[Bonus] 16.5

12.8K 1.2K 49
                                        

Lanjutan Chapter 16

-----------------------------

Peter terdiam mendengar ucapan Gusti Pangeran. Biasanya orang-orang akan mencoba bekerja sama denganya bukan malah sebaliknya.

"Anda mengajak saya bekerja sama?"

Gusti Pangeran hanya mengangguk sambil tersenyum ramah. "Tapi, kenapa?" Tanya Peter masih ragu.

Gusti Pangeran  mengembalikan pertanyaan itu pada Peter. "Menurutmu kenapa aku mengajakmu kerjasama?"

Peter menatap Gusti Pangeran dengan seksama. "Boleh saya tahu kenapa Anda mengajak saya bekerja sama?"

"Bukannya itu sudah jelas. Karena aku butuh bantuanmu?" Sergah Dita dengan tenang.

"Lalu apa yang akan saya dapatkan?"

"Perlindungan. Jika kamu bahkan tidak berani mengungkap siapa orang yang menyuruhmu melakukan itu saat aku bertanya, itu artinya orang yang ada di balikmu memiliki kekuatan yang bisa bersaing dengan kelurga keraton."

Peter ragu. "Kartika sudah meminta saya untuk mencari tahu siapa Ayahnya."

Gusti pangeran memasang ekspresi bingung. "Aku tidak peduli dengan percakapanmu dengan Kartika. Tapi pernyataanmu barusan sungguh tidak berhubungan dengan pernyataanku." 

"Ah maaf, saya kira Anda juga ingin saya mencari tahu siapa ayahnya."

"Memangnya kamu akan mencarikan Ayahnya?"

Peter tersenyum, "Sebuah ironi, saya sebenarnya sudah tahu siapa Ayah Kartika tapi tidak bisa mengatakannya. Saya harap Anda bisa mengajukan pertanyaan yang tepat pada saya."

Gusti Pangeran mencoba mencerna maksud ucapan Peter.

"Jawab satu pertanyaanku. Orang yang menyuruhmu untuk menyerang Kartika, apakah dia memiliki hubungan kekeluargaan dengan empat kandidat lainnya?"

Peter tersenyum. "Anda menanyakan pertanyaan yang tepat. Saya tidak bisa menyebutkan siapa, tapi sayangnya orang yang menyuruh saya adalah orang yang berhubungan langsung dengan Kartika."

Gusti Pangeran segera menangkap maksud Peter. Jika yang menyuruh Peter bukanlah orang yang berhubungan dengan kandidat lain, maka tentu saja semua itu dilakukan oleh orang terdekat Kara sendiri. Kara hidup dengan ibu dan adiknya. Ibu Kara sudah tidak memiliki orangtua ataupun saudara kandung. Sejauh yang Dita tahu keluarga dari pihak ibunya berasal dari kalangan biasa saja. Jadi, jika pelakunya adalah orang terdekat dan memiliki cukup kekuasaan hingga membuat Peter tutup mulut di depan Gusti Pangeran, maka kemungkinan terbesarnya adalah, "Kamu secara tidak langsung mengatakan kalau semua ini dilakukan oleh Ayah Kara sendiri?"

Peter hanya tersenyum penuh arti tanpa menjawab atau menyangkal pertanyaan Gusti Pangeran.

"Saya juga harus menolak tawaran anda yang mulia. Saya sungguh harus melakukan ini sampai akhir." Ujar Peter dengan nada menyesal.

"Baiklah, lakukan tugasmu sesuai perintah mereka. Satu hal yang ingin kukatakan, aku akan selalu mengawasimu. Dan jika situasinya sudah membahayakan nyawa, beri aku peringatan. Siapapun yang ada di belakangmu saat ini, aku akan berusaha untuk melindungi orang-orangku dari mereka." Tegas Gusti Pangeran.

Peter tersenyum, ada secercah kelegaan dalam senyumannya. "Terima kasih sudah mengerti situasi saya Gusti."

"Pembicaraan ini tidak pernah terjadi. Aku hanya mengundangmu ke sini untuk menegurmu karena kelancanganmu dalam melakukan wawancara tempo hari. Apa kamu mengerti?"

Peter beranjak berdiri lalu memberikan salam pada Gusti Pangeran. "Saya hanya menerima teguran dari Kanjeng karena terlalu lancang dalam mewawancarai kandidat putri mahkota." Tegas Peter.

Privilege [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang