11 - Kebenaran

18.7K 2.2K 74
                                        

Dita samar-samar mengingat ada salah satu temannya yang pernah bilang kalau ada tiga aspek perempuan yang mendeskripsikan mereka yaitu pintar, cantik dan waras. Temannya selalu berpendapat kalau perempuan hanya akan memiliki dua aspek secara bersamaan karena Tuhan adil dengan menciptakan manusia beserta kekurangannya.

Jika teori itu benar maka Dita bergidik membayangkan itu. Kara jelas adalah seorang jenius dan bisa dibilang parasnya cantik. Jadi kekurangan gadis itu jelas terletak pada kewarasannya. Dita sedang duduk di ruang kerjanya sambil menonton wawancara langsung Kara yang tayang di televisi. Begitu Kara menjawab dengan percaya diri kalau dirinya adalah anak yang lahir dari hubungan tanpa pernikahan, ia menjatuhkan pulpen dari tangannya dan perlahan tertawa.

"Dia benar-benar gila ..." komentar Dita tidak bermaksud menjelekkan temannya.

Ponselnya berbunyi pelan, saat Dita mengecek pesan yang masuk, isinya hampir sama. Baik ayah dan ibunya menanyakan pada Dita apa dia tahu fakta tersebut. Ia tidak langsung menjawab mereka dan kembali fokus menonton wawancara itu.

Sementara itu di studio tempat wawancara, hampir semua orang menarik napas karena kaget. Bahkan ada yang jelas-jelas menganga mendengar jawaban Kara.

Peter telah salah memilih lawan. Melihat tatapan mata Kara dia menyadari kalau gadis itu mungkin sudah gila. Ia menduga gadis itu akan mengelak atau mengalihkan pembicaraan, tapi justru Kara melakukan hal yang tak terduga, dia mengakui itu semua dan bahkan dengan aura lebih percaya diri.

Saat Peter kehabisan kata-kata Kara justru terlihat tenang. Ia bahkan menyilangkan kakinya hingga membuat jarik bawahnya sedikit menyibak dan menampakkan betis belakangnya. Peter yakin kalau menyilangkan kaki saat duduk melanggar tata krama keraton, tapi gadis itu terlihat sengaja melakukannya untuk menantang.

"Jadi, itu saja yang ingin anda tanyakan? Peter?" Tanya Kara yang menyadarkan Peter dari kekagetannya.

"Ehem .. saya tidak menyangka anda akan menjawabnya dengan to the point."

"Kenapa? you think I will afraid and avoid that question?" Tanya Kara dengan nada yang jelas percaya diri.

"Kenapa anda dengan percaya diri mengakui itu?" balas Peter dengan nada tidak percaya.

Kara terlihat berpikir sejenak. "Tentu saja karena I got nothing to lose and that is the truth anyway."

Peter terlihat sedang memutar otak untuk membalas Kara dan akhirnya satu hal yang muncul di benakknya, "Tapi bukannya anda punya adik? Berarti adik anda juga ..." tanya Peter dengan nada tanya dan ragu.

"Tidak. Adik saya adalah anak angkat. Dia adalah anak dari adik ibu saya. Karena orangtuanya meninggal saat dia masih kecil, ibu saya akhirnya menjadi wali dari Ragil sejak saat itu." Jawab Kara tegas.

Peter kali ini kehabisan kata-kata. Otaknya kosong melompong karena dia tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi seperti ini. Dia memang ahli dalam mengorek informasi jika orang yang diwawancarainya tidak mau atau enggan memberinya informasi. Tapi, Kara adalah sebuah pengecualian.

Kara memutuskan mengambil kesempatan dari keheningan Peter untuk melempar pertanyaan padanya, "Apa perlu anda menyerang saya sampai seperti ini?" 

"Maaf?" sergah Peter sedikit terkejut.

"Saya merasa tidak adil aja. Saya melihat semua wawancara anda dengan kandidat yang lain, tapi tidak ada pertanyaan yang terkesan pribadi dan merendahkan kandidat. Malah saya melihat anda bisa mengupas potensi dari tiap kandidat melalui wawancara kemarin."

Peter memikirkan apa yang harus diucapkan pada Kara. "Maaf jika pertanyaan saya terkesan menyinggung atau menyerang anda. Tapi pertanyaan terakhir tadi murni karena saya sebagai jurnalis merasa perlu mengkonfirmasi langsung berita itu saat ada kesempatan."

Privilege [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang