Riuh angin malam berhembus seakan membawah aura dan kesan tersendiri bagi seseorang yang duduk di suatu ruangan sambil memeluk kakinya dengan erat. Ada sebilah rasa yang tak bisa ia ungkapkan melalui kata-kata. Gemuruh perasaan yang mengalir dalam tubuhnya menghantam telak semua rasa belas kasihannya. Mungkin, rasa itu telah hilang bersamaan dengan udara yang ia rasakan.
"Lo dimana?" tanyanya saat sambungan telepon terhubung.
---
"Gue kesana sekarang."
###
"Nggak, ini terlalu berbahaya buat lo. Gue nggak setuju."
"Gue nggak peduli. Gue mau ikut."
"Ray, Vilton bukan lawan yang tepat buat lo. Gimana kalau terjadi sesuatu sama lo hah?"
"Gue nggak peduli, Lang. gue udah muak sama mereka semua. Kalau gue diam, mereka merasa menang. Apalagi Tania dan Safira yang udah incar gue dari awal."
Dahi Galang berkerut sebagai petanda cowok itu tak mengerti kemana arah pembicaraan Rayina. Di samping itu, Galang sangat cemas saat cewek itu mengatakan bahwa dirinya akan terlibat dalam tawuran. Galang akui jika Rayina pandai dalam hal bela diri. Tapi untuk masalah sekarang beda alurnya. Bisa saja Vilton menggunakan cara licik untuk melukai cewek itu.
"Ray, ini terlalu bahaya buat cewek kayak lo. Mendingan lo temanin Reygan di rumah sakit. Gue dengar kondisinya udah mulai stabil."
"Justru gue ada disini karena mau balas dendamnya Reygan. Gue udah tau semua rencana Alfa, Tania dan Safira. Mereka mau nyelakain gue, Lang. Dengan begitu, gampang buat mereka bikin Reygan menderita. Alih-alih menyekap Aira kemarin, sebenarnya tujuan awal mereka adalah nyelakain gue."
"Lo tau semuanya?"
"Iya. Waktu itu gue nggak sengaja dengar perbincangan mereka di toilet. Tapi gue telat kemarin. Makanya plis, izinin gue sekarang membalas semuanya."
Arkan dan Risko saling menatap memberi pendapat sementara Galang mati-matian menahan marah yang siap tumpah saat itu juga. Cowok itu terlihat mengacak rambutnya dengan kasar untuk melampiaskan emosinya. Wajahnya memerah disertai dengan tatapan tajamnya yang membunuh.
"Biarin dia ikut, Lang. Nggak usah khawatir. Ada kita disana yang bakal pantau semuanya."
"Tapi ko..."
"Setidaknya Rayina bisa melampiaskan semua amarahnya. Biarin dia ikut. Percaya sama gue."
"Gue setuju. Bang Arkan bakal lindungin dia disana. Lo tenang aja dan percaya sama kita. Iya nggak Ray?"
Rayina tersenyum sambil mengangguk.
Beberapa saat kemudian Galang bergeming cukup lama sebelum memutuskan semuanya. Semoga saja keputusannya saat ini adalah pilihan yang tepat. Jangan sampai keputusannya membawah malapetaka baru.
"Ok, lo boleh ikut tapi dengan satu syarat. Kasih kode ke kita kalau keadaannya udah genting. Vilton licik banget dan mereka bisa melakukan cara apa saja buat nyelakain lo. Jadi gue minta lo hati-hati yah. Jangan gegabah hadapin mereka."
"Yes!!!" sorak Rayina. "Gue bakal ingat semua perkataan lo. Tenang aja," lanjutnya kelewatan santai tanpa rasa takut sedikitpun. Dalam hati cewek itu bersorak riang. "Rey, gue bakal balas semuanya. Tunggu gue yah."
###
Brak!!!
Rayina menendang pintu basecamp Vilton dengan kuat. Dalam satu hentakan, pintu itu sudah roboh. Dengan gagah berani, Rayina berdiri disana sambil memasang senyum miring membuat siapa saja yang meliat itu merinding. Semua anggota Arion sempat kaget melihat aksi gila kekasih ketua mereka. Cewek itu lebih liar dibandingkan dengan apa yang mereka pikirkan. Terlebih lagi Galang. Cowok itu hanya memasang wajah bengong melihat semua aksi gila Rayina. Jika Reygan sadar nanti, Galang akan menceritakan semua yang dia lihat malam ini. Bagaimana amarah terpancar pada wajah kekasih sahabatnya itu dan bagaimana Rayina berjalan tanpa takut kearah Vilton. Bahkan hadirnya cewek itu seperti menggantikan posisi Reygan sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reygan & Rayina (END)
Fiksi RemajaMengisahkan tentang pertemuan dua insan karena suatu insiden yang tak terduga, yang mana insiden itu membuat mereka saling terikat satu sama lain tanpa disadari. "Lo gila hah!" "Maaf..." "Akal sehat lo mana, Rey?" "Gue takut!" Deg... Rayina mendeka...
