Pesta perayaan pendirian kerajaan bisa dianggap sebagai pesta yang elegan sekaligus sederhana. Keraton menggunakan dekorasi yang sudah ada lalu menyulapnya hingga terlihat elegan. Bunga-bunga didapatkan dari taman bunga Keraton sendiri dan makanan disiapkan oleh para juru masak Keraton dibantu oleh Dayang dan Abdi Dalem.
Pesta di dalam Keraton pada dasarnya adalah sebuah gawe untuk Gusti Prabu dan Gusti Ratu. Sehingga biayanya menggunakan dana pribadi Keluarga Keraton.
Acara hari pertama berisi ritual budaya syukur dan kunjungan oleh tokoh masyarakat serta pengadaan lomba-lomba untuk anak sekolah. Hari kedua diperuntukkan kunjungan oleh pejabat dan golongan atas Nagaragung, lalu hari terakhir acara akan diisi oleh kunjungan dari tamu perwakilan dari luar negeri serta duta besar yang ada di Nagaragung.
Para kandidat menjadi panitia sekaligus penerima tamu untuk dalam seluruh rangkaian acara. Hari pertama Eka menjadi penanggung jawab utama, karena acaranya melibatkan anak-anak dan instansi pendidikan.
Lita diberi tanggung jawab untuk hari kedua dan Renita untuk hari ketiga. Hari kedua dimulai dimulai dengan para kandidat yang berkumpul di ruang tengah untuk koordinasi akhir sebelum acara dimulai pukul tiga sore.
"Kemarin pas acara ada masalah tidak?" Tanya Kara pada Eka.
"Tidak ada, tamu hari pertama bukan tipe orang yang bahaya, jadi tidak terlalu banyak masalah. Justru aku khawatir dengan hari ini. Gimana Lit, kan tamunya orang-orang pentingnya Nagaragung?" Jawab Eka.
"Untuk sekarang aku tidak mengkhawatirkan itu. Tapi, untuk acara hari kedua ini dimulai dengan acara ramah-tamah dan hiburan musik sederhana. Masalahnya adalah, acara pelelangan."
Tiga kandidat lain fokus pada Lita, "Masalahnya di mana?" tanya Renita.
Lita tersadar, "Eh maaf, yang jadi masalah adalah di akhir acara pelelangan ada beberapa orang yang akan maju dan menawarkan sesuatu untuk dilelang secara spontan. Aku takut barang yang dilelang secara spontan itu."
"Ada berapa orang yang mengajukan diri untuk lelang spontan?" Tanya Kara.
"Sekitar lima orang, mereka akan maju sendiri untuk melelang barang milik mereka." Tambah Lita.
"Hah, ini sedikit mengkhawatirkan." Gumam Kara. Ia menoleh ke Renita, "Kamu tentu pernah mengikuti acara lelang seperti ini kan, biasanya barang apa yang akan dilelang spontan oleh orang seperti ini?"
Renita berpikir sejenak. "Bisa apa saja. Kadang, pusaka atau perhiasan turun-temurun keluarga. Tapi ada juga yang menawarkan semacam tiket liburan, makan malam dengan artis yang kamu pilih dan hal diluar dugaan lainnya."
Kara berpikir sejenak, "Kita punya wewenang untuk membatalkan jika hal yang ditawarkan terlalu tidak masuk akal kan?"
Renita menangguk, "Lagipula mereka pasti tahu batasan tentang hal-hal seperti ini."
"Oh iya, apa kita harus pakai topeng juga?" Tanya Eka.
"Tidak perlu, pihak stasiun televisi butuh untuk mengetahui di mana kita, dan lagipula topeng hanya digunakan saat acara pelelangan." Jawab Lita pelan.
"Untuk menyembunyikan identitas ya?"
Lita mengangguk. "Kalian sudah ada rencana pakai baju warna apa?"
Kara angkat tangan, "Aku Hijau."
"Kuning." Tambah Renita.
"Ungu." Sergah Eka
"Baiklah, aku merah kalau begitu."
"Entah kenapa warnanya mengingatkanku pada sesuatu. Empat karakter dengan warna ..." Gumam Kara yang membuat empat kandidat lain menatapnya dengan datar.
***
Acara ramah tamah sungguh membuat Kara hampir kehabisan tenaga. Untuk pertama kalinya dalam hidup ia tidak hentinya berbicara, tersenyum dan bersosialisasi dengan banyak orang secara umum. Ibu Sastria berada di sekitar mereka untuk memberikan nasihat atau sekedar membenarkan postur tubuh mereka. Satu-satunya manusia yang terlihat biasa saja adalah Renita. Bahkan Eka dan Lita juga mulai terlihat lelah.
Mereka bertiga duduk berdampingan di salah satu bangku panjang yang diletakkan di sudut ruangan dengan tangan memegang segelas minuman dan sepiring camilan di pangkuan mereka. Lita, Kara dan Eka duduk sambil makan.
"Renita benar-benar hebat bisa bersosialisasi selama ini." Celetuk Lita lalu melahap kue kecilnya.
Eka menyeruput gelas minumannya lalu bergumam, "Dia pasti sudah sering mengalami ini semua. Dasar Konglomerat."
Kara mengambil kue kecil lalu melahapnya dalam satu lahapan, setelah menelan kue dia berkomentar, "Bukannya kalian juga ningrat ya?"
Eka dan Lita yang duduk di kanan kiri Kara saling pandang kemudian tertawa. "Kami mungkin keturunan ningrat, tapi tidak semua ningrat itu konglomerat." Jawab Eka.
"Tapi kebanyakan konglomerat itu ningrat." Tambah Lita.
Kara menoleh ke arah mereka bergantian, "Apa kalian tidak kaya?"
"Hm, definisi kaya ini sangat subjektif." Komentar Lita.
"Apa kalian berdua belajar sekolah internasional swasta?" Tanya Kara. Eka dan Lita keduanya mengangguk.
"Yes, you both rich."
"Yeah, but Renita is rich rich ..." Ujar Lita sambil menarik satu kuenya.
Mereka bertiga masih makan ketika Renita datang menghampiri. Kara menepuk lengan dengan tangan yang kosong sebagai ganti tepuk tangan. "Saya kagum dengan anda." Komentarnya pada Renita.
Renita memandang mereka bertiga, "Kalian dari tadi duduk di sini?"
Mereka bertiga menganggukkan kepala, "Stamina kami tidak sekuat dirimu Ren ..." Tambah Lita.
"Kita sepertinya harus berganti ke baju malam, waktu pelelangan semakin dekat, dan para tamu sudah mulai keluar untuk berganti baju." Ujar Renita.
Seperti ucapan Renita, para tamu mulai keluar. Saat suasana sudah mulai sepi, para abdi dalem dan penjaga segera menata ulang aula untuk membuat ruang terbuka di tengah. Pangung tempat memajang barang diletakkan di tengah sehingga kursi untuk tempat duduk peserta lelang di letakkan di sekelilingnya. Tempat duduk peserta dibagi menjadi empat bagian dengan kode huruf A sampai E dan panggung untuk pembawa acara diletakkan di ujung dalam aula agar bisa melihat ke seluruh peserta lelang.
Para kandidat segera berganti pakaian seperti yang lain dan kembali lagi ke aula tanpa topeng. Mereka masih menggunakan warna baju yang sama tapi kali ini setiap kandidat memakain gaun malam panjang lengkap dengan sepatu hak tinggi dan sanggul kepala.
Suasana aula sudah mulai ramai lagi, Para kandidat mendapat tempat duduk di sisi kiri belakang kursi peserta lelang. Kara yang masih bosan karena acara yang belum mulai akhirnya memutuskan untuk ke kamar mandi dulu. Setelah selesai menyelesaikan urusannya ia kembali tetapi keluar ke teras samping aula yang tidak terlalu ramai.
Kara menikmati udara malam untuk melepas penat dan lelahnya hari ini. Ia mendengar suara langkah kaki di belakang, semerbak aroma parfum maskulin memenuhi hidungnya. Ia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang lelaki berdiri dengan jas biru gelap dan topeng. Setangkai bunga mawar ada di tangannya.
Kara tersenyum kecil pada lelaki itu lalu mengalihkan pandangan ke arah luar lagi. Tak lama kemudian pundaknya dicolek dengan jari dan membuat Kara menoleh.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya pada si lelaki. Kara sudah mulai waspada.
Lelaki itu hanya diam sambil mengulurkan mawar di tangannya, Kara meraih mawar itu dengan ragu lalu bertanya, "Untuk saya?"
Lelaki itu mengangguk. Sebuah senyuman menghiasi wajah bertopengnya. Sebelum sempat berkomentar, lelaki itu melambai kecil lalu berjalan masuk ke aula meninggalkan Kara yang bingung dengan setangkai mawar di tangan.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Edited: 03/08/2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Privilege [END]
Fiksi SejarahWARNING: JANGAN LOMPAT KE CHAPTER BONUS JIKA TIDAK INGIN KENA MAJOR SPOILER! Kara tidak mengikuti seleksi untuk menjadi putri mahkota. Tapi, betapa terkejutnya dia ketika tahu kalau dia dipilih langsung oleh Putra Mahkota dan menjadi kandidat nomor...
![Privilege [END]](https://img.wattpad.com/cover/285559710-64-k957546.jpg)