Kara pulang dengan perasaan campur aduk. Momen ketika Pak Erwin menyuruhnya pulang, Kara otomatis menanyakan "Kenapa?" pada Managernya.
Pak Erwin membisikkan sesuatu di telinganya yang seketika membuat dia beranjak mengemasi barangnya untuk pulang. Ia masih ingat dengan jelas managernya berbisik singkat, "Titah resmi dari Kanjeng Prabu ..."
Kara bahkan tidak menanyakan bagaimana caranya keraton memberi titah langsung pada Managernya, tapi dia memang tidak perlu menanyakan kemampuan dari Keraton atau bahkan Gusti Prabu.
Selama perjalanan pulang, berita di televisi publik masih saja dipenuhi nama-nama kandidat calon putri mahkota. Kara akhirnya mencoba untuk mengecek nama nama kandidat itu dan betapa terkejutnya dia kalau keempat kandidat lain datang dari latar belakang ningrat.
Renita Gadis Gunawangsa adalah kandidat yang paling banyak dibicarakan karena dia adalah kerabat jauh dari Gusti Ratu yang sekarang. Kara semakin terkejut saat menyadari kalau salah satu penyanyi dan aktris terkenal di Negaranya menjadi salah satu Kandidat. Dia adalah Sekar Ayu Ningsih, memiliki lebih dari dua puluh juta lebih followers di sosial media. Ketika Kara membuka profil sosial media Sekar, foto terakhir yang dia upload adalah sebuah kertas undangan dengan tulisan gelar dan nama lengkap sekar disertai ucapan selamat karena lolos menjadi salah satu kandidat Putri Mahkota.
"Gila kandidat yang namanya Kartika itu kayaknya bukan ningrat deh, dia nggak punya nama keluarga dan gelar. Kasihan lawannya ningrat semua. Si Sekar aja kan masih punya gelar ..."
"Bener sih, tapi aku penasaran kenapa cuma si kartika aja yang gak ada foto profilnya?"
"Kata bapakku sih, dalam seleksi putri mahkota selalu ada kandidat yang dipilih langsung oleh Putra Mahkota secara pribadi. Coba lihat deh, di internet rumornya sudah menyebar. Ada rumor kalau si Kartika ini bahkan tidak mendaftar seleksi!"
"Berarti dia kenal langsung sama putra mahkota dong?"
"Bingo, itu kemungkinan terbesarnya. Gak mungkin juga Putra Mahkota pilih ngasal kan? Pasti dia kenalan pribadi!"
"Gila iri banget sama dia, pasti dia seneng banget dipilih langsung sama Putra Mahkota. Gak sabar pengen lihat wujud si Kartika ini."
Perbincangan seperti itu tidak hanya terdengar sekali, seluruh manusia yang ditemui Kara selama perjalanan pulang masih membicarakan para kandidat putri mahkota.
Begitu dia sampai di Apartemen keluarganya, Kara menyiapkan mental sebelum mengetuk pintu depan. Tapi sebelum dia mengetuk, pintu sudah dibuka dari dalam oleh adik laki-lakinya.
Ruang tamu kecil keluarganya kini penuh dengan orang-orang datang memakai baju setelan resmi khas abdi dalem. Balutan beskap hitam, bawahan jarik lengkap dengan belangkon di kepala. Ada dua orang laki-laki yang sedang duduk sambil berbincang ringan dengan Ibunya. Saat Kara melangkah masuk, pandangan keduanya segera beralih pada Kara.
Mereka terlihat terkesan saat melihat Kara, gadis itu dengan canggung mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan keduanya. Mereka berdua tersenyum dan menerima uluran tangan Kara.
"Ah, akhirnya bisa melihat Mbak Kartika ... ternyata cantik banget ..." Puji salah satu dari mereka.
"Eh, terima kasih pak," Ucap Kara masih bingung. Kara kemudian beralih mencium punggung tangan ibunya lalu mereka berempat duduk. Ragil, adik Kara terlihat duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.
Kara melirik ke arahnya dengan curiga karena anak itu jelas-jelas ingin menguping pembicaraan dengan para tamu. Ragil yang tidak pernah sekalipun tertarik dengan acara televisi tiba-tiba saja menonton berita yang kini masih penuh dengan bahasan kandidat putri mahkota.
KAMU SEDANG MEMBACA
Privilege [END]
Historische fictieWARNING: JANGAN LOMPAT KE CHAPTER BONUS JIKA TIDAK INGIN KENA MAJOR SPOILER! Kara tidak mengikuti seleksi untuk menjadi putri mahkota. Tapi, betapa terkejutnya dia ketika tahu kalau dia dipilih langsung oleh Putra Mahkota dan menjadi kandidat nomor...
![Privilege [END]](https://img.wattpad.com/cover/285559710-64-k957546.jpg)