"Setelah ibu kuliah di luar negeri, tidak sulit bagi ibu untuk menyembunyikan kelahiranmu. Teknologi di zaman itu belum secanggih saat ini. Ibu mengambil cuti setelah menempuh satu semester kuliah untuk melahirkanmu dan merawatmu. Setelah itu ibu kembali berkuliah lagi, dan beruntung ibu bertemu orang baik di sana yang mau merawatmu saat ibu kuliah dan bekerja. Meskipun ibu kuliah dengan embel-embel beasiswa, sebenarnya itu semua adalah uang dari keluarga Ayahmu. Saat kamu umur tiga tahun, orangtua ibu meninggal karena kecelakaan kerja. Uang asuransi jiwa mereka jatuh ke tangan tantemu. Ibu tidak keberatan karena toh, ibu juga tidak bisa banyak membantu biaya hidup tantemu. Setelah itu, ibu baru berani mengatakan pada tantemu kalau ibu sudah punya anak. Kami sempat bertengkar tapi pada akhirnya kami berdamai karena semuanya sudah menjadi bubur. Saat dia menikahpun, ibu tidak bisa datang, dan hanya mendapat kabar kalau dia melahirkan anak laki-laki."
Ibu Kara terdiam sejenak.
"Kamu tentu ingat saat kamu berumur sepuluh tahun, kita akhirnya kembali ke Nagaragung karena tante dan suaminya meninggal. Ragil yang saat itu masih berumur tiga tahun tidak punya wali dan pada akhirnya hak asuhnya jatuh ke tangan ibu. Sejak saat itulah Ibu memutuskan untuk mengadopsi Ragil dan merawatnya sebagai adikmu sampai saat ini. Ayahmu tidak meninggalkan ibu. Dia tidak jahat. Ibulah orang jahat dalam hubungan ini. Apalagi Ibu meminta uang yang cukup banyak untuk biaya selama di luar negeri. Ibu hanya menepati janji untuk tidak menghubungi keluarga mereka setelah menerima uang itu."
Kara menangis mendengar semua itu. Dia tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini, yang pasti air matanya secara otomatis keluar.
"Tapi, apa ibu tahu dari keluarga mana Ayah sebenarnya?" Tanyanya singkat.
Ibu Kara mendengus pelan, "Sayangnya tidak. Banyak sekali staf perusahaan Lione yang berasal dari Konglomerat. Ibu tidak pernah berusaha mencari tahu siapa sebenarnya ayahmu. Yang pasti Jika pada zaman itu saja mereka bisa mengirim ibu kuliah ke luar negeri dengan tambahan biaya hidup selama tujuh tahun, Ibu yakin mereka berasal dari salah satu keluarga besar Konglomerat di Nagaragung."
Hening cukup lama. Kara mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri panggilan. "Aku akan hubungi ibu lagi." Kara kemudian menghapus sisa air matanya dengan cepat sebelum menoleh untuk melihat siapa yang datang.
Dua orang laki-laki muda datang ke arahnya. Satu diantaranya Kara mengenalinya sebagai saudara Renita. Sedangkan seorang lagi, adalah wajah yang baru ditemuinya.
"Oh hai, siapa ini? Bukannya ini kandidat viral nomor lima?" Ujar si wajah baru.
Kara memperhatikan si lelaki dengan ekspresi bingung. "Oh perkenalkan, aku Christopher cukup panggil Chris saja. Teman Aiden." Ujarnya ramah sambil mengulurkan tangan.
Kara secara spontan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sebelum dia sempat bereaksi, Sekar menyusul dengan ekspresi ceria yang mendadak hilang saat bertemu dengan Kara. Mereka berdua saling pandang sekilas kemudian mengalihkan pandangan secara bersamaan.
"Duh, Renita kenapa ngajak tamu yang tidak diundang ke sini sih ..." Gumam Sekar pelan. Chris terlihat menggunakan bahasa isyarat pada Aiden.
Mendengar ucapan dari Sekar, Kara hanya memutar bola matanya lalu menatap Aiden. "Dia sangat tidak tahu malu. Padahal kemarin dia membuat masalah dengan Renita."
Chris dan Aiden saling pandang setelah melihat Kara menggunakan bahasa isyarat, justru Aiden tersenyum sumringah. "Aku tidak menyangka kamu bisa bahasa isyarat."
Sekar yang menyadari interaksi kecil antara Kara dengan Aiden hanya menggeram lalu berjalan pergi ke laut. Chris, Aiden dan Kara hanya memandangi saat Sekar menjauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Privilege [END]
Fiksi SejarahWARNING: JANGAN LOMPAT KE CHAPTER BONUS JIKA TIDAK INGIN KENA MAJOR SPOILER! Kara tidak mengikuti seleksi untuk menjadi putri mahkota. Tapi, betapa terkejutnya dia ketika tahu kalau dia dipilih langsung oleh Putra Mahkota dan menjadi kandidat nomor...
![Privilege [END]](https://img.wattpad.com/cover/285559710-64-k957546.jpg)