Lanjutan Chapter 29
----------------------------
Dita berdiri sambil bersandar di meja kerjanya ketika Kara dan Raga masuk. Ia berusaha menahan amarahnya ketika mereka datang. Setelah beberapa hari harus pura-pura tidak tahu siapa biang keladi dalam skandal tersebut, Dita akhirnya bisa melampiaskan rasa amarahnya.
Ia melipat kedua lengan di dadanya, begitu Kara dan Raga masuk ruangan, Kara segera menangkupkan tangan sambil menundukkan badan.
"Mohon maaf Gusti Pangeran, kami tidak tahu kalau kejadiannya bisa sefatal ini." Kata Kara dengan nada memelas. Saat dirinya menoleh ke arah Raga, lelaki itu hanya berdiri diam di samping Kara sehingga Kara mendorong punggung Raga agar lelaki itu menundukkan badan.
Dita tersenyum kecil melihat itu. Ia kembali berekspresi serius lagi saat Kara mendongak menatapnya. Raga meraih tangan Kara agar gadis itu tidak mendorong punggungnya lagi.
"Cepat siapapun jelaskan apa yang terjadi." Tuntut Dita menatap keduanya.
Kara mulai menjelaskan kronologis kejadian. Tetapi selama menjelaskan, Kara memandang Dita dan Raga bergantian. Keduanya terlihat tenang. Ketika Kara sudah selesai, Dita beralih memandang Raga. "Apa kamu tidak punya bahan untuk dijelaskan?"
Raga hanya menjawab, "Tidak. Semuanya sudah dijelaskan oleh Kara dengan detail."
Dita terlihat kesal, "Jadi intinya kalian sudah resmi pacaran belum?"
Kara menggelengkan kepala, "Belum."
Dita menepuk jidat mendengar itu.
"Lalu apa yang kalian lakukan selama ini sampai terkena skandal?"
"Ah, aku meminta Raga untuk tidak mengakui perasaanya dulu. Untuk sekarang kami sudah saling tahu perasaan masing-masing. Kami hanya seperti ini karena menghargai posisi saya sebagai kandidat putri mahkota. Kami baru akan mulai pacaran jika kak Dita sudah memilih calon istri." Jawab Kara tenang.
"Sekedar informasi, saya tidak setuju dengan itu Pangeran. Saya dengan jelas bilang mau memulai hubungan dengannya. Tapi, Kara sendiri yang tidak mau merespon untuk sekarang."
Dita menghembuskan napas keras sambil memijat kepalanya. "Kalau begitu harusnya jangan buat masalah! Pokoknya mulai saat ini kalian harus jaga jarak. Masalah skandal itu akan kucoba cari jalan keluarnya."
Kara berubah ekspresi menjadi ceria, ia kemudian memberi salam pada Dita sambil bergumam, "Terima kasih."
Dita menghampiri Raga lalu mencubit kedua pipinya dengan kencang. Raga mengerang kesakitan tapi tidak melawan. Kara yang melihat itu tersenyum, mereka masih dekat seperti dulu, pikirnya.
Kara masih ingat saat mereka berkuliah dulu, Raga pernah ikut Dita datang ke acara kampus mereka dan dia memperkenalkan Raga sebagai adik kelas SMA-nya. Saat itulah Kara mulai menyimpan rasa suka pada Raga. Bahkan saking dekatnya hubungan Dita dan Raga, tidak ada yang berubah dari perlakuan Dita pada Raga dan juga sebaliknya setelah Dita diakui sebagai sebagai Putra Mahkota.
"Awas saja kalau kamu membuat masalah lagi, aku akan melapor pada Ibu." Sergah Dita.
"Ah, kalau itu tidak perlu, aku sendiri yang akan melaporkannya pada Mbok Kinan." Tambah Kara.
Dita dan Raga mendadak mengubah pandangan mereka pada Kara. Dita pelan-pelan melepaskan cubitannya dari Raga. "Eh iya benar juga. Tapi lebih baik jangan bercerita pada Mbok Kinan ... " Tambah Dita dengan nada canggung.
Keduanya akhirnya dibiarkan kembali ke tempat masing-masing. Setelah Kara dan Raga pergi, tidak lama setelah itu Peter masuk.
"Bagaimana, apa kamu sudah menemukan dalang yang memposting skandal itu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Privilege [END]
Ficción históricaWARNING: JANGAN LOMPAT KE CHAPTER BONUS JIKA TIDAK INGIN KENA MAJOR SPOILER! Kara tidak mengikuti seleksi untuk menjadi putri mahkota. Tapi, betapa terkejutnya dia ketika tahu kalau dia dipilih langsung oleh Putra Mahkota dan menjadi kandidat nomor...
![Privilege [END]](https://img.wattpad.com/cover/285559710-64-k957546.jpg)