Mbok Kinan memberikan selembar kertas pada Kara. Pihak Keraton benar-benar mendengarkan kritik dan saran mereka. Melihat jadwal barunya untuk sebulan itu Kara terkesan dengan perubahan drastis jadwal untuk Para kandidat.
Kini jadwal kegiatan mereka dibagi menjadi tiga jenis. "Jadwal berwarna kuning adalah materi teori kelas dengan jam yang sudah banyak dikurangi, lalu warna hijau adalah kegiatan praktikal seperti latihan fisik, memasak, bela diri juga kegiatan yang melatih kandidat secara praktikal tapi nanti masih ada pembicaraan lebih lanjut mengenai latihan praktikal selain tiga kegiatan tadi. Lalu untuk warna biru, adalah event untuk kandidat berpartisipasi di acara yang harus dihadiri oleh Keluarga Keraton. Beberapa acara akan didatangi oleh semua kandidat dan ada juga acara yang hanya diakhiri berdua saja dengan Gusti Pangeran." Jelas mbok Kinan pada Kara.
Gadis itu masih memandangi kertas jadwal yang ada di tangannya. Mereka sudah membuat sebuah jadwal dengan pengelompokan data warna. Kara menyadari kalau pihak keraton menanggapi saran Lita dengan serius. Jadwal mereka dimulai pukul sembilan pagi dan selesai tepat jam enam sore. Meskipun Kara masih belum tahu bagaimana eksekusi di lapangan, ia sudah cukup lega dengan jadwal yang dikurangi. Apalagi bagian materi teori sudah banyak dikurangi dari jadwal resmi.
Sebagai gantinya hampir ada kegiatan berwarna biru setiap hari.
"Kalian tentu sudah tahu kalau sulit untuk bertemu dengan Gusti Prabu dan Gusti Ratu selama kalian tinggal di Keraton. Salah satu alasannya adalah mereka memang sering menghadiri event-event di luar." Tambah Mbok Kinan.
Kara memandangi kertas itu dengan seksama. Lalu memberi mbok Kinan senyuman singkat dan ucapan terima kasih pelan.
Mbok Kinan mengelus pundak Kara. "Apa kamu sedih setelah melihat media, setelah wawancara kemarin?"
Kara yang sudah seminggu lebih menghindari media akhirnya memberanikan diri membuka sosial media. Ia sangat terkejut dengan berita yang tersebar di internet, koran bahkan televisi. Dulu Kara tidak akan percaya jika akan ada berita yang akan terus dibahas lebih dari seminggu kecuali kasus level nasional, tapi kini topik kelahirannya sepertinya menjadi isu nasional.
Banyak sekali perdebatan mengenai kelayakan dari Kara sebagai salah satu kandidat Putri mahkota, bahkan sampai ada voting online yang diadakan oleh salah satu media, Hampir tujuh puluh persen suara menyatakan tidak setuju Kara menjadi kandidat putri mahkota, dua puluh persen mendukung sedangkan sisanya netral.
Pihak Keraton sudah mengeluarkan pernyataan bahwa Kara tidak akan dikeluarkan dari seleksi kandidat putri mahkota kecuali ada alasan yang valid untuk melakukan itu. Selain itu karena Kara adalah kandidat yang dipilih oleh Putra Mahkota secara langsung, maka mengeluarkan Kara sama saja menghina pilihan Putra Mahkota.
Setidaknya untuk saat ini Kara masih aman dibalik tameng kandidat yang dipilih langsung oleh Putra Mahkota, tapi itu justru membuatnya semakin tertekan secara batin. Beberapa hari ini dia lebih diam dan murung daripada biasanya. Kara masih memikirkan ulang segala hal yang menyangkut seleksi ini.
"Entahlah. Aku tidak tahu apa yang kurasakan sekarang. Tapi, perasaan ini tidak bisa dibilang perasaan yang mengenakkan."
Mbok Kinanti menarik Kara agar menghadap ke arahnya. Mereka sedang berdiri di beranda kamar Kara menikmati angin malam itu. Pantulan cahaya bulan menghiasi langit.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan pendapat masyarakat. Seperti yang kamu katakan, kamu tidak bersalah disini. Satu-satunya cara mengubah pandangan masyarakat adalah dengan membuktikan kalau kamu adalah orang yang baik dan pantas menjadi bagian dari Keraton."
Kara terlihat ragu, "Aku bahkan tidak berniat untuk menjadi bagian dari Keraton." keluh Kara dengan nada kesal.
Mbok Kinan menapukkan kedua tangannya di kepala Kara. "Jadi bagian keluarga Keraton atau tidak, yang pasti hidupmu tidak akan sama lagi seperti dulu. Sebagai salah satu kandidat yang bersaing di sini, kamu sudah menjadi seorang public figure. Seorang yang dikenal. Privasimu akan perlahan hilang, semua tingkah lakumu bisa memberi pengaruh atau bahkan mengundang kritik. Kamu mungkin seorang yang tidak peduli dengan ucapan atau pendapat orang lain, tapi semua itu akan semakin bertambah hingga membuatmu sesak atau tidak mampu untuk menahannya sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Privilege [END]
Fiction HistoriqueWARNING: JANGAN LOMPAT KE CHAPTER BONUS JIKA TIDAK INGIN KENA MAJOR SPOILER! Kara tidak mengikuti seleksi untuk menjadi putri mahkota. Tapi, betapa terkejutnya dia ketika tahu kalau dia dipilih langsung oleh Putra Mahkota dan menjadi kandidat nomor...
![Privilege [END]](https://img.wattpad.com/cover/285559710-64-k957546.jpg)