Hari minggu adalah satu-satunya hari saat kandidat bisa sedikit bersantai. Setelah dua hari lalu pertengkaran terjadi antara para kandidat, suasana jadi semakin dingin. Renita masih malas memulai pembicaraan dengan Sekar karena gadis itu sudah mengungkit hal yang paling dibencinya. Ia tidak mengharap Sekar akan minta maaf duluan, tapi Renita juga tidak berniat untuk memulai pembicaraan.
Kemarin saja mereka semua mengikuti kelas memasak dalam keheningan. Satu-satunya ucapan yang terdengar adalah instruksi dari guru masak mereka dan beberapa jawaban ya, atau pertanyaan dari pada kandidat.
Para kandidat hanya diwajibkan untuk berolahraga di hari minggu, dengan waktu yang dibebaskan sesuai keinginan mereka. Renita menyadari kalau para kandidat saling peka dan mengambil waktu olahraga secara terpisah. Padahal biasanya mereka tidak terlalu peduli dengan waktu olahraga yang bersamaan.
Renita sendiri sudah berniat untuk olahraga malam saja. Dia mengira akan sendirian di ruang latihan, tetapi saat dirinya masuk ke ruangan yang berisi berbagai fasilitas olahraga, Kara yang sedang berjalan di atas treadmill melambai sekilas padanya.
Renita kemudian berjalan menghampiri gadis itu. Ia menyalakan treadmill di sebelah Kara lalu ikut berjalan.
"Aku kira kamu sudah olahraga duluan." Ucap Renita
Kara menaikkan kedua bahunya. "Sebenarnya aku berniat untuk bermalas-malasan sepanjang hari. Tapi, Raga menelpon ke kamar tiap sejam sekali untuk menyuruhku olahraga. Akhirnya di sinilah aku ..."
"Kamu bahkan tidak takut membolos ya?"
Kara mengamati Renita, "Apa itu sebuah sarkasme?" Renita menggelengkan kepala dengan cepat. "Hanya sebuah ujaran."
Kara tersenyum kecil. "Yah, membolos sehari tidak akan lantas mengakhiri kehidupanku."
Keheningan menyelimuti ruangan, dengan menyisakan suara langkah kaki yang berjalan di atas treadmill. "Terima kasih." Ucap Kara yang membuat Renita bingung.
"Hah? untuk apa?"
"Tahukan, yang kemarin."
Renita tidak langsung merespon. "Sebenarnya sebelum kamu datang aku sudah bertengkar duluan dengan Sekar, jadi yah memakinya bukan hal yang sulit."
"Boleh aku tanya sebenarnya apa hubungan kalian? Aku mengasumsikan kalian sudah kenal sebelum seleksi ini apa itu benar?" Tanya Kara tenang.
Renita terlihat berpikir. Dia terlihat sedikit enggan membicarakan itu. Akhirnya Kara menambahkan, "Kalau kamu tidak mau menjawab, kamu tidak perlu menjawabnya kok."
Renita menghembuskan napas. "Aku sendiri terkadang masih tidak paham dengan hubunganku dan Sekar."
Kara menunggu.
"Kami satu SMA. Bisa dibilang Sekar adalah tipe orang yang menyukai perhatian. Yah kamu tahu sendiri profesinya sangat mencerminkan siapa dirinya."
Renita terdiam sejenak. "Setidaknya dari sudut pandangku, aku tidak pernah ambil pusing dengan tingkah lakunya. Menurutku dia sering bereaksi berlebihan seperti kemarin. Dia langsung tersinggung hanya karena kamu bilang bisa saja kami punya aib kan ..."
Kara tertawa mendengar itu. "Apa kamu tidak tersinggung?"
Renita hanya tersenyum mendengar pertanyaan Kara. "Memangnya ada manusia di dunia ini yang tidak punya aib? Kita manusia. Pasti pernah berbuat salah. Hanya saja seperti yang sudah kamu tahu, keluarga kami lebih sensitif dengan hal itu."
Kara menganggukkan kepala. "Jadi apa hubunganmu dengan Sekar?" tanyanya mengembalikan topik pembicaraan mereka.
"Ah ya, intinya kami saling kenal, tapi bisa dibilang ada ketegangan di antara hubungan kami berdua. Kami tidak bisa dibilang teman tapi kami lumayan saling tahu satu sama lain. Memang sedikit ambigu ... yah, intinya aku dan dia tidak pernah memiliki kesamaan hingga membuat kami dekat."
KAMU SEDANG MEMBACA
Privilege [END]
Ficción históricaWARNING: JANGAN LOMPAT KE CHAPTER BONUS JIKA TIDAK INGIN KENA MAJOR SPOILER! Kara tidak mengikuti seleksi untuk menjadi putri mahkota. Tapi, betapa terkejutnya dia ketika tahu kalau dia dipilih langsung oleh Putra Mahkota dan menjadi kandidat nomor...
![Privilege [END]](https://img.wattpad.com/cover/285559710-64-k957546.jpg)