Seperti yang sudah direncanakan, para remaja itu telah berada di salah satu Restoran mewah kota itu.
"Lo mau pesan apa, Ray?" tanya Alia.
"Milk shake aja," jawab Rayina. "Lo sendiri mau pesan apa?"
"Gue nggak doyan apa-apa," jawab Alia sekenanya.
Setelah mengatakan itu, keduanya sama-sama bungkam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Kata-kata yang Reygan ucapkan saat berada dalam mobil selalu menghantui Rayina. Sepertinya pikiran cewek itu terbagi memikirkan hal itu.
"Gue takut lo ninggalin gue, Ray. Gue nggak mau lo kayak dia yang ninggalin gue gitu aja."
"Dia? Dia yang Reygan maksud siapa? Apa mungkin mantan ceweknya? Atau nggak mantan tunangannya? Kalau beneran tunangan, kok bisa mereka tunangan secepat itu?" monolog Rayina. "Udahlah, ngapain juga gue mikiran itu. Toh Reygan bukan siapa-siapa buat gue," lanjutnya.
"Ray, lo kenapa? Lagi mikirin apa? Ada apa, hm?" tanya Alia sedikit berbisik melihat Rayina bergeming.
"Nggak papa, bukan hal penting kok."
Jangan tanyakan keberadaan Tiara dan Dinda. Kedua cewek itu sepertinya sedang beradu bacot dengan kedua sahabat Reygan yang tak lain adalah Arkan dan Risko. Sementara itu,
Galang dan Reygan sibuk bermain ponsel. Sejak tiba di Restoran, kedua cowok itu sibuk mengotak-atik handphone dan mengabaikan kehadiran Rayina juga Alia.
"Al, kalau cowok udah main ponsel kayak mayat hidup yah? Liat tuh Galang sama Reygan. Dari tadi cuman diam main ponsel doang," bisik Rayina agar suaranya tak didengar oleh kedua cowok itu.
"Rata-rata cowok kayak gitu. Gue kasih tau nih yah, cowok bakal ngamuk kalau kita gangguin dia pas lagi serius. Apalagi kalau benda kesayangannya direbut. Buih... jangan ditanya, pasti kena tonjok dari dia. Kalau lo nggak percaya, coba lo gangguin Reygan," jelas Alia guna memancing Rayina untuk menggangu cowok itu.
"Dih ogah. Gue nggak punya nyali buat gangguin si Es Batu ini. Lagian, buat apa coba gue gangguin dia? Kurang kerjaan tau nggak," jawab Rayina. "Btw, ternyata serem juga yah kalau cowok marah. Ngeri gue dengernya."
"Ya emang harus gitu, bego. Buat mereka apa yang mereka sayang harus mereka jaga."
"Sama kayak lo berdua buat kita."
Suara bariton Reygan mengalihkan atensi keduanya.
"Gue ataupun Galang bakalan marah kalau lo berdua diapa-pain sama cowok lain," lanjut cowok itu.
"Bukannya lo berdua lebih sayang sama ponsel? Satu lagi, gue ataupun Alia bukan cewek lo berdua," tutur Rayina yang teramat polos.
Di sampingnya duduk, Alia mengumpat pelan mendengar itu. Bagaimana mungkin pertanyaan sepolos itu Rayina lontarkan kepada Reygan dan Galang? Bagaimana reaksi keduannya mendengar pertanyaan bodoh itu?
"Ray, bisa nggak sih kepolosan lo dikurangi dikit?"
"Lho, kan gue nanya sesuai fakta, Al. Bukannya dari tadi Galang sama Reygan lebih pentingin ponsel daripada kita?" jawab Rayina dengan lugu membuat Alia menggaruk keningnya berusaha untuk menutup malu. Dalam hati, cewek itu tak berhenti merutuki kebodohan sahabatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reygan & Rayina (END)
Roman pour AdolescentsMengisahkan tentang pertemuan dua insan karena suatu insiden yang tak terduga, yang mana insiden itu membuat mereka saling terikat satu sama lain tanpa disadari. "Lo gila hah!" "Maaf..." "Akal sehat lo mana, Rey?" "Gue takut!" Deg... Rayina mendeka...
