Pagi itu ruang makan keluarga Ravendra sedang dihuni oleh keempat makhluk yang sedang menikmati sarapan. Matahari pagi yang sejuk dengan kilauan cahaya orange yang hangat seakan membawah semangat untuk mereka. Waktu telah menunjukkan pukul 06:15 yang berarti sebentar lagi anak dari sepasang suami istri itu akan berangkat sekolah.
"Aku pamit," tutur Reygan.
"Masih pagi banget, Bang. Biasanya lo berangkat pukul 07:08. Tumben lo berangkat pagi. Hmm... jangan bilang lo mau ke rumah kak Rayina," ucap Aira sambil memicing mata mengintrogasi Reygan.
"Sok tau lo," jawab Reygan kemudian bangkit menyalimi tangan kedua orang tuanya dan beranjak pergi.
"Anak kita udah gede yah, Bun. Ayah merasa kayak baru kemarin Ayah gendong Reygan dan dia mewek-mewek minta dibeliin es krim. Ehhh sekarang udah gede aja," tutur Aldiano.
"Hehehe... Bunda juga sama kayak Ayah. Dulu Reygan manja banget sifatnya. Tapi sekarang berlawan. Bahkan 360° berubah total. Bunda jadi kangen sama Reygan yang dulu," balas Lidia dengan kekehan khasnya.
"Meskipun Abang dingin kayak es, Rara sayang banget sama dia. Nggak tau deh hidup Rara bakal kayak gimana kalau Abang nggak ada. Mungkin... hidup Rara nggak ada artinya," curhat Aira.
Demikianlah mereka membicarakan Reygan. Sampai akhirnya Aira berpamitan ke sekolah.
###
Disinilah Reygan berada. Ditempat dimana ia menumukan jati dirinya. Tempat itu terlihat kumuh namun memiliki banyak kisah yang takkan tergantikan dalam hidup Reygan. Disitulah ia mendirikan Arion dengan solidaritas tinggi yang mereka miliki. Tak mudah baginya mengumpulkan ratusan anak untuk bergabung dengan geng yang ia bentuk.
Perlahan Reygan melangkah masuk ke dalam gedung itu dengan gerakan lamban. Terlihat jelas oleh kudua matanya, di depan sana asap rokok mengepul dari dalam basecamp menandakan gedung itu berpenghuni. Reygan tersenyum sesaat membayangkan bagaimana jerih payahnya ia menemukan gedung itu.
"Bos! Sejak kapan disini?" celetuk Bima. Cowok itu telah mengenakan seragam sama seperti yang Reygan kenakan. Jangan salah mengira jika Bima ingin berangkat sekolah tepat waktu. Cowok itu mengenakan seragam sekolahnya lebih awal karena semalam ia menginap bersama Arkan, Galang, Risko dan Oskar serta beberapa teman lainnya di basecamp. Jadi, dia harus mempersiapkan diri lebih awal agar yang lainnya kebagian waktu mempersiapkan diri ke sekolah.
"Sejak lo nanya," jawab Reygan enteng.
Bima berdelik mendengar jawaban Reygan. Tak pernah sehari saja ketuanya itu bersikap manis terhadap anggotanya. Namun dibalik sikap cuek itu, Reygan sangat menyayangi Arion. Baginya mereka adalah orang yang selalu mensupportnya. Bersama Arion Reygan bisa merasakan hangatnya sebuah keluarga meski terlahir dari darah yang berbeda. Dari mereka Reygan belajar menanam solidaritas tanpa batas. Meski dimata orang lain Arion adalah geng sampah, dihati para anggotanya Arion adalah geng motor yang perkasa. Mereka kerap kali membantu orang diluaran sana, hanya saja orang selalu menganggapnya sebelah mata.
"Hoamm... sumpah gue masih ngantuk banget, anjir," celetuk Arkan dengan muka khas bangun tidurnya dan menghampiri Reygan.
"Nggak usah ngomong, Nyet. Mulut lo bau tau," protes Risko yang sudah bergabung bersama mereka.
"Bodo amat! Yang penting gue ganteng," jawab Arkan kemudian berbalik masuk kedalam basecamp bersiap-siap berangkat sekolah.
"Gue cabut," pamit Reygan.
"Mau kemana lo? tanya Risko.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reygan & Rayina (END)
Novela JuvenilMengisahkan tentang pertemuan dua insan karena suatu insiden yang tak terduga, yang mana insiden itu membuat mereka saling terikat satu sama lain tanpa disadari. "Lo gila hah!" "Maaf..." "Akal sehat lo mana, Rey?" "Gue takut!" Deg... Rayina mendeka...
