Hari ketiga perayaan pendirian kerajaan di Keraton tidak seramai hari pertama dan kedua karena jumlah tamu yang datang hanya dibatasi tiga orang perwakilan dari setiap negara. Saat para kandidat sedang evaluasi sekaligus briefing pagi di ruang tamu tempat tinggal kandidat, energi mereka semua sudah hampir habis.
Para Dayang sudah membawakan makanan ke tempat tinggal para kandidat untuk menghemat waktu. Seperti kemarin, mereka berdiskusi untuk persiapan hari ini.
Renita yang menjadi penanggung jawab acara hari ini banyak memberikan nasihat karena dia juga seorang pakar. Ia membuat daftar hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berinteraksi dengan para tamu negara.
Setelah selesai menjelaskan semuanya, Renita memperhatikan kandidat lain yang sudah hilang fokus. "Kalian paham kan?" Konfirmasi Renita pada semua kandidat, dan direspon dengan anggukan.
Briefing pagi mereka akhirnya diakhiri Renita, lalu mereka baru mulai sarapan dengan makanan yang dibawakan Dayang.
"Jadi, laki-laki kemarin itu siapa Ra?" Tanya Lita pada Kara.
"Kenalan." Jawab Kara pendek sambil meminum jusnya.
Renita menoleh ke arah Lita, "Hah? Emang ada apa kak?"
"Kemarin waktu aku dan Kara mau kembali ke paviliun, tiba-tiba ada lelaki bertopeng yang mungkin peserta lelang, ngajak dia bicara. Yah jadi aku balik sendirian deh."
Eka mengamati Kara lalu angkat bicara, "Loh, kalau begitu kamu punya teman konglomerat dong?"
Kara menggelengkan kepala,"Nggak kok, dia anak dari keluarga biasa aja."
Eka menatap ke arah Renita lalu Sekar, "No Offence ya, tapi setahuku acara lelang itu tidak sembarang orang yang bisa ikut. Kamu harus diundang untuk bisa berpartisipasi. Kalau acaranya agak privat seperti kemarin, ya pakai topeng. Iya kan Ren? Keluargamu pasti dapat undangan kan?"
Renita menatap Kara, "Iya, biasanya dalam satu keluarga akan diberi dua undangan, suami dan istri. Tapi jika tidak bisa hadir, bisa diwakilkan oleh anak. Saat datang mereka akan mengecek barcode undangan lalu memberikan nomor yang digunakan untuk lelang." Jawabnya hati-hati.
Kara terlihat ragu, "Nggak kok, aku yakin dia keluarga biasa saja ..." Jawabnya dengan nada ragu.
"Memangnya dia pernah mengajakmu ke rumahnya? Atau berapa lama kalian kenal?" Tanya Renita.
Kara terlihat berpikir sampai dia akhirnya menjawab, "Ah, sepertinya aku tidak tahu apa-apa tentang latar belakang keluarganya."
Renita mengusap jidatnya kehabisan kata-kata. Ia kemudian melahap sesendok makanan dari sarapannya. Ia memperhatikan tindakan tiga orang yang duduk di depannya. Lita meskipun sedang makan, ekspresinya menunjukkan kalau dia sedang berpikir keras akan sesuatu, sedangkan Eka terlihat tidak peduli seperti biasanya.
Renita masih ragu dengan Kara. Setelah mendengar pembicaraan tentang lelang, ekspresinya sudah tidak fokus seperti sedang melamun. Sebelum sempat berkata apa-apa, Lita angkat bicara lagi.
"Kamu adalah gadis yang kena skandal itu kan?"
Kara terkejut mendengar pertanyaan Lita sedangkan Renita dan Eka memandang ke arah Lita. Saat Renita mengalihkan pandangan ke arah Kara yang ekspresinya berubah menjadi dingin. "Kalau iya kenapa kalau bukan juga kenapa?"
Lita terlihat terkejut sekaligus tersinggung mendengar itu, "Kalau Iya, harusnya bukan Sekar yang keluar tapi kamu. Kalau tidak, lalu kenapa kamu masih bertahan? Memang kamu bertahan untuk uang, tapi kamu tidak perlu juga kan bertahan sampai akhir? Harusnya kalau kamu punya nurani, ambil saja uang secukupnya lalu keluar dari seleksi ini."
Eka sekalipun terkejut mendengar ucapan Lita. Seorang yang pendiam justru paling frontal dalam menyampaikan pendapat hingga membuat Eka dan Renita bertukar pandang. Renita tidak mengakuinya, tetapi dia setuju dengan pertanyaan Lita. Kalau Kara tidak ada niatan untuk menjadi putri mahkota, lantas kenapa dia bertahan sampai akhir? Kalau alasannya hanya uang, ada berbagai faktor yang membuat Renita ragu. Ia merasa Kara punya alasan selain demi uang kompensasi.
Eka bergumam kecil, "Yah ucapan Lita masuk akal juga." Ia duduk bersandar di sofa sambil melingkarkan kedua lengan di dada.
Kara hanya menghembuskan napas lalu menjawab, "Kalau aku memang punya tujuan lain selain uang, memangnya kenapa?"
Kali ini Renita tidak bisa menahan diri lagi, "Memangnya apa tujuanmu?"
Kara memandang ke arah Renita lalu menjawab sambil tersenyum, "I won't tell you ..."
Mendengar jawaban Kara, Renita semakin kesal. "Aku nggak peduli apa tujuan lainmu ke sini, tapi jika itu sudah merugikan orang lain, yah sepertinya ekspektasiku terhadap sifatmu terlalu tinggi."
Renita beranjak berdiri diikuti dengan Kara yang melakukan hal yang sama, "Aku menyarankan kamu tidak cepat berasumsi. Semua akan terungkap saat seleksi ini berakhir!" Jawab kara kemudian dengan langkah cepat berjalan ke ruangannya.
Renita yang sudah berdiri akhirnya duduk lagi di tempatnya. Bukan hanya dirinya yang sedang kesal. "Kalian juga merasa sikapnya aneh kan?" Tanya Lita.
"Ya .. ada hal yang sangat mengganjal dari Kara." Komentar Eka pelan.
"Aku sebenarnya tidak percaya dengan asumsi publik tentang Sekar. Aku yakin gadis dalam skandal itu bukan dia." Jelas Renita yang membuat Eka dan Lita menoleh ke arahnya.
"Hah?"
"Memangnya bagaimana kamu bisa yakin?" Tanya Eka.
"Aku kenal dengan seorang yang pernah disukai Sekar. Skandal itu di klaim terjadi waktu kita melakukan jadwal kunjungan ke Borneo, laki-laki itu sedang ada di luar negeri." Jawab Renita tenang.
Eka mendengus pelan sedangkan Lita mengusap-usap peningnya. "Entah kenapa aku yakin Kara adalah gadis dalam skandal itu." Tambah Lita.
"Masalahnya jika dia gadis dalam skandal, kenapa yang keluar justru Sekar. Bukannya kemarin kita semua diinterogasi oleh Gusti Pangeran sendiri?" Tanya Eka pelan.
"Kalau Gusti Pangeran tahu Kara kencan dengan laki-laki lain, kenapa dia masih dipertahankan? Tindakannya sudah tidak bermoral kan?" Tanya Lita lagi kini menatap ke arah Renita. Eka juga menunggu jawaban dari Renita.
Renita menggeleng pelan, "Aku juga tidak bisa menebak apa alasannya bertahan. Tapi, satu hal yang pasti, Kara pasti punya alasan lain selain uang. Tapi, kenapa kak Lita bisa yakin gadis dalam skandal itu bukan Sekar?"
"Apa gadis dalam skandal itu kak Eka?" Tanya Lita sambil menatap Eka yang otomatis dijawab dengan gelengan kepala cepat. "Bukan lah .."
"Apa itu kamu?" Tanya Lita pada Renita.
"Bukan .." jawabnya tenang
"Itu alasanku curiga padanya. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaanku dengan Iya atau tidak. Seperti yang kalian lihat dia menghindari pertanyaanku tadi." Jawab Lita.
Renita membalik pertanyaan Lita, "Berarti gadis itu bukan kakak kan?"
"Ya gak lah, waktu itu kan jadwalku pergi berdua dengan Gusti Pangeran." Sergahnya membela diri.
Lita kemudian teringat sesuatu, "Dan lagi, sepertinya kasus skandal kemarin, polanya sama dengan kasus wawancara. Sepertinya ada orang yang ingin Kara keluar dari seleksi ini."
Renita mendongak ke arah pintu kamar Kara di lantai dua, ia masih teringat dengan ucapan Kara sebelum pergi. Renita memuskan untuk tidak langsung berasumsi apapun sebelum dia mendapat informasi dari berbagai pihak. "Kita lihat saja nanti, apakah kecurigaan ini benar atau salah." Ucap Renita tenang.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Edited: 03/08/2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Privilege [END]
Ficción históricaWARNING: JANGAN LOMPAT KE CHAPTER BONUS JIKA TIDAK INGIN KENA MAJOR SPOILER! Kara tidak mengikuti seleksi untuk menjadi putri mahkota. Tapi, betapa terkejutnya dia ketika tahu kalau dia dipilih langsung oleh Putra Mahkota dan menjadi kandidat nomor...
![Privilege [END]](https://img.wattpad.com/cover/285559710-64-k957546.jpg)