"Gerombolan bukan berarti tawuran." — IPS 1-8
"Selagi gue bisa kasih apa yang temen-temen gue minta, kenapa enggak?" — Zenata Soraya
————————————
"Ya ampun Zena lo ke mana aja, sih?"
Itu dia Kila Anisa. Cewek cerewet dengan suara toa yang pernah ada di seantaro dunia. Berparas cantik dan lucu. Kulitnya putih, rambutnya pirang kecoklatan asli. Kila ini blasteran. Katanya sih Korea-Indonesia. Wajar saja jika wajahnya ada racikan bulenya. Sedikit lemot tapi selalu bisa mencairkan suasana.
Zena menutup telinganya rapat-rapat, itu bahaya, bisa merusak ketenangan gendang telinganya. Semua orang juga tahu, jika Kila memiliki suara yang sangat merdu (merusak dunia).
Zena melirik Kila sekilas lalu duduk di kursinya. "Berisik banget Kila!"
Kila nyengir sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya maaf, abisnya lo gue telponin juga nggak diangkat-angkat. Kan gue khawatir sama lo, untung aja gurunya nggak masuk hari ini," jelas Kila panjang lebar dengan mata yang tertuju pada Zena.
Zena hanya menghela nafas lalu menelungkupkan wajahnya di atas lipatan tangannya.
"Ishh lo bener-bener ya! Gue ngomong nggak didengerin!" Kila ngomel-ngomel tidak jelas. Ia tidak terima jika penjelasannya diabaikan. Tapi sepertinya ini sudah biasa, dan akan terus menjadi sebuah kebiasaan.
"Woy, Kil! Zena udah dateng bel—" Ucapan Hemi terpotong ketika melihat bangku Zena yang sudah terisi oleh pemiliknya. "Lah, kapan ini bocah satu dateng?" heran Hemi.
Itu dia Hemi Pranika. Tinggi, lebih tinggi dari Zena dan Kila. Kira-kira tingginya 170 cm. Sedangkan Zena dan Kila sama, yaitu 165 cm. Kulit putih, anggun sekaligus tomboy menjadi daya tarik tersendiri dalam diri Hemi.
Hemi dan Kila adalah sahabat Zena sejak pertama kali masuk SMA. Mereka bertemu saat MOS. Sampai saat ini persahabatan mereka rukun-rukum saja. Semuanya saling percaya dan menjaga.
"Baru aja," jawab Kila.
"Baru aja tapi udah tidur pules kayak gitu?"
"Ya lo kayak nggak tau temen lo aja. Gue tebak semalem ini anak abis main catur sama Bang Idan," celetuk Kila.
"Dan dia kalah terus kena hukum," sambung Hemi.
"Nggak usah ngomongin gue ya kalian, gue bisa denger loh," sahut Zena masih di posisi yang sama.
Kila dan Hemi saling pandang. Keduanya lantas meneguk ludah. Semoga dunia akan baik-baik saja setelah ini.
*******
"Perhatian untuk teman-teman gue yang budiman! Hari ini gue traktir makan di warungnya Teh Ismi, cepetan semuanya ikut gue!" Zena berteriak di depan kelas. Menyerukan pada teman-temannya bahwa hari ini ia akan membagi rezeki. Seketika seisi kelas pun berdiri dan mengikuti Zena dari belakang.
Lorong kelas menjadi sangat padat. Siswa-siswi yang berlalu terpaksa menyingkirkan dirinya terlebih dahulu untuk memberi jalan pada gerombolan Zena dkk. Bagaimana tidak padat? Zena tidak hanya mengajak teman sekelasnya, melainkan teman seangkatannya juga yang mengambil jurusan IPS. Mulai dari kelas 11 Ips 1 - 11 Ips 8. Nggak kebayang kan 8 kelas berjalan menjadi satu, dengan setiap anggota kelas berjumlah 30-40 siswa.
Benar-benar warbyazahh gais!!
"Eh eh ada apa ini? Kok gerombolan kayak gini? Mau pada tawuran, ya, kalian?" Pak Budi tiba-tiba muncul dari kelas yang dilewati gerombolan manusia tersebut. Wajahnya terlihat heran dan bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZENATA
Fiksi Remaja[SELESAI] Zenata Soraya. Siswi cantik yang disegani di sekolahnya-SMA Houten. Barbar dan nakal adalah hal yang lumrah di kehidupannya. Menjahili guru adalah hobinya jika di sekolah. Tiba saatnya seseorang datang dan ingin memasuki kehidupan Zena. M...
