52. Cuddle

4.2K 388 167
                                        

"Maaf lama, tadi gue jemput Papa di bandara."

Sekarang sudah hampir jam sepuluh malam dan Achio baru sampai di rumah Vista, padahal Vista meminta laki-laki itu datang jam tujuh malam tadi.

Vista mengangguk mengerti. "Nggak apa-apa, harusnya gue yang minta maaf karena udah ngerepotin."

Membuka pintu lebih lebar, Vista mempersilakan Achio untuk masuk ke dalam rumahnya. "Nunggu sebentar nggak apa-apa? Jam delapan tadi Kak Darpa sama Kak Diego keluar."

Duduk di sofa yang berwarna abu-abu, Achio memperhatikan setiap detail rumah Vista. "Mereka pergi kemana?"

Di sebelahnya, Vista menggeleng. "Nggak tau."

Sedikit memiringkan posisi duduknya, Achio menatap lekat-lekat wajah gadis di depannya yang tampak lelah. "Habis nangis?"

"Kakak udah tau semuanya." Menyandarkan punggungnya pada sofa, sesekali Vista menguap menahan kantuk. Sebenarnya tadi dia sempat ketiduran, tapi terbangun sebab mendengar bel rumahnya.

Achio masih menatap Vista, membuat gadis itu salah tingkah.

"Bisa berhenti liatin gue nggak?!" ketus Vista.

Tersenyum tipis, Achio merentangkan tangannya. "Butuh peluk?"

Ditanya seperti itu, jelas saja Vista malu. Jika dulu dia begitu anti dengan laki-laki ini, berbeda dengan sekarang yang rasanya Vista tidak bisa berjauhan dengan Achio.

Beberapa saat diabaikan, Achio mengulum senyumnya. "Mau nggak?"

Perlahan-lahan menggeser duduknya ke dekat Achio, Vista sesekali mencuri-curi pandang ke arah Achio. "Boleh?" tanyanya pelan, tidak berani menatap wajah Achio.

Gemas sekali dengan tingkah gadis itu, Achio tidak bisa menahan senyumnya lagi. "Hm."

Sedetik setelah mendapat jawaban, langsung saja Vista menubruk tubuh Achio. Memejamkan matanya untuk menikmati wangi tubuh Achio yang akan selalu menjadi candu bagi Vista.

Mengusap-usap kepala gadis itu, Achio bisa menebak bahwa Vista sebenarnya sudah mengantuk sebab beberapa kali dia tampak menguap. "Ngantuk?"

Tidak menjawab tapi Vista mengangguk dalam pelukannya.

Mendorong tubuh Vista ke belakang, kini mereka berdua terbaring di atas sofa panjang. Jangan tanyakan bagaimana perasaan Vista, jantungnya berdebar.

"Tidur, Vista," gumam Achio yang masih memeluk tubuhnya.

Vista mengerjap-ngerjap, posisi mereka sangat dekat sekarang. "Achio, gu—"

"Kenapa, hm?"

Vista tercekat saat tiba-tiba saja Achio mendongak menatap wajahnya yang sudah pasti bersemu.

Dia yakin sekali bahwa Achio bisa mendengar detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya karena posisi mereka yang sangat dekat, bahkan tidak ada celah sedikit pun.

"Lo deg-degan," ucap Achio sambil mengulas senyum manisnya.

Sial! Vista malu sekali.

Dalam jarak sedekat ini, Achio tertawa lepas. Sejenak Vista tersihir, laki-laki di depannya ini benar-benar tampan. Baru dia sadari bahwa begitu beruntungnya Vista bisa mendapatkan hati Achio. Ya, walaupun hubungan mereka belum jelas, ini juga karena salah Vista.

Mengusap lembut pipi Vista, Achio gemas ingin menciumnya tapi berusaha dia tahan. "Gue suka lihat lo malu kayak gini."

Menggigit kuat-kuat bibirnya, Vista berusaha menahannya agar tidak tersenyum.

VistachioTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang