03.

831 39 24
                                        

Pagi itu cuaca cukup cerah dengan langit biru nan indah menambah kesan eksotis pada cakrawala. Namun berbanding terbalik dengan suasana hati seorang gadis yang melangkah lesu memasuki pelantaran sekolahnya.

"Ray!!!" panggil Dinda.

"Woy, bengong aja lo," sentak Tiara menepuk pundak Rayina dan membuyarkan lamunannya.

Rayina mengeryit saat tiba-tiba para sahabatnya menghapiri dia. "Sejak kapan kalian disini?"

"Sijik kipin kilian disini?" ucap Alia menye-menye dan memutar bola matanya. "lo mikirin apa, Ray? Kebiasaan bengong mulu."

"He'em. Lo mikirin apa sih? cerita sama kita kalau ada masalah," timpal Tiara.

"Nggak ada. Lagi mikirin tugas sekolah aja," alibi Rayina.

"Ohh gitu... Kirain ada masalah," ujar Dinda menepuk pundak Rayina yang dibalas senyum cangung oleh lawannya.

"Masuk yuk, keburu bel bunyi!" ajak Rayina mengalihkan topik pembicaraan.

Mereka menganguk setuju dan melangkah memasuki gedung megah SMA GARUDA. Saat menginjakkan kaki di pelantaran sekolah, keempat cewek itu menjadi sorotan dan tontonan banyak pasang mata. Tak heran jika hal itu terjadi, secara kan keempatnya adalah most wanted girl sekolah itu.

"Jadi cewek cantik akibatnya gede banget," bisik Dinda dengan percaya dirinya dan terus melangkah dengan tampang songong.

###

"Lo kenapa, Rey?" tanya Risko merasa khawatir terhadap Reygan. Bagaimana tidak? sahabatnya terlihat sangat pucat saat itu.

"Rey, kalau ngerasa nggak enak badan mending ke UKS deh. Muka lo pucet banget," sambung Arkan. Jika Arkan selalu dicap sebagai sahabat yang paling goblog, maka semua itu akan berubah menjadi bijaksana apabila dia melihat sahabatnya dalam keadaan memprihatikan seperti yang terjadi pada Reygan.

"Arkan bener," sahut Galang.

"Gue nggak papa."

Sejujurnya kepala Reygan sangat pusing. Bundanya sempat melarang cowok itu masuk sekolah melihat kondisi putranya yang mencemaskan. Namun sebisa mungkin Reygan membujuk Lidia dan alhasil wanita paruh baya itu mengizinkannya. Cowok itu yakin rasa pusing yang dialaminya timbul akibat pukulan balok kayu saat tawuran.

Semakin lama kondisi Reygan semakin membuat sahabatnya khawatir. Galang yang berada disampingnya merasa was-was melihat air wajah Reygan bertambah pucat dan sedang tidak baik-baik saja.

Menghilangkan perasaan buruk itu, Galang berusaha tenang dan beralih meraih buku di laci mejanya. Sementara itu Arkan bermain game di ponselnya dan Risko sibuk menata rambutnya yang berantakan. Hingga tibalah waktunya guru matematika memasuki kelas mereka.

"Selamat pagi anak-anak."

"Pagi Bu," jawab semua murid dengan kompak kecuali Reygan yang memejam mata berusaha menahan sakit yang kian menjadi di kepalanya. Denyut sakit itu membuat pandangannya memburam. Jika Galang tak sempat menyenggolnya, dapat dipastikan cowok itu akan berakhir pingsan saat itu juga.

"Hari ini nggak ada proses KBM. Para guru sedang mengadakan rapat," jelas Bu Angel.

"Asyik, jam kosong dong!!!" seru mereka. Jangan tanyakan seberapa bahagianya mereka mengetahui proses KBM ditiadakan hingga jam pelajaran terakhir.

"Kalau gitu ibu permisi."

Tak lama kemudian, semua murid mulai meninggalkan kelas. Ada yang ke kantin dan ada juga yang ke taman samping sekolah sekedar menghirup udara segar.

Reygan & Rayina (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang