40 - Bum!

14K 1.8K 99
                                        

Renita sedikit tidak nyaman dengan suasana diantara kandidat saat mereka bersiap untuk pergi ke aula tempat acara dilaksanakan. Apalagi Kara yang seorang ketua pelaksana keseluruhan acara tidak banyak bicara sejak kejadian tadi.

Renita akhirnya memanggil mereka sebelum keluar dari paviliun, "Teman-teman boleh aku menyampaikan sesuatu sebentar?"

Eka, Lita dan Kara yang sudah hampir melangkah keluar akhirnya berhenti. "Aku harap perdebatan kita tadi tidak akan menganggu profesionalitas kerja kita nanti. Mari kita simpan perbedaan pendapat itu di sini dan keluar tanpa memikirkan beban pikiran apapun." Renita mengucapkan itu sambil memandang tiga kandidat lain bergantian. Mereka semua hanya bergumam baiklah pelan lalu bergantian keluar dari paviliun.

Renita tidak berharap mereka akan menggubris ucapannya, tetapi Renita beruntung karena ternyata semua kandidat berinteraksi dengan tamu dengan baik tanpa ada yang memperlihatkan mereka sedang ada masalah.

Entah kenapa, hari ini Renita tidak bersemangat. Setelah berinteraksi dengan beberapa tamu negara, ia mengambil camilan dan minuman lalu menempatkan diri duduk di sudut untuk mengunyah camilan. Ia melihat Kara yang dengan nyaman berinteraksi  dengan para tamu negara dengan menggunakan bahasa asing.

Lita dan Eka juga terlihat sama tenangnya bisa berinteraksi dengan tamu negara lain. Hari ini entah kenapa Renita merasa gelisah seakan ada sesuatu besar yang akan terjadi.

Tidak lama setelah berpikir seperti itu, Tatang penjaga pribadinya tiba-tiba datang. Renita sedikit terkejut melihat itu karena sejak ada skandal kencan kemarin, para penjaga diminta untuk menjaga jarak dengan kandidat kecuali pada situasi tertentu. Mereka masih terlihat di keraton seperti biasa, tetapi meminimalisir interaksi dengan kandidat jika tidak diperlukan.

"Mbak Renita, maaf menganggu, tapi sepertinya mbak Renita harus melihat berita di internet." Ucapnya pelan lalu menepi menjaga jarak dari Renita.

"Memangnya ada apa?" Tanya Renita sambil meletakkan piring makanannya ke meja terdekat lalu merogoh tas kecilnya untuk mengambil ponsel. Ia memperhatikan kalau penjaga kandidat lain juga mendatangi para kandidat. Tatang menghembuskan napas, "Sepertinya mbak Renita harus melihat sendiri."

Renita membuka portal berita dan terkejut dengan headline berita utama.

(Eksklusif klip) Para kandidat berdebat tentang gadis skandal, ternyata bukan Sekar?!

Sebuah video cuplikan menampilkan video pertengkaran mereka pagi tadi. Klip itu dimulai dari pertanyaan Lita pada Kara dan berakhir saat Renita mengatakan untuk melihat situasi. Dia langsung berdiri dan menghampiri Tatang. "BAGAIMANA MUNGKIN MEREKA MENDAPAT KLIP DOKUMENTASI INI?" Tanya Renita pelan tapi dengan nada bahaya.

Tatang menggelengkan kepala cepat, "Saya juga tidak tahu. Pihak Keraton saat ini sedang menginterogasi tim dokumentasi, karena seperti yang anda ketahui, sebelum penayangan pihak stasiun televisi harus mendapat konfirmasi dari Keraton untuk menayangkan acara dokumentasi. Sepertinya cuplikan video ini disebar oleh orang yang sengaja ingin menjatuhkan ...." Tatang terdiam sambil melihat ke belakang Renita.

Saat Renita berbalik, ia melihat Ibu Sastria mendatanginya lalu dengan lugas berkata, "Cepat keluar dari aula dan masuk ke paviliun tempat tinggal kalian sekarang. Dayang Riani akan mengurus acara ini sampai selesai."

Renita tidak sempat menjawab karena ibu Sastria sudah mendorongnya untuk berjalan. Akhirnya tanpa banyak perlawanan Renita segera berjalan pergi diikuti oleh Tatang.

Saat dia sudah sampai di Paviliun tempat tinggal kandidat, suasana di dalam sangat suram. Semua dayang pribadi sudah bersiaga di sana. Lita duduk sambil terfokus pada ponselnya begitu juga dengan Eka. Hanya Kara saja yang berdiri sambil mondar-mandir dengan ekspresi cemas.

Tidak lama setelah Renita masuk, Ibu Sastria melangkah masuk yang seketika membuat mereka semua tenang. Tapi Kara tidak berpikir seperti itu.

Kara berjalan menghampiri Ibu Sastria lalu dengan air mata mengalir berkata, "Ibu puas sudah melakukan ini semua? Puas sudah menghancurkan reputasi saya?! Puas sudah menjadikan saya bahan hujatan seluruh kerajaan?" Omelnya pada Ibu Sastria.

Renita, Lita dan Eka saling pandang dengan ekspresi tanya.

Eka mengeluarkan suara terkejut yang mengalihkan perhatian seluruh ruangan ke arahnya. Ia lalu memandang ke arah Kara, "Jadi gadis dalam skandal itu kamu Ra?!" Teriak Eka sambil menunjukkan berita dalam ponselnya.

Renita menghampiri Eka dan melihat Foto yang tersebar di internet menunjukkan Kara terlihat tertawa bahagia, dengan lelaki yang identitasnya tidak diketahui karena angle foto hanya menampakkan punggung lelaki dengan wajah Kara yang menatap ke arah si lelaki.

Ibu Sastria terlihat memejamkan mata seakan jengkel akan sesuatu sedangkan Kara berteriak kesal lalu mengalihkan pandangan pada Ibu Sastria dengan ekspresi kesal. Tetapi, wanita tua itu tidak bergeming dengan pelototan dari Kara. Ia dengan tenang meraih ponselnya lalu menelpon seseorang, "Lugi, beritahu wartawan untuk memberitakan sesuatu." Jeda sejenak.

"Bilang pada mereka, kalau Kartika Anjani kandidat nomor lima seleksi putri mahkota adalah bagian dari keluarga Rajasa. Dia adalah anak dari Yulian Udharmana Rajasa, penerus resmi keluarga Rajasa." Panggilan telepon itu segera diakhiri.

Renita, Lita, Eka dan para Dayang terkesiap mendengar ucapan Ibu Sastria, sedangkan Kara hanya menghembuskan napas pasrah. Mereka semua menatap Kara yang berjalan ke sofa lalu menjatuhkan diri di sana.

Renita secara spontan bertanya, "Kamu dari keluarga Rajasa????" Tanyanya dengan menekankan kata Rajasa.

"Lalu nenekmu adalah Ibu Sastria ..." ucap Eka sambil memandang Ibu Sastria.

"... Adik mendiang Ratu sebelumnya ..." Lanjut Lita sambil menoleh ke arah Bu Sastria juga.

Kara hanya menggerutu, "Yah, seperti itulah." Jawabnya tidak peduli.

"Kenapa kamu marah pada Bu Sastria? Apa kamu tidak tahu bagaimana reputasi beliau?" Gerutu Renita kesal.

Kara membela diri, "Aku mendapat informasi kalau orang yang menyerangku berasal dari keluarga pihak ayahku. Siapa lagi orang yang membenciku kalau bukan beliau ..." Jelas Kara sambil menekankan kata beliau dengan nada tidak enak.

"Menyerang?" Tanya Eka bingung.

"Maksudnya mungkin skandal kencan kemarin?" Celetuk Lita pelan.

"Tidak hanya itu, wawancara menjebak dari Peter dan kemungkinan skandal hari ini juga." Jelas Kara.

"Jadi skandal kencan itu benar kan? Tapi kenapa malah Sekar yang mengundurkan diri? Apa jangan-jangan dia dijadikan tumbal untuk menutupi skandal kencanmu Ra?" Tuduh Lita keras.

Dayang Lita mendatanginya dan memegang pundaknya dari belakang. "Wah, lihat sendiri kan dia hanya diam." Tambah Lita dengan nada kesal.

Renita tertawa sarkas, "Wah jadi Sekar hanya tumbal?" Ucap Renita tidak spesifik disampaikan pada siapapun.

"Apa kamu lupa bagian terpentingnya? Apakah pihak Keraton tahu ini semua dan tetap melindungi anak ini atau mereka benar-benar tidak tahu apa-apa." Jelas Eka sambil memandang lurus ke arah Kara dan para Dayang.

Kara hanya bisa menghembuskan napas keras. Ia tak merespon semua itu. Saat suasana hening, Renita mulai merenungkan semua kejadian yang terjadi beberapa bulan belakang. Semua ini seperti potongan puzzle yang perlu disusun. Tapi bagaimanapun Renita berpikir, ia belum bisa mendapatkan jawaban mengenai alasan Kara tetap bertahan di seleksi kali ini.

Ketika Renita tenggelam dalam pikirannya, Ibu Sastria akhirnya mengakhiri keheningan, "Jadi itu alasan kenapa kamu sangat membenciku." Celetuknya pada Kara.

"Tidak hanya itu, perlakuan anda pada Ibu saya dulu juga membuat saya benci pada Anda." Tambah Kara.

Renita merasa pertengkaran antar keluarga ini masih berlanjut. Maka dia menepuk pundak Eka dan Lita pelan lalu menunjuk ke arah atas. Renita lalu mengajak kandidat dan dayang untuk naik. Eka dan Lita saling pandang sebelum akhirnya mengikuti teladan Renita meninggalkan Kara dan Ibu Sastria di ruang tamu.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mari kita stres bersama :)
Edited: 03/08/2022

Privilege [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang