25 - Guru Baru

15.3K 1.7K 10
                                        

Menarik. Adalah kata yang tercetus dalam benak Renita ketika dia dan empat kandidat lain diperkenalkan pada guru manner yang baru.

Untuk seorang yang hampir menginjak umur delapanpuluhan, Ibu Sastria terlihat bugar dan orang-orang bisa menganggapnya berumur lima puluhan. Ia berjalan dengan bantuan tongkat jalan kayu seperti pada umumnya. Renita mendengar kalau beliau adalah adik perempuan dari mendiang Ratu sebelumnya, dan setelah bertemu langsung ia menyadari kemiripan wajah antara Ibu Sastria dan mendiang Ratu.

Mereka semua sedang berada di ruang tamu paviliun tempat kandidat tinggal. Gusti Ratu secara pribadi menerima tamu kedatangan Ibu Sastria, dan mengantar beliau untuk berkenalan dengan para kandidat.

"Kandidat pertama, Renita seperti yang sudah Ibu tahu, dia berasal dari keluarga Gunawangsa." Ujar Ratu sambil menunjuk Renita. Ia kemudian mengangguk sekilas pada Ibu Sastria yang memberinya senyum kecil.

Renita terus mengamati saat beliau diperkenalkan dengan semua kandidat. Saat giliran Kara yang diperkenalkan, entah mengapa baik ekspresi Kara atau Bu Sastria terlihat datar hingga bisa dibilang muram. Apalagi Kara. Gadis itu benar-benar tidak bisa menyembunyikan ekspresinya.

Hal yang mengejutkan adalah Kara mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Padahal, mengajukan jabat tangan biasanya hanya dilakukan oleh orang yang lebih tua terlebih dahulu bukan sebaliknya.

Ekspresi Gusti Ratu, Dayang Riani dan tentu saja kandidat lain termasuk Renita sangat terkejut sampai tidak bisa berkata-kata.

Bu Sastria menerima uluran tangan itu masih dengan ekspresi netral. Saat mereka berjabat tangan ia bergumam, "Kamu tahu kan kalau mengajak orang yang lebih tua untuk salaman duluan itu bukan manner yang benar?"

"Oh, maaf. Saya tidak tahu karena saya bukan ningrat." Jawab Kara dengan nada yang bahkan untuk Renita terdengar dibuat-buat.

Ekspresi Ibu Sastria tidak banyak berubah. Ia hanya mengangguk singkat lalu melepaskan tangan Kara kemudian beralih menatap Gusti Ratu, "Terima Kasih sudah mengantar saya secara pribadi untuk bertemu dengan para kandidat."

Gusti Ratu terlihat sedikit tidak nyaman, tapi dengan cepat menutupi itu dengan senyuman. Akhirnya ia mengantar Ibu Sastria keluar. Dayang Riani hanya mengantar mereka sampai pintu, lalu kembali masuk lagi.

"Karaaaaaa!" Ucap Dayang Riani dengan nada frustasi. Mereka semua akhirnya duduk di ruang tamu bersama.

Renita merasa yakin kalau Kara melakukannya secara sengaja. Ia tahu gadis itu cerdas. Seandainya dia memang tidak tahu itu, ia pasti sudah membaca situasi dengan melihat para kandidat lain yang hanya memberi salam tanpa mengajak untuk bersalaman. Apalagi jawaban Kara tadi yang terkesan sarkas pada Ibu Sastria.

"Kamu serius tidak tahu kalau orang yang lebih muda tidak boleh mengajak salaman duluan?" Tanya Dayang Riani.

Kara hanya diam, ia bahkan tidak tertawa seperti saat dia mengelak jika melakukan kesalahan. Eka menyahut pelan, "Aku yakin sih dia sengaja. Aturan itu kan dasar sekali. Meskipun kamu bukan ningrat pasti kamu sudah diajari di sekolah."

Mereka semua menoleh ke arah Kara. Tetapi gadis itu masih diam tak bergeming. Dayang Riani akhirnya menghembuskan napas besar.

"Aku berharap tidak ada kejadian tidak sopan seperti itu lagi pada Ibu Sastria. Beliau termasuk keluarga menantu Keraton. Dan seperti kalian tahu, dia di sini untuk mengajar manner. Jadi tunjukkan manner yang baik padanya."

"Tapi bu, bagaimana kami mendapat kelas manner? Setahu saya tidak ada jadwal kami yang berubah." Tanya Lita sambil menaikkan tangannya.

Dayang Riani menjawab, "Kelas manner pelaksanaanya akan berbeda daripada biasanya. Semua jadwal akan ditambahkan sesuai keinginan Ibu Sastria. Selain itu, pada event bersama, beliau akan datang dan mengamati kalian. Ibu Sastria bilang, bahwa manner tidak semata dipelajari di kelas tapi bagaimana kalian mengatasi sesuatu dalam sosialisasi dengan manusia."

Privilege [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang