14.

461 31 6
                                        

Panasnya sinar matahari seakan mampu membakar kulit semua orang yang berjemur di bawahnya. Suasana rooftop kali ini sangat sepi menambah kesan sedih bagi seorang cewek yang berdiri disitu. Pancaran mata penuh luka serta tetesan air matanya terlihat sangat memilukan.

"Ke-kenapa, Lang? Kenapa... lo tega lakuin ini ke gue?" isaknya. "Apa salah gue, Lang? Dulu... lo selalu jadi orang kebanggaan gue, tapi kenapa lo kayak gini?" lanjutnya membuat oksigen yang dihirup kian terasa sesak masuk kedalam paru-parunya.

Drett....

Drett....

Drett....

Getaran ponsel membuat isakkan Alia berhenti. Di raihnya benda pipih itu kemudian menekan ikon hijau pada layar untuk mengangkat panggilannya.

"Gue nggak masuk. Gue balik sekarang!" ucapnya to the point kepada Dinda lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak. Iya, Dindalah yang meneleponya.

Di seberang sana, Dinda bingung mendengar suara parau Alia. "Al kenapa yah?" tanyanya pada diri sendiri.

"Gimana Din? Alia udah ada kabar?" tanya Tiara.

"Dia balik duluan. Tapi tuh bocah nggak kasih alasan jelas kenapa dia balik cepat. Jarang-jarang lho dia kayak gini. Terus pas dia angkat telepon gue, gue dengar suaranya kayak abis nangis gitu," jelas Dinda.

"Gue khawatir sama dia, pasti Al punya masalah deh," kini Rayina yang bersuara. 5 menit yang lalu Reygan sudah berlalu dari kelasnya, bertepatan dengan para sahabatnya masuk kelas. Jadi, interaksi antara dirinya dan Reygan masih luput dari penglihatan para sahabatnya.

"Iya nih. Kita berdoa aja semoga Al baik-baik aja," sungut Dinda dan diangguki antusias oleh Rayina dan Tiara.

###

"Anjir, si beruang kutub selatan kemana sih? Tadi cuman bilang ke toilet, kok lama gini? Gue khawatir tuh anak sembelit," tanya Arkan ceplas-ceplos.

"Kan, lo lagi cari siapa sih? Siapa beruang kutub selatan yang lo maksud? Gue heran, kenapa lo suka banget gantiin nama panggilan orang?" tanya Risko. Kadang dirinya bingung kenapa Arkan bisa sebego itu. Dulu Emaknya makan apa sampai bisa lahirin anak segoblog Arkan? Ahhh... memikirkan saja membuat Risko pusing sendiri.

"Yah siapa lagi kalau bukan Galang. Beruang kutub utaranya kan ada disini. Tanpa gue jelasin lo juga udah tau beruang kutub utara yang gue maksud siapa," jelas Arkan sontak membuat kilatan marah di mata Reygan.

"Lo bilang apa?" tanya Reygan tajam. Cowok itu tahu yang dimaksud Arkan adalah dirinya.

"Ampun Bang jago," jawab Arkan meminta maaf sambil menyatukan kedua tangannya didepan dada lalu mengoyangkan tubuhnya mengikuti ragam lagu itu seperti yang sering muncul pada beranda instagramnya. Risko hanya diam memperhatikan Arkan sambil menggelengkan kepala. Apes sekali rasanya mendapati sahabat sinting seperti itu.

"Mau merah apa hijau, Kan?" tanya Reygan.

"Nggak mau dua-duanya," jawab Arkan antusias.

Merah dan hijau yang Reygan maksud adalah kode pilihan bagi Arkan. Merah adalah kode dari tonjok dan hijau adalah kode dari tendang. Kode-kodean itu akan diajukan Reygan kepada para sahabatnya jika ingin beradu otot satu sama lain. Catatan, kode itu hanya berlaku bagi keempat manusia itu.

Reygan & Rayina (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang