Lanjutan Chapter 20
--------
Gusti Pangeran merasa panik. Baru beberapa hari lalu dia mendapat informasi dari Peter bahwa orang yang menyuruhnya menjatuhkan Kara berasal dari Keluarga Pihak Ayah Kara sendiri. Tapi, kenapa utusan resmi dari keluarga Ayah Kara mengirim orang untuk datang ke sini secara resmi?
Ada hal yang tidak masuk akal di sini. Raga sudah ada di ruangan Dita saat dia masuk. Dita menoleh padanya sekilas, "Mungkin kamu harus ikut mendengarkan ini juga."
Adiknya hanya menaikkan alis penuh tanya, tapi belum sempat menanyakan sesuatu, pintu ruang kerja diketuk pelan.
"Masuk." Jawab Dita sambil beranjak duduk.
Dayang yang tadi menemuinya datang dengan diikuti seorang lelaki lanjut usia yang memakai jas resmi lengkap dengan topi bundar di kepala. Ia melangkah masuk kemudian memberi salam pada Dita sambil melepas topinya. Ia kemudian mempersilahkan si tamu untuk duduk dan seketika si Dayang memberi salam sambil keluar ruangan.
Utusan itu menempatkan diri duduk di depan Dita setelah dipersilahkan lalu segera memperkenalkan diri. "Sebuah kehormatan bagi saya hingga bisa bertemu dengan Gusti Pangeran. Perkenalkan, saya Leonardus Satria sekretaris pribadi dari bapak Yulian Udharmana Rajasa."
Gusti Pangeran meremas pegangan kursinya, lalu memberikan senyuman ramahnya. Ia sekilas menangkap bayangan Raga yang berdiri di belakang si sekretaris mengamati dengan tatapan tajam.
"Keluarga Rajasa? Saya tidak menduga Kara adalah anak dari keluarga sebesar itu." Sergah Dita memandang lurus pada si Sekretaris.
Leonardus mengeluarkan amplop dari tasnya lalu menarik isinya keluar. Ada dua foto lama dan sebuah surat keterangan DNA. Ia membuka pembicaraan, "Bapak Yulian sudah mengetahui kalau dia memiliki anak perempuan. Beliau juga menyadari itu, tapi demi keamanan dari anak dan ibu, beliau sengaja tidak melakukan apa-apa mengenai situasi itu. Jika anda lihat dua foto itu adalah salah satu-satunya foto beliau dengan anak perempuannya saat masih kecil."
Dita menarik salah satu foto itu dan melihat foto laki-laki dengan seorang bayi yang Dita yakin belum genap berumur dua tahun. Foto satunya masih dengan orang yang sama, dengan si anak yang sudah berdiri dan wanita lanjut usia di latar agak jauh.
"Apa tepatnya tujuanmu menunjukkan semua ini?" Tanya Dita sambil menatap Leonardus.
"Seperti yang saya klaim dari awal kedatangan saya di sini, Keluarga Rajasa ingin mengakui Kartika sebagai anak dan juga mengajaknya untuk pulang ke rumah untuk diperkenalkan pada keluarga besar kami."
Dita tertawa cukup lama lalu menghembuskan napas, "Bukannya ini sudah terlalu terlambat? Kenapa baru mengakuinya sekarang? Apa karena ada kemungkinan bagi Kartika menjadi keluarga Keraton?"
Leonardus terlihat berpikir sejenak, "Satu-satunya alasan Pak Yulian tidak mengakui beliau adalah untuk menyembunyikan keberadaan dan melindungi Mbak Kartika sendiri. Tetapi, momen begitu dia menjadi kandidat putri mahkota, tentu saja tidak ada alasan lagi untuk menyembunyikan keberadaan mbak Kartika karena cepat atau lambat, orang akan mengetahui siapa keluarga Ayahnya."
Ucapan Leonardus terkesan biasa saja, tapi tatapan matanya tajam seakan menyalahkan Dita karena sudah membuat semua ini terjadi.
"Sayangnya, saya di sini hanya sebagai tuan rumah tidak bisa memutuskan itu sekehendak saya. Seperti yang sudah kamu tahu, Kara sendiri yang menolak untuk bertemu dengan keluarga dari pihak ayahnya."
Leonardus menghembuskan napas sambil membuang muka. "Apa anda yakin Mbak Kara sendiri yang menolak dan bukan karena ada pengaruh dari pihak lain?" Tanyanya serius.
Dita mengamati utusan itu. Ucapannya cukup tidak sopan untuk seorang utusan, tapi Dita merasa lelaki itu tidak menyindirnya, tapi dia merasa tersindir karena dia memang orang yang memperingatkan Kara untuk tidak dekat-dekat dulu dengan keluarganya.
"Pengaruh pihak lain ya?" Dita membuat ekspresi seakan berpikir sejenak lalu menjawab dengan singkat, "Ah, sepertinya pihak lain itu saya. Beberapa hari lalu saya memperingatkan Kara untuk tidak terlibat dengan keluarga Ayahnya, dan sepertinya dia mengindahkan ucapan saya."
Leonardus jelas tampak terkejut. Dita yakin kalau dirinya bukan Pangeran, lelaki paruh baya itu sepertinya akan membentaknya saat itu juga. Tetapi, sebagai tamu, Leonardus terlihat mencoba bersabar lalu bertanya,"Kenapa anda menyuruh Kara menghindari keluarga dari pihak ayahnya."
"Apa anda bisa dipercaya?"
Kali ini Leonardus tampak tersingung, "Tentu saja, saya adalah sekretaris pak Yulian sendiri, dan saya sudah bekerja untuk beliau selama dua puluh tahun!"
Dita tersenyum kecil, "Kamu ingat wawancara Kara dengan Peter yang membahas tentang kelahirannya?"
Leonardus mengangguk,
Dita lalu melanjutkan, "Pertanyaan kontraversial dari Peter saat itu menghebohkan publik, dan cukup membuat saya mempertanyakan langsung pada yang bersangkutan, kenapa dia sampai menyerang Kara. Walaupun dia tidak bisa menjawab langsung, Peter menjawab kalau ada orang yang menyuruhnya. Sayangnya bukan dari kandidat lain melainkan dari keluarga Kara sendiri."
Dita memberi jeda sejenak agar Leonardus mencerna ucapannya. "Keluarga dari ibunya sudah tidak ada jadi hanya menyisakan ... Keluarga dari pihak Ayah."
Bahkan setelah mengucap itu, Leonardus kehilangan kata-kata dan membeku.
"Jadi aku menyarankan kalian untuk mencari siapa yang melakukan itu. Lalu satu hal yang perlu kalian ketahui, Ibu Sastrianingtyas hari ini datang ke sini dan mengajukan diri untuk menjadi salah satu pengajar kandidat Putri Mahkota."
Leonardus menoleh pada Pangeran dengan mata terbelalak. "Ibu Pak Yulian?"
Dita menaikkan alisnya, "Oh jadi benar ingatanku, Kalau begitu Pak Yulian adalah sepupu Ayah, jadi dia pamanku."
"Apa anda akan menerima Ibu Sastri menjadi pengajar?"
"Well, tidak ada alasan untuk menolaknya juga ..."
Leonardus diam seribu bahasa. "Kenapa kamu diam?"
"Saya tidak tahu harus bicara apalagi karena situasinya berbeda dari dugaan saya."
"Baiklah begini saja. Untuk sekarang lebih baik keluarga Rajasa tidak mengeluarkan berita apapun atau mencoba mendekati Kara. Anak itu belum siap. Lebih baik kalian coba cari pelakunya. Sebagai gantinya, aku akan memberi kesempatan pada keluarga Rajasa untuk menjadi anggota penilai kandidat putri mahkota, bagaimana?"
"Saya akan sampaiakan ucapan Gusti Pangeran pada Pak Yulian. Lalu apa yang akan anda lakukan dengan ibu Sastri?"
"Hmmm, beliau tidak terlihat mau mencari masalah. Lagipula beliau tidak akan merendahkan diri di depan kandidat. Jadi tidak mungkin dia akan menjelekkan kandidat itu sendiri. Saya cukup mengenal beliau."
Leonardus kemudian mengangguk mengerti. "Baik saya mengerti. Saya akan sampaikan pesan anda pada pak Yulian. Saya mohon pamit dulu Gusti Pangeran."
"Silahkan, tolong sampaikan pada beliau, bahwa aku akan melindungi semua kandidat selama mereka ada dalam pengawasan Keraton."
Leonardus tersenyum. Ia berdiri lalu baru saja akan memasukkan foto dan bukti DNA ke dalam tasnya ketika Dita menahannya. "Tinggalkan itu di sini, aku akan memberikannya pada Kara."
Leonardus memberi salam pada Dita lalu pamit pergi.
Kini Raga yang menempati tempat Leonardus tadi duduk. Ia melihat foto anak kecil itu dengan senyum kecil menghiasi sudut bibirnya.
"Berikan foto itu pada Kara dan tinggalkan surat bukti DNA-nya." Sergah Dita tenang.
"Aku tidak suka Leonardus, tapi aku yakin dia bukan orang yang jahat." Celetuk Raga.
Raga mengambil dua foto itu lalu memasukkannya pada amplop kertas yang sama dan memberikan surat bukti DNA pada Dita. Ia kemudian beranjak berdiri lalu keluar dari ruangan Dita.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Edited: 04/08/2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Privilege [END]
Historical FictionWARNING: JANGAN LOMPAT KE CHAPTER BONUS JIKA TIDAK INGIN KENA MAJOR SPOILER! Kara tidak mengikuti seleksi untuk menjadi putri mahkota. Tapi, betapa terkejutnya dia ketika tahu kalau dia dipilih langsung oleh Putra Mahkota dan menjadi kandidat nomor...
![Privilege [END]](https://img.wattpad.com/cover/285559710-64-k957546.jpg)