12. Maaf dan Pengungkapan

804 88 5
                                        

"Meyakinkan hati seseorang memang bukan hal yang mudah. Tapi aku akan berusaha untuk itu, untuk kamu." — Zikri Rafasya

——————————————

Malam ini Zikri berpakaian rapi. Atasannya ia memakai kaos berwarna hitam polos, dibalut dengan kemeja kotak-kotak berwarna army, serta celana jeans berwarna hitam. Jam tangan berwarna senada dengan celananya yang bertengger di tangan kirinya serta sneakers berwarna abu hitam menambah kadar ketampanan seorang Zikri Rafasya.

Sebenarnya mau pakai baju apapun kadar ketampanan Zikri tidak akan pernah berkurang. Pakaian apapun yang melekat di dirinya pasti akan terlihat pas dan cocok. Dasarnya sudah ganteng mah ya mau bagaimanapun tetep ganteng, orang ganteng mah bebas gais!

"Bun, Iki pergi dulu, ya," pamit Zikri pada Bu Liliana yang sedang membantu Stella mengerjakan tugas di ruang keluarga.

"Mau kemana, Bang? Rapih banget," tanya Stella sambil menilai penampilan Zikri dari atas sampai bawah.

"Ssttt. Anak kecil nggak boleh kepo."

Stella hanya mendengus mendengar jawaban Zikri. Lalu ia kembali fokus pada tugasnya.

"Ya bun, Iki berangkat dulu," pamit Zikri sekali lagi.

"Jangan malem-malem pulangnya," pesan Bu Liliana yang diangguki oleh Zikri.

"Ya udah kalo gitu Iki berangkat. Assalamualaikum," ucap Zikri sembari mencium tangan bundanya.

"Waalaikumssalam, hati-hati Bang."

Zikri mengacungkan jempol sebagai jawaban lalu berlari menuju motornya di garasi.

Semoga usaha kali ini bakalan berhasil, gue sayang sama lo, Zenata.

*******

Zena sudah berada di kafe bersama dengan Hemi dan Kila sejak lima menit yang lalu. Pengunjung kafe malam ini hanya sedikit. Maklum, malam ini kan bukan malam libur. Biasanya jika malam sabtu atau malam minggu pasti kafe ini sesak oleh pengunjung.

Rata-rata pengunjung ya kaum ambyar seperti Zena dan kedua sahabatnya. Padahal banyak cowok yang sudah me-notice mereka bertiga. Tapi dasarnya saja mereka memang tidak berniat untuk pacaran. Katanya,  pacaran itu ribet dan buang-buang waktu saja. Mungkin sekarang boleh bilang begitu, tapi lihat saja nanti jika sudah saatnya.

"Kalian mau minum apa?" tanya Kila yang seketika membuyarkan lamunan Zena.

"Thai tea pake boba ya," pesan Zena.

"Tumben, biasanya kopi plus susunya banyakin," cibir Hemi yang sudah sangat hafal dengan minuman kesukaan Zena.

"Lagi nggak dulu deh. Nyokap marahin gue gara-gara keseringan minum kopi, kesel kan gue jadinya," curhat Zena sambil mengerucutkan bibirnya.

"Ya abisnya lo minum kopi sampe lupa makan. Belum lagi jam tidur lo yang nggak teratur. Khawatirlah pasti orang tua lo. Bukan hanya orang tua lo yang khawatir, gue juga pastinya," omel Hemi menatap lurus ke arah Zena.

Zena hanya nyengir mendengar omelan Hemi. Sahabat nya ini memang sangat perhatian padanya.

"Iya, Na. Lo harus kurang-kurangin lah minum kopi. Nggak baik tau nggak." Kini giliran Kila yang menasehati Zena.

"Iya iya ah bawel," ketus Zena.

"Kalo kita nggak sayang sama lo, mana mungkin kita buang-buang tenaga demi nasehatin lo. Nggak penting tau nggak," kata Hemi sarkas.

ZENATATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang