[SELESAI]
Zenata Soraya. Siswi cantik yang disegani di sekolahnya-SMA Houten. Barbar dan nakal adalah hal yang lumrah di kehidupannya. Menjahili guru adalah hobinya jika di sekolah.
Tiba saatnya seseorang datang dan ingin memasuki kehidupan Zena. M...
"Ketika seseorang sudah terlanjur sayang, apapun permintaannya pasti akan dikabulkan. Walaupun permintaan itu sangat menyakitkan." — From Story Zenata
*****
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
JANGAN LUPA APRESIASINYA!
SELAMAT MEMBACA!
———————
Zena turun dari motor Jemi. Cewek itu melepas helmnya. Ia sebenarnya tidak enak dengan Jemi, perkataannya tadi mungkin sudah keterlaluan. Secara tidak langsung ia berniat untuk menjadikan Jemi sebagai pelampiasan jika hubungannya dengan Zikri kandas di tengah jalan.
Matanya tak berani menatap Jemi. Tangannya terulur memberikan helm yang tadi dipakainya. Kepalanya terus menunduk. Aura Jemi sangat kuat untuk ia rasakan.
"Kenapa nunduk terus, sih?" ketus Jemi. "Liat sini, gue mau pulang, nih, masa iya nggak liat muka lo dulu."
Zena bergeming. Cewek itu menggigit kecil-kecil bibir dalamnya.
"Angkat kepalamu princess nanti mahkotamu jatuh," ucap Jemi lembut. Ia mengangkat dagu Zena, kini kedua mata mereka saling beradu pandang.
"Maaf—"
"Sssttt," sela Jemi. "Jangan pernah minta maaf atas kesalahan yang jelas-jelas nggak pernah lo lakukan."
"Gue salah, Jem. Gue salah. Lo sangat baik sama gue, tapi gue nggak bisa sedikit pun balas kebaikan lo. Gue malahan secara tidak langsung berniat untuk jadiin lo pelampiasan. Gue minta maaf, Jem. Maksud gue bukan gitu," jelas Zena panjang lebar dengan nafas yang sedikit tersengal.
Dengan santainya Jemi tersenyum, cowok itu tidak merasa terbebani sama sekali. Ia malah mengelus puncak kepala Zena lembut. Bibirnya terus menyunggingkan senyum.
Dahi Zena mengkerut. Dalam benaknya ia bertanya, ada apa gerangan cowok di depannya ini?
"Sebesar apapun kesalahan yang lo perbuat, gue nggak akan pernah marah. Mana bisa gue marah sama orang yang gue sayang?"
"Ta... Tapi Jem—"
"Udah masuk sana. Salam buat Bang Idan, bilangin kapan-kapan gue bakal ajakin dia main PS. Dan dia nggak boleh nolak."
Zena mengangguk dua kali sebagai jawaban. Mata cewek itu masih terlihat sendu.
"Jangan nangis, ya?" kata Jemi lembut. Cowok itu memandang Zena penuh kekhawatiran.
"Kenapa nggak boleh nangis?" tanya Zena dengan polosnya.
"Air mata lo terlalu berharga buat nangisin orang kayak dia."
"Kalau capek, berhenti dulu, istirahat. Setelah itu, lanjut lagi. Jangan pernah ambil keputusan pas capek, nanti lo menyesal."
Zena benar-benar tertegun dengan ucapan Jemi. Cowok di depannya ini benar-benar sudah dewasa. Terbukti dari kata-katanya yang perlahan membuat Zena sadar bahwa selama ini yang ia lakukan itu salah.