[Bonus] 27.5

10.3K 1.1K 30
                                        

Lanjutan chapter 27
--------------

Gusti Pangeran segera bersiap untuk pergi ke wilayah perbatasan Borneo utara untuk jadwal lanjutan bersama Renita menghadiri diskusi terbuka antara Nagaragung dan Malaya.

Kara dan Gusti Pangeran akhirnya berpisah jalan sejak dari lokasi rehabilitasi. Reno, Dita dan sebagian besar penjaga langsung pergi.

"Kamu bisa menghabiskan sisa waktu di hotel yang sudah disiapkan. Aku harus pergi ke jadwal berikutnya. Nanti akan ada Raga bersama lima orang penjaga lain yang tinggal di tempat yang sama. Sayang sekali, Mbok Kinan tidak bisa datang, jadi urus keperluanmu sendiri."

Kara yang masih berdiri menghadap Dita yang akan naik mobil hanya menganggukkan kepala. "Jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri."

Dita memandang Kara dan Raga yang berdiri berdekatan. Ia hanya bergumam pendek, "Jangan membuat masalah."

Dita melirik ke arah Kara lalu Raga untuk terakhir kalinya kemudian masuk ke mobilnya.

"Tahu kan, saat orang lain melarang untuk melakukan sesuatu, aku malah ingin melanggar itu?" Ujar Kara masih sambil memandang mobil rombongan Gusti Pangeran yang berjalan menjauh.

Raga hanya memandang Kara dengan ekspresi datar, "Apalagi yang kamu rencanakan di kepalamu itu?" Tanyanya.

Lima orang penjaga dari Keraton seperti yang diucapkan Dita berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Berbeda dari penjaga pribadi para kandidat yang masih berumur duapuluhan, Lima penjaga yang lain terlihat lebih serius dan berumur paruh baya. Kara belum pernah melihat mereka di Keraton sebelumnya.

"Entahlah, aku tiba-tiba ingin jalan-jalan saja. Setelah emosiku terkuras, aku ingin mengembalikan moodku. Apa aku boleh jalan-jalan sendiri?"

Raga terlihat menghembuskan napas." Bukannya jawabannya sudah jelas?"

Kara sedikit merengek, "Tapi aku pengen jalan-jalan sendiri."

Raga tetap bersikeras, "Nggak boleh Kartika ...."

Kara menjadi murung dan diam, "Kalau begitu, apa aku boleh pergi kalau bersamamu?" Tanya Kara sambil memainkan lengan bajunya sendiri.

Raga terdiam. Ia kemudian menatap ke arah para penjaga di belakangnya. Sebenarnya, para penjaga itu adalah penjaganya. Hanya saja, Raga sedikit tergoda dengan kesempatan berduaan dengan Kara saja.

"Kenapa hanya kita berdua?" Tanya Raga.

Kara berdeham pelan, "Yah, karena aku nyaman denganmu. Lagipula kalau kita pergi bersama penjaga lain, bukannya itu malah lebih mencolok?"

Raga mempertimbangkan itu, kemudian dia berbisik pelan pada Kara, "Baiklah, tapi tidak sekarang. Saat ini kamu harus kembali ke hotel dan istirahat. Kita keluar nanti malam saja bagaimana?"

Kara mengangguk dengan antusias. Mereka kemudian mulai berjalan ke arah mobil. Raga membukakan pintu belakang untuk Kara. Sebelum dia naik, Raga terlihat berbincang dengan para penjaga yang lain. Setelah selesai, dia naik ke kursi depan di sebelah supir. Lima penjaga lain berpencar di dua mobil yang berbeda lalu mengawal mobil yang dinaiki Kara sampai ke hotel.

Hotel yang ditempati Kara adalah salah satu bagian terpisah dari hotel utama yang memang biasa digunakan Keluarga Keraton saat berkunjung. Sebagian besar Hotel besar di Nagaragung, memiliki bagian terpisah yang memang dikhususkan untuk digunakan oleh para keluarga Keraton saat berkunjung ke satu kota tertentu.

Kebetulan bangunan hotel ini hanya terdiri dari satu lantai saja dengan taman yang mengelilinginya. Ada jarak sekitar satu kilometer dari bagunan utama hotel untuk masuk ke bagian bangunan khusus ini.

Privilege [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang