52.

243 7 0
                                        

Seperti biasa Reygan mejalani harinya seakan tak terjadi apa-apa. Cowok itu bahkan lebih tertutup sekarang. Apalagi setelah terjadi perdebatan antara dirinya dan Aira. Cowok itu berubah drastis. Dari yang awalnya dia akan sering menemui adiknya di kelas, sekarang perlahan ia hilangkan kebiasaan itu. Dirinya lebih belajar untuk menerima semua takdir yang terjadi sekarang. Bahkan belakangan ini Reygan jarang menemui Rayina. Reygan ingin cewek itu terbiasa tanpa dirinya. Tapi sekeras apapun ia menghindar, cewek itu akan menghampirinya.

"Kenapa lo kesini?" tanya Reygan dengan nada dingin kepada Rayina.

"Emang nggak boleh?" Jawab Rayina terdengar sinis. "Yang ada lo yang sering samperin gue. Terus apa salahnya kalau gue samperin lo sekarang?"

"Gue lagi sibuk. Lo balik aja deh."

"Sibuk? Sibuk melamun maksud lo? Dari tadi gue perhatiin lo bengong mulu. Itu yang namanya sibuk? Hahaha tolol lo!"

Reygan menatap Rayina tajam saat cewek itu menyebut dirinya tolol. Yang ditatap hanya membalasnya dengan senyuman manis. Reygan tak bisa bohong jika dirinya tak mampu memarahi cewek itu. Yah, dia lemah jika berurusan dengan Rayina.

"Pulang sekarang," ucapnya dengan nada dingin.

"Nggak!"

"Pulang."

"Nggak."

"PULANG!"

Rayina kaget mendengar Reygan membentaknya. Lantas cewek itu menatap Reygan dengan lamat.

"Lo bentak gue?"

"Menurut lo?" Bukannya minta maaf, Reygan malah memancing emosi Rayina.

"Gue ada salah sama lo? Kenapa lo nyebelin banget sih hari ini?"

Reygan tak menyahut. Jika boleh jujur dia tak tega melakukan semuanya. "Pulang sekarang sebelum gue berubah pikiran."

"Ok fine! Gue balik. Jangan pulang telat. Aira khawatirin lo." Rayina mengalah dan beranjak pergi.

Setelah dirasa cewek itu telah menghilang dari pandangan matanya, Reygan tertawa miris. "Khawatir? Bahkan Aira harapin gue mati sekarang."

"Aaahhhh!!! Kenapa gue harus alamin ini semua? Apa salah gue? Kenapa gue dihukum kayak gini? Kenapa woy!!!"

Biarlah begini. Reygan ingin meneriaki takdir yang tak adil terhadapnya. Biarlah ia berteriak dan bertanya kepada semesta akan nasibnya sekarang.

###

Matahari sore tampak berwarna jingga. Sebentar lagi dunia akan memeluk malam. Di sebuah bukit, seseorang sedang menikmati senja itu dengan merentangkan tangannya. Sejak 3 jam yang lalu, cowok itu sudah berada di tempat itu entah apa yang akan ia lakukan. Tempat itu mengingatkannya pada seorang yang special di dalam hidupnya. Kenangan itu terlalu indah untuk diingat Kembali.

Dret...dret...dret...

"Kenapa?" tanyanya singkat saat sambungan telepon sudah terhubung.

"Mau liat adek lo nggak? Kayaknya dia kesakitan tuh."

Reygan berubah marah saat nama Aira disebut. "Jangan sentuh dia!"

"Sayang sekali. Kayaknya tangannya berdarah deh. Bajunya udah kusut banget. Kasian gue liatnya."

"Bangsat! Lepasin adek gue."

"Emm... gue bakal lepasin dia asalkan lo temuin gue. Tapi dengan satu syarat, jangan bawah orang lain selain lo atau nyawa Aira dalam bahaya."

"Shit! Share lock sekarang bangsat!

Setelahnya sambungan telepon terputus bersamaan dengan munculnya sebuah notif dari handphone Reygan. Tak menunggu waktu lama, cowok itu beranjak dari sana menuju tempat adiknya berada tepatnya tempat dimana adiknya disandera.

Reygan & Rayina (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang