6. The Power of Dad&Ziki

1.2K 113 12
                                        

"Ayah adalah cinta pertama anak gadisnya. Pelindung di garis terdepan, penyemangat di setiap detik kehidupan." — From Story Zenata

"Kepercayaan itu mahal harganya. Sekali dinodai maka rasa percaya itu tidak akan pernah sama lagi." — From Story Zenata

——————————————

Sementara itu Zena sudah sampai di sirquit tempat ia balapan seperti biasanya. Zena tidak sendiri, ada Reno dan Oki yang menemani. Dua orang itu yang akan menyemangatinya malam ini.

Reno dan Oki sebelumnya melarang Zena untuk ikut balapan. Sebab yang dibilang sirquit itu ternyata bukan sirquit yang seperti di tv, melainkan jalan raya yang jelas-jelas digunakan untuk kepentingan umum.

Sebesar apapun usaha Reno melarang, Zena ya tetap Zena. Yang akan keukeuh dengan pendiriannya. Siapapun tidak ada yang boleh mengganggu gugat. Baik itu Papanya sendiri. Mau tidak mau, ingin tidak ingin, Reno mengizinkan dengan satu syarat, ia harus ikut kesana dan mengajak Oki ikut serta. Zena tersenyum dan mengiyakan.

"Ehh Ren, cepet dong daftarin gue," titah Zena girang setelah melihat balapan ilegal di depannya.


"Iya iya bentar," Reno segera menuju tempat pendaftaran untuk menambahkan nama Zena di list orang-orang yang akan balapan malam ini.

"Ray, emang lo beneran mau ikutan? Nanti bokap lu marah pegimane?" tanya Oki memastikan Zena sekali lagi. Ia sangat khawatir jika nanti terjadi apa-apa pada Zena. Ia juga takut nanti Papanya Zena akan mengamuk padanya jika ia tidak bisa menjaga Zena dengan baik.

Zena menghela nafasnya kasar lalu menoleh menatap Oki tajam. "Lo bisa diem nggak, sih? Cerewet banget jadi cowok! Kalo nggak mau nemenin gue udah sono lo pulang. Cuci kaki minum susu terus tidur!"

Oki menghela nafas panjang. Dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Memaksa Zena hanya membuat darahnya naik. Lebih baik diam dan berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan Zena, si cewek cantik berkepala batu.

"Ray, setelah ini lo main. Sono siap-siap di start," ujar Reno yang baru saja datang setelah mendaftarkan nama Zena.

Zena mengangguk lalu segera membawa motornya ke arah start. Zena tersenyum senang akhirnya bisa lagi mengemudikan kuda besinya di jalanan.

Satu orang cewek sexy berjalan elok ke tengah jalan. Tangan kanannya membawa bendera berwarna hitam putih. Zena tidak tau rivalnya siapa kali ini, sepertinya seorang cowok. Ah terserah, toh Zena tidak peduli.

"Ready?" teriak perempuan itu kepada Zena dan rivalnya. Suaranya termakan deru motor yang saling bersahutan. Padahal hanya Zena dan satu lelaki saja yang balapan, tapi suara bising motornya sudah seperti suara deru motor orang sekampung.

Zena dan rivalnya mengangguk.

Satu, dua, ti...

Wushhhhh

Wusshhhh

Belum juga disebutkan sampai tiga, motor Zena sudah melaju begitu kencang. Zena memimpin di depan, ia tersenyum meremehkan di balik helm full face-nya. Merasa bangga dengan dirinya sendiri karena selama ini belum ada yang pernah mengalahkan ratu jalanan, Zenata Soraya.

Zena semakin menambah kecepatan motornya. Padahal waktu itu keadaan masih ramai, banyak orang-orang yang masih berlalu lalang di jalanan. Tidak sedikit yang meneriaki Zena agar hati-hati jika berkendara. Tidak sedikit juga yang mengumpati Zena dengan kata-kata tajam nan kasar. Kalian tahu? Zena tidak peduli dan pura-pura tuli.

ZENATACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang