Pagi ini Rara bangun dari tidur nyenyaknya dan bergegas ke dapur untuk membantu bunda Ana. Sementara itu, Fani masih terlelap dalam tidurnya.
"Fan, bangun udah pagi"
"ntar deh, aduh mager aku"
"dih, anak gadis bangunnya kudu pagi"
"dahhh, kaya kamu biasa pagi aja"
"ya udah, aku bangun duluan deh"
"hmm"
*****
Aku kemudian melangkahkan kaki menuju dapur di rumah Fani. Bunda Ana ternyata sudah bangun dan tengah memotong sayur.
"pagi bunda"
"eh anak bunda udah bangun. Fani masih tidurkah Ra? "
"masih bun, "
"kebiasaan tuh anak"
"capek kali bun"
"bunda udah bilangin suruh bangun pagi masih ngebo aja, sampe capek bunda"
"hihihi, sabar bun. Ini ada yang bisa rara bantuin nggak bun?"
"ini bunda mau masak ayam tepung sama sayur sop, sama tempe goreng dan sambel kecap"
"Rara bantuin apa?"
"Rara potong sayurnya aja ya?"
"siap bunda"
Mereka berdua kemudian memasak bersama, bunda Ana adalah sosok yang hangat sehingga membuat Rara menjadi tidak canggung lagi. Setelah matang mereka kemudian mandi dan bersiap untuk sarapan bersama.
"wah, ini siapa yang masak sayur sopnya? Seger bener" tanya kak andi
"tadi rara yang bantuin bunda bikin sayur sop, enak ya masakan rara" sahut bunda Ana
"sedep, cocok nih ra buka warung pinggir jalan"
"lah kalau gak pinggir jalan masa pinggir empang sih kak? Hahaha" jawab Rara
" kamu emang bakat masak Ra, coba aja tiap hari kamu masakin hehehe" kata Fani
"trus bunda mau dikemanain? " bunda ana pura-pura merajuk
"maksud fani biar bunda nggak terlalu capek hehehe, tetep masakan bunda number 1" jawab Fani
"coba rara jadi mantu bunda seneng deh dibantuin masak hehehe" ucap bunda Ana
"ih mana mau rara sama cowok modelan kak andi yang bawel kek emak-emak" jawab fani
"yee jangan salah dek, diluar sana banyak yang ngantri" bela kak andi
Mereka kemudian tertawa bersama dan kemudian melanjutkan makan dengan lahap. Selesai sarapan, rara pamitan pada bunda untuk pulang. Kak andi menawarkan untuk mengantarkan rara tapi rara menolak lantaran dia membawa motor. Pukul 8 dia meninggalkan rumah Fani, dia pulang menuju rumah pak Ario. Pak Ario tidak menghubungi dirinya sama sekali, bahkan tidak menanyakan kapan dia akan pulang. Apa pedulinya pak Ario terhadap dia? Dia hanya seseorang yang dibayar untuk melaksanakan tugas as wife figure. Rara kemudian berdoa semoga dia bisa menjalani tugasnya secara profesional, tanpa melibatkan perasaan. Namun perlakuan manis yang selama ini dia dapatkan membuat dirinya takut jika dikemudian hari menjadi jatuh cinta dengan duda anak 2 itu. Karena sejatinya kebanyakan perempuan memang menggunakan perasaan dalam berbagai hal.
*****
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, aku sampai di rumah pak Ario. Kondisi rumah sedang sepi, anak-anak pasti sedang sekolah dan bapaknya palingan juga ngajar. Ya sudah lebih baik aku ke kamar saja. Begitu pintu terbuka, aku kaget disana ada pak Ario sedang duduk diatas kasur dengan leptop dipangkuannya.
"assalamualaikum" sapaku
"Waalaikumsalam, masih ingat jalan pulangkah?"
"maksudnya gimana ya pak? "
Diam itulah jawaban pak Ario
" kok bapak nggak ngajar? "
"hari ini saya capek, jadi wfh aja. Anak-anak saya kasih tugas"
"oh, bapak udah sarapan? "
"udah tadi"
"anak-anak nggak nyariin saya?"
"nanyain tadi malem tapi masih bisa saya atasi"
"syukurlah pak "
Hening..
"ya udah, bapak lanjutin aja kerjaannya kalau gitu saya keluar dulu ya pak"
"eh, tunggu. Sini kamu" aku kemudian menghampiri pak Ario dan duduk disampingnya. Pak Ario kemudian memelukku erat, menciumi kepalaku. Lama pelukan ini kubiarkan hingga dia sendiri yang melepaskan.
"ada apa pak? Ada masalah dikantor?"
"nggak ada"
"bapak lagi ada pikiran? "
"nggak, semua baik-baik aja"
"mau minum coklat anget nggak pak?"
"nggak usah, kamu istirahat aja. Disini disisi saya."
"oke"
Aku kemudian duduk disisi pak Ario, menemaninya mengerjakan kerjaan di leptop. Sesekali, dia mencium kepalaku dan bekerja lagi. Pak Ario kenapa bapak sweet sekali, saya takut lama-lama jatuh hati kepada bapak. Jika keterusan gini siapa yang nggak baper pak. Saya takut ntar saya baper tapi bapak b aja. Stop rara, kendalikan perasaanmu. Jangan biarkan pak Ario masuk ke hatimu, bisa saja sewaktu-waktu pak Ario bosan dan memyuruhmu meninggalkan rumahnya. Dia hanya butuh pengganti figur bukan pengisi apalagi menempati posisi. Huft, sepertinya aku harus menutup pintu hatiku rapat-rapat.
*****
Pak Ario POV
Pagi ini terasa hambar tanpa kehadiran rara. Entah kenapa dia membawa dampak yang cukup terasa kepadaku dan anak-anak. Semalam anak-anak terus menanyakan kapan mamanya pulang, berkali-kali mereka bertanya. Aku menjawab bahwa besok mama akan pulang kalian yang pinter ya. Mereka tertidur cukup malam, lebih malam dari biasanya. Segitu berpengaruhnya dirimu kepada kami ra. Aku sendiri hampir semalaman begadang, aku tertidur jam 2 pagi setelah mengalihkan bayangan rara dengan kerjaan. Pagi ini kuputuskan untuk wfh saja, aku ingin menyambutnya pulang. Melihat wajah manisnya yang lucu dengan berbagai ekspresi itu. Senyumnya yang menggemaskan entah mengapa sudah terpatri di benakku.
Ceklek..
"Assalamualaikum" sapa Rara kepadaku,sebenarnya ingin sekali aku memeluknya namun kuurungkan niat itu.
"Waalaikumsalam, masih ingat jalan pulangkah?" entah mengapa justru jawaban itu yang keluar dariku
"maksudnya gimana ya pak? "
Sepertinya aku salah berucap, lebih baik aku diam dulu.
" kok bapak nggak ngajar?" tanya rara kepadaku
"hari ini saya capek, jadi wfh aja. Anak-anak saya kasih tugas" alasanku kepadanya
"oh, bapak udah sarapan? " ternyata dia cukup perhatian
"udah tadi"
"anak-anak nggak nyariin saya?"
"nanyain tadi malem tapi masih bisa saya atasi"
"syukurlah pak "
Hening.. Sebenarnya aku ingin sekali mengungkapkan rinduku namun aku sudah malu duluan.
"ya udah, bapak lanjutin aja kerjaannya kalau gitu saya keluar dulu ya pak"
"eh, tunggu. Sini kamu" aku kemudian memanggilnya, aku sudah tidak bisa menahan rindu padanya. Rara kemudian menghampiriku dan duduk disampingku. Wajahnya begitu menggemaskan dengan mata indahnya yang berkedip-kedip itu. Aku lantas memeluknya erat, dan menciumi kepalanya. Perlahan rasa rindu ini tersalurkan, rasanya sangat menenangkan saat memeluknya. Seperti Rara sudah menjadi candu bagiku, aku kemudian menyuruhnya duduk disampingku dan menemani aku bekerja.
*****

KAMU SEDANG MEMBACA
Simpanan Dosenku
RandomRara baru saja menyelesaikan pendidikan S1, dan ingin melanjutkan pendidikan S2. Sang ibu sudah tidak bisa membiayai lagi, hingga dirinya mencoba peruntungan dengan mendaftar berbagai beasiswa namun hasilnya nihil. dirinya kemudian menemui salah sa...