38.

241 14 14
                                        

Sekarang Rayina sibuk berkutat dengan ayam panggang yang ada ditanggannya. Cewek itu terlihat serius melumuri ayam itu dengan kecap manis. Rambutnya ia kuncirkan dengan leher jenjangnya sedikit terbuka sebab baju yang dipakainya cukup besar ditubuh mungilnya.

"Sayang, biar Bibi aja yang lanjutin. Kamu istirahat dulu. Daritadi kamu nggak istirahat sama sekali lho."

"Hehehe... nggak papa, Bi. Anggap aja ini olahraga. Oh iya Bi, teman-teman aku dimana?"

"Mereka lagi asyik main di depan. Kayaknya lagi serius banget main handphone."

Rayina mengangguk paham. Kemudian gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Bi, bisa minta tolong ambilin piring bundar di meja nggak? Aku mau naruh ayam ini disitu," pinta Rayina kepada Bi Inah.

Di lain sisi tepatnya di ruang tamu, Dinda, Tiara dan Alia terlihat serius memainkan benda pipih di tangan mereka.

"Ehhh, tumben si Rey nggak nemuin Rayina. Biasanya, setiap hari dia absen terus ke kelas," celetuk Tiara.

"Mungkin ada urusan pribadi. Apalagi dia ketua geng motor. Mungkin dia sibuk urusin anggota gengnya kali," jawab Alia.

"Tapi gue rasa bukan karena itu deh. Coba lo berdua pikir. Dua hari belakangan ini Reygan  jarang nemuin Rayina dan Galang selalu disuruh temuin Rayina buat awasin dia. Ditambah lagi, hari ini kita bertiga diharusin buat temanin Rayina sepanjang hari. Aneh kan? Jarang banget lho Galang kayak gitu," tambah Dinda.

"Bener. Kalau gue perhatiin Rayina juga sering melamun di kelas. Setiap gue tanya kenapa, pasti dia bakal jawab nggak papa," sahut Tiara.

"Histt... jangan net think. Mungkin Reygan punya urusan penting makanya dia nugasin cowok gue buat awasin Rayina. Kalian tau kan musuh Reygan banyak diluaran sana. Jadi nggak nutup kemungkinan Rayina bisa diseret juga sama musuh-musuh Arion. Mungkin itu alasannya Reygan nyuruh Galang buat awasin si polos Rayina," timpal Alia. Dinda dan Tiara yang hanya menggedik bahu pasrah mendengar itu.

Setelahnya mereka kembali fokus dengan kegiatan masing-masing. Keasyikkan ketiganya seperti tak terganggu terlihat dari beberapa bungkus snack yang sudah berserakan di meja bahkan bantal sofa sudah tak berada pada posisinya. Semuanya berserak indah di bawah dinginnya lantai rumah. Begitulah gambaran keadaan rumah jika keempat makhluk itu berkumpul dan bercanda ria.

"Woy, lo bertiga pada ngapain?" tanya Rayina sedikit berteriak dari arah dapur.

"Lagi napas, Ray."

"Lagi hidup."

"Lagi gerak."

"Gue nanya seruis, Njir. Bisa bantuin gue nyiapin makan siang nggak?" tanya Rayina lagi.

"Iya bentar!" sahut Alia mengajak Dinda dan Tiara bergegas ke dapur.

Ding! Dong!

Langkah ketikanya terhenti saat bel rumah itu berbunyi. "Siapa lagi sih? Gangguin aja deh."

"Buka dulu sana. Siapa tau orang penting."

"Bertiga. Gue nggak mau sendiri."

Tiara dan Alia menghela napas jengah menghadapi ulah Dinda. "Gini aja nggak bisa dilakuin sendiri, apalagi buat nyari doi," geruntu Tiara.

Saat pintu terbuka, ketiga cewek itu tergejolak melihat Reygan dan para sahabatnya bertengger manis didepan pintu dengan motor sport mereka terparkir indah di garasi.

"Rayinanya ada?" tanya Reygan tanpa basa-basi.

"Di-dia di dalam," jawab Dinda gagap. Bagaimana tidak, Reygan terlihat keren dengan fasion yang sedang ia kenakan.

Reygan & Rayina (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang