23. Rumah Nongkrong

3.8K 382 100
                                        

Jesen, laki-laki yang sering mendapat ejekan setengah matang tampak lahap menghabiskan garlic bread pesanannya.

"Terus gimana?" Sesekali dia menanggapi seorang gadis yang menggebu-gebu bercerita mengenai kekesalannya.

"Ya, gitu. Gue nggak bisa jawab apa-apa."

Masih dengan mulut yang diisi penuh red velvet bomboloni Vista bertanya, "Lo ngerti 'kan gimana malunya gue waktu itu?"

"Rasanya gue pengen menyublim." Vista menjelaskan dengan begitu ekspresif.

Jesen mengangguk-angguk saja, dia sudah tidak minat dengan cerita Vista. Matanya sekarang justru tertuju pada salah satu meja yang diisi oleh laki-laki tampan, cukup menarik perhatiannya.

"Jesen, lo dengerin gue nggak?!" Vista mendengus sebal karena tidak mendapat respon apa pun.

"Iya, denger." Jesen kembali fokus pada gadis di hadapannya. "Minta bomboloni lo dong."

Tanpa ragu Vista mengarahkan donat yang memiliki isian di dalamnya ke mulut Jesen. "Enak, 'kan?"

"Iya, jadi nyesel nggak pesen itu."

Vista tertawa kecil. "Pesen lagi, tapi yang rasa lain biar gue bisa coba."

Keduanya kini berada di salah satu cafe bernuansa homey untuk semua kalangan usia. Cafe yang diberi nama rumah nongkrong ini selalu ramai oleh pengunjung, bahkan dulunya cafe ini hanya satu lantai sebelum akhirnya berdiri dua lantai dan memiliki beberapa cabang di kota yang berbeda-beda. 

"Orly kenapa nggak bisa ikut?"

"Dia lagi main di rumah Terra, nanti mau kesana nggak?" tanya Jesen.

Jelas saja Vista menggeleng. "Males ketemu Terra."

Hanya membalas dengan anggukan, Jesen kembali fokus pada meja yang berada tepat di belakang punggung Vista. Menangkap gerak-gerik aneh dari laki-laki itu, Vista menoleh ke belakang dengan gerakan pelan sebelum bibirnya berdecak.

"Jes, sumpah gue lebih seneng liat lo godain janda," celetuk Vista.

Dengan santainya Jesen menatap Vista seolah tanpa rasa bersalah. "Apa, sih? Orang gue liatin bayi yang lagi sama cowok itu, gemes banget."

Untuk yang kedua kali Vista menengok, matanya terpaku sebentar karena memang bayi itu tampak menggemaskan dengan balutan kostum panda. "Jarak umur sama Kakaknya jauh, ya?"

"Iya." Jesen menatap Vista dengan serius kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan. "Gue punya misi buat lo."

Tidak ingin mendengarkan ucapan Jesen, Vista menyumpal mulut laki-laki itu dengan bomboloni yang tersisa. "Gue nggak mau."

"Gue bahkan belum ngomong," ucap Jesen memelas.

"Gue udah tau isi pikiran lo."

"Ayolah!" Jesen mulai merengek pada Vista, bahkan sampai menggoyang-goyangkan tangan Vista yang ada di atas meja. "Dapetin nomor telepon aja, minimal akun Instagram."

"Nggak!" sentak Vista.

"Please, kalau dapet gue jajanin mochi," tawar Jesen yang tahu sekali apa kesukaan gadis itu.

Vista masih belum mau tergoda, sekali lagi dia menyentak tangan Jesen. "Lo masih bisa bicara, 'kan? Kenapa nggak lo aja yang minta?"

Melipat tangannya di depan dada, Jesen menatap sebal wajah Vista. "Lo cantik, gue nggak."

"Ya, karena lo laki-laki! Sadar, bego!!"

Kembali Jesen memelas, dia harus bisa meruntuhkan pertahanan Vista. "Sekali ini aja, yang terakhir."

VistachioTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang