[SELESAI]
Zenata Soraya. Siswi cantik yang disegani di sekolahnya-SMA Houten. Barbar dan nakal adalah hal yang lumrah di kehidupannya. Menjahili guru adalah hobinya jika di sekolah.
Tiba saatnya seseorang datang dan ingin memasuki kehidupan Zena. M...
"Ingin perbaiki semuanya? Mari kita lakukan bersama-sama." — From Story Zenata
***************************
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SELAMAT MEMBACA ZENATA!
————————————
Satu malam di puncak dengan cuaca yang bukan main dinginnya telah dilalui dengan banyak cerita dan canda tawa oleh anak-anak angkatan kelas 11. Mulai dari tiba di tempat hingga sekarang di perjalanan menuju pulang mereka tidak henti-hentinya saling melemparkan canda tawa satu sama lain. Terlebih lagi Squad Zena, kalian sudah bisa menebak tentunya apa yang terjadi.
"Ngapain jauh-jauh ke Surabaya kalo cuma beli cendol," lanjut Reno tanpa beban.
"HUUUUUUUU!"
"Nggak asik lo Ren, pantun kok setengah-setengah," cibir Tedy.
"Abisnya gue tiba-tiba lupa lirik, maapin gue ya teman-teman."
"Nggak dimaapin, ayo cepet bikin pantun lagi!"
"Oke oke sebentar gue mikir dulu." Reno mengetuk-ngetuk dagunya beberapa saat. Kemudian cowok itu berdiri dan tersenyum semringah menatap Kila yang duduk di kursi tepat di hadapannya.
"Ada koala makan ikan sapu-sapu."
"Cakep!"
"Ayang Kila, ay lopyu tiga ribu!"
Tidak ada yang bisa menahan gelak tawanya mendengar pantun bucin dari Reno. Bahkan pak Budi pun ikut tergelak. Kila yang menjadi objek lirik dari pantun Reno pun hanya bisa menunduk malu seraya menahan tawanya.
Zikri seketika menoleh lalu menatap Reno tajam. Zikri tidak mengatakan apapun, ia hanya diam dengan tatapannya yang begitu menghunus.
"Zikri bisa pantun juga?" tanya Zena memandang Reno dan Zikri secara bergantian.
"Oh ya bisa dong," balas Reno cepat. Ia tak membiarkan Zikri untuk mengelak. "Ayo Mas Zikri, tunjukkan pesonamu!"
Zikri mendadak gugup di tempatnya. Tangannya tertaut dengan kedua matanya yang mengerjap-ngerjap.
"Nggak usah dipaksa, kalo kamu malu nggak pa-pa. Aku ngerti kok," ucap Zena pelan berusaha menenangkan.
"Maaf Ta, aku nggak bisa kayak Reno. Aku terlalu tertutup, maaf."
Zena menggeleng-gelengkan kepalanya. Zena menepis semua kalimat yang dilontarkan Zikri. "Sejujurnya, aku lebih suka cowok pendiam daripada rame kayak Reno. Dia malu-maluin," ujar Zena lalu terkekeh di ujung kalimatnya.