Dita memandang Ayah dan Ibunya dengan ekspresi khawatir. Beberapa hari ini mereka sudah stres menghadapi masalah skandal yang disebabkan oleh Kara. Dita sudah menjelaskan sedikit situasinya tetapi mereka tidak puas sehingga hari ini mereka ingin ikut berpartisipasi dalam interogasi Kara.
Kebetulan sekali pembeli kesempatan untuk makan malam bersama kandidat Putri Mahkota memilih Kara untuk diajak makan malam hari ini juga.
Gusti Prabu duduk di kursi tengah dengan Gusti Ratu di sisi kanan dan Dita di sisi kiri. Penempatan kursi ditata sedemikian rupa seperti para user berkumpul untuk wawancara kerja dengan kandidat. Sebelum Kara datang, Gusti Prabu menginterogasi anaknya sendiri.
"Jadi dari yang Ayah dengar, kamu sudah mengetahui bahwa orang yang terlibat dalam skandal kencan adalah Kara, tapi kenapa kamu malah melindungi dia? Dan memaksa Sekar keluar dari seleksi ini?" Tanya Gusti Prabu menempatkan kursinya untuk menghadap ke arah Dita.
"Iya ayah, semua itu benar. Aku tahu siapa orang yang ada dalam skandal itu, dan untuk melindungi Kara, aku meminta Sekar untuk keluar." Jawab Dita tegas.
Gusti Ratu menepuk jidatnya, "Kenapa kamu melakukan itu Dita? Kenapa?" Tanyanya dengan nada kesal. Sayangnya, anak laki-lakinya tidak bergeming.
Gusti Ratu menghembuskan napas, "Kalau begitu setidaknya beritahu kami siapa laki-laki yang ada di skandal itu?" Tuntut Gusti Ratu.
Dita tersenyum miring, "Jika identitasnya terungkap, keluarga kita akan terkena imbasnya juga." Ucapnya sambil memandang penuh arti pada Ayah dan Ibunya.
Gusti Prabu mengeluarkan suara tercekat, "Maksudmu laki-laki itu adalah ..."
Sebelum Gusti Prabu menyelesaikan kalimatnya Dita mengangguk, "Iya. Jadi jika identitas lelaki itu tersebar, tidak butuh waktu lama bagi media mencari tahu siapa dia sebenarnya."
Gusti Ratu menutup mulutnya terkejut. Ia bertukar pandang dengan Gusti Prabu lalu bergumam, "Apa kamu sudah mengetahui ini dari awal?"
Dita baru saja akan menjawab pertanyaan ibunya, tetapi percakapan mereka terpotong oleh ketukan keras dari pintu. Seorang penjaga luar, mengumumkan kedatangan Kara. Dita mempersilahkan tamunya masuk sedangkan Gusti Prabu dan Gusti Ratu memperbaiki posisi duduk mereka.
Kara memberi salam pada ketiga orang di depannya lalu berujar, "Saya Kartika Anjani, menghadap pada Gusti Prabu, Gusti Ratu dan Gusti Pangeran."
Kara berdiri di sana menunggu orang-orang di depannya untuk membuka pembicaraan dengan ekspresi cemas. Gusti Prabu akhirnya buka suara, "Jadi kamu adalah anak dari Yulian?"
Kara mengangguk. "Iya Gusti."
"Apakah kamu sudah mengetahui itu dari awal?"
"Tidak, saya juga baru tahu setelah kak Di .. maksud saya Gusti Pangeran memberitahu kalau Ibu Sastria adalah nenek saya. Dari sana tidak sulit untuk mencari tahu identitas ayah saya. Dan beberapa hari lalu, Ibu Sastria sendiri yang meminta wartawan untuk memberitakan bahwa saya adalah anak dari Pak Yulian."
Gusti Prabu mengusap wajahnya. "Yudha goblok ..." Gumamnya pelan yang mengejutkan tiga orang lain dalam ruangan.
"Apa kamu menyukai lelaki yang ada dalam skandal itu?" Tanya Gusti Ratu membuat Kara terkejut.
Hening cukup lama, Kara terlihat membulatkan tekad lalu menatap Dita sekilas kemudian mengarahkan pandangannya pada Gusti Ratu, "Iya Gusti."
Meskipun sudah tahu jawabannya, hatinya tetap saja seperti diremas. "Kalau begitu kamu tidak ada niat untuk menjadi putri mahkota, tapi kenapa kamu masih bertahan di sini?" Lanjut Gusti Ratu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Privilege [END]
Fiksi SejarahWARNING: JANGAN LOMPAT KE CHAPTER BONUS JIKA TIDAK INGIN KENA MAJOR SPOILER! Kara tidak mengikuti seleksi untuk menjadi putri mahkota. Tapi, betapa terkejutnya dia ketika tahu kalau dia dipilih langsung oleh Putra Mahkota dan menjadi kandidat nomor...
![Privilege [END]](https://img.wattpad.com/cover/285559710-64-k957546.jpg)