Acara pelelangan untuk amal sungguh tidak main-main. Selama acara berlangsung Kara tak henti-hentinya menganga dengan harga akhir pelelangan suatu barang. Bahkan ia sampai hampir tersedak minumannya selama acara berlangsung. Ia bersyukur kandidat putri mahkota tidak diperbolehkan untuk mengikuti pelelangan. Jika mereka ikut, Kara bahkan tidak akan bisa membayar harga dasar.
Setelah sebuah perhiasan terjual, staf mengeluarkan sebuah kotak lalu dari dalamnya sebuah botol dikeluarkan.
"Sebotol wine Cheval Blanc produksi empat puluh lima tahun lalu, koleksi pribadi salah seorang kolektor di Nagaragung. Harga dimulai dari angka lima puluh. Silahkan." Jelas pembawa acara.
Kara menoleh pada kandidat lain, "Maksudnya lima puluh itu bukan yang ribu kan?"
Eka memandang ke arahnya, "Tentu saja yang juta sayang."
"Seratus." Tawar seseorang di ujung sana.
"Dua ratus." Tambah orang lainnya.
Kara menganga, pandangannya terus mengarah pada setiap sumber suara yang muncul bergantian.
"Kita punya penawar di angka tiga ratus lima puluh, ada lagi yang mau menawar lebih tinggi? Tiga ratus lima puluh?"
"Lima ratus."
"Penawar baru harga lima ratus oleh pemuda yang ada di sana. Ada yang mau menambah lagi?"
Kara bergumam mempertanyakan bagaimana rasa wine dengan harga seperti itu lalu Renita bertanya, "Bukannya kamu sudah pernah minum anggur itu?"
"Hah kapan?" Tanya Kara.
"Waktu liburan di villa keluargaku kamu tidak coba winenya?"
"Kamu menyajikan Cheval Blanc???" Tanya Kara dengan nada terkejut.
"Tidak cuma itu, seingatku ada juga screaming eagle cabernet dan apa itu rothschild?? Pokoknya kalau mas Dika ikut, pasti ada wine aneh-aneh. Dia itu kolektor wine." Jawab Renita tenang.
Harga lelang audah mencapai angka delapan ratus saat Kara meratapi nasib, "Astaga, kalau tahu pasti aku coba semua winenya!"
Lita dan Eka tertawa tanpa suara. "Kamu melewatkan kesempatan nak .." celetuk Eka sambil menepuk punggung Kara pelan.
"Lain kali, kalau kamu main ke pesta yang diadakan Renita, coba semua minumannya, tidak mungkin mereka menyajikan minuman murah." Nasihat Lita pelan.
"Ya harga sudah ada di sembilan ratus tujuh puluh lima, ada lagi yang mau menawar lebih dari angka sembilan tujuh lima?"
"Seribu seratus." Tawar seseorang.
Kara masih meratapi kebodohannya. Ketika akhirnya wine terjual pada seorang pemuda.
Para audiensi bertepuk tangan sopan. "Kira-kira mas Dika masih ada wine ini tidak ya?"
Renita tersenyum, "Aku tidak tahu, tapi sepertinya keluargaku juga ikut dalam pelelangan ini jadi kalaupun winenya sudah habis, bisa saja mas Dika yang membeli wine ini."
Kara bergidik mendengar ucapan itu. "Tapi belum tentu mas Dika mau membagikan koleksinya ..." tambah Renita dengan senyuman penuh arti pada Kara yang berharap. Ia tidak percaya bisa melewatkan wine harga milyaran.
"Baiklah pelelangan barang sudah selesai. Kali ini kita memasuki pelelangan spontanitas. Berikutnya adalah penawaran dari keluarga keraton. Mereka menawarkan makan malam bersama kandidat putri mahkota. Pembeli penawaran diperbolehkan menunjuk salah satu dari empat kandidat untuk diundang makan malam bersana keluarga anda dalam kurun waktu seleksi berlangsung. Penawaran tidak berlaku jika Gusti Pangeran sudah memilih putri mahkota."
KAMU SEDANG MEMBACA
Privilege [END]
Fiction HistoriqueWARNING: JANGAN LOMPAT KE CHAPTER BONUS JIKA TIDAK INGIN KENA MAJOR SPOILER! Kara tidak mengikuti seleksi untuk menjadi putri mahkota. Tapi, betapa terkejutnya dia ketika tahu kalau dia dipilih langsung oleh Putra Mahkota dan menjadi kandidat nomor...
![Privilege [END]](https://img.wattpad.com/cover/285559710-64-k957546.jpg)