46 - Putri Mahkota dan Kejutan

25.4K 1.9K 205
                                        

Kara maju ke podium untuk menyampaikan pidato akhir setelah dipersilahkan oleh Gusti Prabu. Ia berdeham keras, "Selamat sore semua, saya Kartika Anjani kandidat nomor lima dalam seleksi putri mahkota kali ini."

Kara kemudian menyampaikan sambutan kepada para keluarga Keraton, juga para tamu yang hadir dalam acara pengumuman kandidat yang terpilih menjadi putri mahkota. Setelah selesai dia akhirnya menyampaikan pidatonya sendiri.

"Pertama, saya ingin meminta maaf kepada seluruh lapisan masyarakat dan keluarga Keraton Nagaragung karena selama seleksi ini saya banyak menyebabkan kegaduhan dan menjadi penghambat jalannya seleksi. Pertama saya ingin menyampaikan bahwa benar adanya bahwa saya dekat dengan lelaki dalam skandal tersebut, tetapi kami belum memutuskan untuk berhubungan karena saya ingin menghormati proses seleksi kali ini."

Kara menarik napas, sambil memperhatikan khalayak. Mereka semua berbisik-bisik cepat setelah mendengar ucapannya.

"Lalu, anda sekalian tidak perlu khawatir, karena saya bukan orang yang terpilih menjadi putri mahkota." Lanjutnya sambil tersenyum.

Gumam perdebatan antar manusia di ruangan seketika terhenti dan pada saat yang bersamaan, mereka memasang ekspresi terkejut tidak percaya. Bahkan ada yang jelas-jelas menganga. Kara mengambil kesempatan ini untuk bicara lagi.

"Dari awal, saya hanyalah teman dari Gusti Pangeran. Saya juga bingung saat saya dipilih langsung oleh beliau untuk menjadi salah satu kandidat. Saat itu saya langsung mengajukan diri untuk mengundurkan diri, tetapi pengunduran diri saya ditolak. Untuk cek fakta, anda bisa langsung tanyakan pada Pak Weda. Salah satu abdi dalem yang datang ke rumah saya."

Kara berhenti sejenak. Ia memperhatikan wartawan yang sibuk mengetik berita berdasarkan ucapan Kara.

"Begitu saya masuk untuk mengikuti seleksi, Gusti Pangeran ternyata memiliki tugas untuk saya." Kara memberi jeda sejenak untuk memberi efek dramatis.

"Gusti Pangeran mengutus saya untuk menjadi mata-mata para kandidat putri mahkota."

Semua orang dalam aula seketika memekik terkejut. Bahkan Kara melihat tiga kandidat lain menganga mendengar ucapannya. "Kenapa Gusti Pangeran memilih saya di antara banyak teman perempuannya? Jawabanya sederhana, karena semua teman perempuan yang dia kenal sebelum dikenalkan pada publik mendaftar menjadi kandidat putri mahkota kecuali saya. Oleh karena itu dia mempercayakan posisi itu pada seseorang yang tidak punya ketertarikan pada posisi putri mahkota."

Kara memberikan jeda pada semua orang untuk mencerna ucapanya. "Lalu, masalah skandal, itu semua dilakukan oleh orang yang tidak menyukai jika saya terpilih menjadi Putri Mahkota. Saya juga meminta maaf pada Sekar, yang sudah keluar dari seleksi ini di saat semuanya bermasalah hingga mengakibatkan munculnya asumsi dari publik yang berasal dari kecocokan dengan skandal sebelumnya."

Kara lalu menundukkan kepala beberapa detik. Saat ia mendongakkan kepala, Kara melanjutkan pidatonya, "Seperti yang sudah diketahui masyarakat umum, melalui seleksi ini saya tidak sengaja menemukan kembali keluarga saya walaupun dengan cara yang tidak menyenangkan. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan Gusti Pangeran, serta Gusti Prabu dan Gusti Ratu saya dan empat kandidat lain bisa tinggal dengan nyaman selama menjalani proses seleksi. Saya mewakili kandidat lain juga berterima kasih kepada Dayang dan Penjaga pribadi serta para juru masak, abdi dalem dan segenap staf Keraton yang selalu siaga dan membantu kami selama di Keraton. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan pada para pengajar yang memberi kami pelatihan selama proses seleksi. Untuk pengumuman lanjutan, saya akan menyerahkan kembali pada Kepala Dayang Riani. Sekali lagi, saya mewakili kandidat lain mengucapkan terima kasih atas dukungan dan perhatian dari masyarakat pada proses seleksi putri mahkota kali ini."

Privilege [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang