Siang itu, sinar sang surya terbit pada suhu terik yang cukup tinggi. Hal demikian membuat seluruh penghuni global enggan melakukan kegiatan yang menguras tenaga meski hari itu adalah hari libur. Untuk sebagian kecil orang, mereka memilih membeli snack dan beberapa minuman ringan guna menyegarkan tenggorokan tanpa terkecuali Aira. Cewek itu terlihat sedang berjalan santai mengelilingi Toko dan mencari snack serta minuman kesukaannya.
Dugh!
"Aduh!"
Semua belanjaan yang Aira pegang jatuh berserakan saat seseorang tak sengaja menabraknya.
"Kalau jalan liat-liat dong!" omel cewek itu.
"Sorry..sorry! Tadi gue buru-buru soalnya," jawab sang pelaku sambil membantu Aira memungut kembali barang-barangnya.
"Apes banget nasib gue hari ini. Udah panas, ditabrak orang lagi," geruntu cewek itu sambil menatap cowok di depannya.
"Anjir, ternyata yang nabrak gue cogan. Kalau kayak gini mah bukan musibah namanya. Ini mah rezeki nomplok!" jerit Aira dalam hati sambil manatap lawannya tanpa kedip.
"Hei!" panggil cowok itu sambil melambaikan tangannya depan wajah Aira berusaha menyadarkan cewek itu.
"Ehh iya, kenapa?"
"Kenalin, nama gue Alfa. Sekali lagi gue minta maaf karena nabrak lo. Sumpah, tadi gue nggak sengaja. Kalau nanti lo mau ganti rugi, lo tinggal hubungin gue pakai nomor ini," tutur Alfa sambil menyerahkan nomor ponselnya. "Gue cabut sekarang," lanjutnya sambil berlalu pergi.
"Ehh tapi kan-"
Sayang, cowok itu telah pergi dan mengabaikan teriakkan Aira. Setelah lama bergeming, diam-diam cewek itu tersenyum melihat nomor yang Alfa berikan dan membayangkan wajah cowok itu. "Ganteng," gumam Aira lalu berlalu ke kasir dan membayar semua belanjaannya.
"Kerja bagus, Fa. Kayaknya, dia udah kepicut sama lo," desis Tania melihat reaksi Aira terhadap Alfa.
"Kan gue udah bilang, semuanya bakal tuntas dalam waktu singkat. Sekarang kita cuman perlu sedikit taktik buat jalanin rencana dengan sempurna."
###
"Woy! Kalau masuk rumah ucapin salam dulu. Jangan main nyelonos gitu aja. Kayak maling lo," tegur Reygan dari tempat duduknya melihat Aira masuk begitu saja tanpa mengucapkan salam.
"Lah Bun, kayaknya Rara udah gila deh. Bunda bisa liat kan dia senyum-senyum sendiri. Reygan jadi merinding. Itu anak stress kali yah?"
"Jangan ngadi-ngadi. Dulu kamu juga kayak dia pas awal-awal kenal Rayina. Dan Bunda pikir kayaknya adek kamu lagi falling love juga."
Mendengar itu Reygan diam. Beberapa saat kemudian cowok itu beranjak dari tempat duduknya saat Aira menghampiri sang Bunda yang duduk tepat di sampingnya. "Bisa gila kalau gue dengarin mereka cerita," gumam Reygan lalu meraih kunci motor dan pergi entah kemana.
"Bunda, tau nggak? Hari ini Rara ketemu cogan lho!" heboh Aira memulai perbincangan.
"Benaran! Ya ampun, kalian udah jadian?" tanya Lidia tak kalah heboh.
"Ya Kagaklah! Baru aja ketemu masa udah jadian," kesal Aira.
"Ya kan Bunda pikir dia langsung ajak kamu jadian. Padahal enggak. Mengsad!"
"Bun, mood Rara jadi ilang buat cerita. Udahlah mending Rara ke kamar aja," tutur Aira dengan raut kesal. Mendengar penuturan Lidia seperti itu moodnya jadi hancur berantakan. "Punya Bunda kok nggak ngerti banget?" geruntunya sambil menghentak kaki dengan kasar menuju kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reygan & Rayina (END)
Ficção AdolescenteMengisahkan tentang pertemuan dua insan karena suatu insiden yang tak terduga, yang mana insiden itu membuat mereka saling terikat satu sama lain tanpa disadari. "Lo gila hah!" "Maaf..." "Akal sehat lo mana, Rey?" "Gue takut!" Deg... Rayina mendeka...
