang mengenai urusannya. "Lo nggak kasih tau, gue laporin ke Ayah lo pulang larut lagi," ancam Aira. Reygan hanya bisa pasrah jika sudah diancam seperti itu. Cowok itu tak ingin dihukum jika Ayahnya tahu dirinya pulang malam lagi.
Saat itu Aldiano masih di kantor dan Reygan masih punya kesempatan untuk menghindari Ayahnya. Namun sial, nasibnya tak beruntung sebab masih ada Adiknya yang akan mengintrogasi dirinya.
"Mau lo apa sih?" tanya Reygan kepada Aira.
"Ceritain ke gue apa yang lo lakuin hari ini. Tadi, gue liat lo bareng sama kak Rayina pulang sekolah. Jangan bilang lo..." mata Aira memicing menyelidik Reygan.
"Nggak usah net thinking," hardik cowok itu. Seketika rasa gugup menghinggapinya saat bayangan bersama Rayina kembali meluncur dibenaknya.
"Tuh kan lo diam. Ceritain ke gue hari ini lo kemana aja sama Kak Rayina."
"Sewot banget lo."
"Ceritain nggak?"
"Nggak!"
"Yaudah. Gue laporin lo ke Ayah. Gampang kan?"
Setelahnya Aira berancang meninggalkan cowok itu. Namun, suara bariton Kakaknya lebih dulu mencegahnya. Cewek itu tersenyum menang sebelum setelahnya berbalik menatap Reygan. "Ceritain sekarang," desak Aira.
"Gue ke rumah Rayina. Puas lo?"
Mata Aira membola. Sejak kapan Kakaknya berani mengunjungi rumah cewek? Apa yang terjadi?Kapan? Mengapa? Kenapa bisa?
Pertanyaan itu setia melayang dibenaknya. Cewek itu terkejut mendengar pengakuan Reygan. "Sejak kapan lo kerumah Kak Rayina?"
"Udah lama."
"Hah! Seriusan? Sumpah, lo gantle banget. Ternyata burik-burik gini lo masih punya niat cari cewek, Bang."
"Gue masih normal kalau lo lupa."
Aira memoyongkan bibirnya. Setiap berbicara, nada yang Reygan lontarkan terdengar pedis bak cabai rawit. Sedetik kemudian, cewek itu tersenyum menemukan ide ampuh membalas sikap dingin Kakaknya. "Gue harus kasih tau Bunda sama Ayah soal ini," tutur cewek itu mengalihkan perhatian Reygan sepenuhnya dengan mata melotot.
"Lo buka suara, gue cekik lo!"
"Wleee... bodoamat, Bang," jawab Aira memelet lidah dan berlari menghampiri Lidia yang sedang asyik menonton sinetron Catatan Hati Seorang Istri pada layar tv di depannya.
"Bunda!"
"Ini udah malam, Aira. Jangan teriak atau Bunda sumpel mulut kamu!" ancam Lidia. Wanita paruh baya itu dibuat kesal karena anak gadisnya mengganggu kosentrasinya.
"Istt Bunda, Rara mau ceritain kabar baik lho."
"Kabar baik apaan? Palingan kabarnya si Lery boneka kamu itu udah kamu mandiin kan?" jawab Lidia malas-malasan.
"Bunda dengar dulu. Sekarang Rara mau bawain kabar yang luar biasa banget hotnya."
Lidia memutar bola mata malas melihat tingkah anak gadisnya. "To the point aja. Bunda masih pengen nonton. Episodenya seru banget, kasian kalau dilewatin."
Dari jauh Reygan menghela napas berat. Mengapa Bunda dan Adiknya sangat bobrok jika tinggal bersama? Baginya, seharian tinggal bersama kedua makhluk itu hanya akan membuatnya stres tingkat dewa. Dan pada akhirnya cowok itu kembali menarik nafas pasrah saat keduanya kembali berdebat.
"Jadi gini... tadi Abang es ke rumahnya kak Rayina, Bun," jelas Aira antusias.
"Jangan ngadi-ngadi kamu. Mana ada anak es Bunda mau ke rumah cewek. Kamu lagi mimpi kan?"
"Beneran Bunda. Kalau nggak percaya tanya aja sama Abang."
Aira beralih menatap Reygan, memberi kode kepada Kakaknya untuk menjelaskan hal itu kepada Lidia. Reygan berdecak sebab mengerti akan tatapan itu. Menarik nafas dalam-dalam, dengan pasrah dirinya mendekat kearah kedua wanita yang ia sayangi.
"Benaran kamu ke rumah Rayina, Bang?" tanya Lidia. Reygan mengangguk. Sontak Lidia membekap mulutnya mengetahui hal itu. Wanita baruh baya itu kehabisan kata-kata melihat pengakuan putranya. Bahkan episode film di depannya sudah tak ia hiraukan.
"APA!!!"
Pekikan itu berasal dari Aldiano yang menguping dibalik tembok. "Abang, Ayah nggak mimpi dengar ini kan?"
Pecah sudah kesabaran yang Reygan tampung. Telinganya berdentum mendengar pekikan khas Ayahnya. Salahkah jika anggota keluarganya bisa diam sedikit saja jika sedang berkumpul bersama? Reygan lelah sendiri dibuatnya.
"Kenapa kaget?" tanya Reygan. Cowok itu heran. Memangnya salah jika ia mengunjungi rumah Rayina? Dirinya cowok normal seperti di luaran sana. Jadi wajar jika ia menghampiri rumah pacarnya. "Lagian aku datengin rumah pacar aku sendiri," lanjutnya.
"Hah!!!"
Anggota keluarganya kembali memekik. Benarkah itu seorang Reygan? Ohh Tuhan mujizat apa itu? Bagaimana mungkin putra Ravendra memiliki kekasih? Benarkan?
"Sejak kapan kamu jadian sama Rayina?" tanya Lidia.
"Dari tiga minggu yang lalu."
Mereka semua cengang mendengar penuturan Reygan. "Kenapa nggak kasih tau gue, Bang? tanya Aira.
"Malas."
"Kenapa Rayina nya nggak diajak ke rumah?" kini Aldiano yang bertanya.
"Takut kalian histeris," jawab Reygan enteng.
Meskipun sempat kaget mengetahui hal itu, semua anggota keluarganya lega mengetahui Reygan perlahan melupakan masa lalunya dan mulai membuka lembaran baru.
"Gue doain hubungan lo langgeng, Bang."
"Amin!" sahut semuanya kecuali Reygan. Cowok itu memilih mengaminkan ucapan Aira di dalam hati.
"Aku istirahat. Have a nice dream my lovely family. Take care for your sleep tonight," ucap Reygan kemudian bangkit tak lupa membawah tas dan jacketnya menuju kamar.
Anggota keluarganya tersenyum penuh arti kearah cowok itu. Sebelum bubar ke kamar masing-masing, telebih dahulu Lidia mengecup kening Aira dan mengucapkan selamat tidur untuk putri kesayangannya.
###
Sekian dulu.
Next part?
Tinggalkan jejak!
06/ 03/ 2021
Saputry_110804
KAMU SEDANG MEMBACA
Reygan & Rayina (END)
Roman pour AdolescentsMengisahkan tentang pertemuan dua insan karena suatu insiden yang tak terduga, yang mana insiden itu membuat mereka saling terikat satu sama lain tanpa disadari. "Lo gila hah!" "Maaf..." "Akal sehat lo mana, Rey?" "Gue takut!" Deg... Rayina mendeka...
