Dita mengambil kardus di atas meja lalu memindahkannya ke bagian logistik yang sedang membongkar barang. Saat ini dia, para kandidat dan dibantu oleh para staf Keraton ikut mempersiapkan acara perayaan pendirian kerajaan.
Acara ini akan dilaksanakan di Keraton selama tiga hari berturut-turut. Para tamu negara serta petinggi Nagaragung akan berkunjung secara bergantian. Acara ini akan menambah potensi kerjasama antar negara serta pengumpulan donasi untuk disumbangkan ke berbagai organisasi yang bergerak di bidang lingkungan, kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.
Dita bersama para kandidat sudah mempersiapkan konsep acara ini selama sebulan penuh tepat setelah presentasi pengajuan titah aturan. Selama sebulan pasca presentasi, semua kandidat mendapat banyak pujian serta dukungan dari masyarakat termasuk Sekar, terlepas dari asumsi masyarakat yang melekat padanya.
Selama sebulan penuh, Dita bekerja sama dengan empat kandidat lain sehingga ia cukup mendapat interaksi secara langsung dengan mereka semua. Ia tentu sudah mengenal Kara lebih daripada yang lain karena mereka pernah berada dalam satu organisasi yang sama, tetapi menjadi perencana acara seperti ini membuat dia melihat sisi yang baru dari Kara. Meski begitu, selama sebulan terakhir, Dita juga berkesempatan melihat sisi lain dari setiap kandidat.
Senyum kecil terbentuk di sudut bibir Dita, Renita yang berjalan menyalipnya melambatkan langkah dan bertanya, "Kenapa mas?"
Senyum kecil Dita hilang dengan cepat, diganti dengan ekspresi terkejut, "Eh, nggak kok ..." Jawabnya tenang. Renita menatapnya dengan ekspresi tidak percaya tapi melanjutkan pekerjaannya sambil berjalan menjauh.
Dita mau tidak mau tersenyum kecil lagi. Waktu satu bulan yang intens sungguh membuatnya bisa dekat dengan semua kandidat. Kini, tidak hanya Kara yang memanggilnya tanpa gelar, tiga kandidat lain juga memanggilnya dengan mas dan bahkan Eka hanya menyebutnya dengan nama saja. Dita tidak keberatan dengan itu, karena toh Eka lebih tua darinya. Ia meminta pada Orangtuanya untuk tidak dilibatkan dalam acara luar Keraton karena ingin terlibat langsung dalam perencanaan acara ini. Rasanya menyenangkan bisa menjadi perencana acara ini, ia merasa kembali pada masa kuliah saat menjadi panitia acara.
Kara terlihat berdiskusi serius dengan Raga dan Deka, mereka berdua berdiri di kanan-kiri gadis itu mendengarkan. Keduanya kemudian mengangguk mengerti lalu berjalan menjauh untuk melakukan apapun yang diucapkan Kara.
Dita menghampiri gadis itu, "Semuanya baik-baik saja?" tanya Dita saat sudah dekat. Ia masih membawa kardus di tangan.
Kara menatap ke arahnya mengangguk, "Iya, semuanya terkendali." Sebelum sempat menjawab lagi, Kara pergi sambil memanggil Lita dan Renita yang sedang membantu memindahkan barang.
Dita menghembuskan napas. Raga tiba-tiba berdiri di sebelahnya lalu berbisik, "Wah, lama juga ngambeknya." Gumamnya pelan.
Dita menoleh ke arah Raga lalu menendang kakinya pelan, tetapi Raga melebih-lebihkan reaksi. Dita memandangnya dengan ekspresi datar lalu berjalan pergi, "Dasar anak kecil."
Raga mengambil kardus lalu berjalan menyusul Dita. Saat ia sudah berjalan bersama Dita, ia tersenyum pada Dita, "Apa anda sudah meminta maaf pangeran?" Tanya Raga dengan nada bicara yang dibuat-buat.
Dita melebarkan bibirnya sehingga membentuk senyum datar, "Kamu pikir aku tidak melakukannya?"
Raga menaikkan kedua pundakknya, "Yah, apa yang pangeran lakukan lumayan berlebihan dan cukup menusuk." Komentar Raga dengan nada menyebalkan.
Dita ingin sekali memukul kepala belakang Raga tapi ia menahan diri. "Maukah kamu datang ke kantorku setelah acara ini? aku ingin menghajarmu." Ucap Dita dengan bibir tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Privilege [END]
Ficción históricaWARNING: JANGAN LOMPAT KE CHAPTER BONUS JIKA TIDAK INGIN KENA MAJOR SPOILER! Kara tidak mengikuti seleksi untuk menjadi putri mahkota. Tapi, betapa terkejutnya dia ketika tahu kalau dia dipilih langsung oleh Putra Mahkota dan menjadi kandidat nomor...
![Privilege [END]](https://img.wattpad.com/cover/285559710-64-k957546.jpg)