Jessi hanya diam, ia tidak menyangka Felix akan mendapatkan majalah itu. Felix tidak pernah membaca majalah, apalagi membelinya. Oleh sebab itulah Jessi berani berbohong karena ia yakin ia tidak akan ketahuan, tapi ternyata ia salah.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
"Jawab."
Jessi tidak berani menjawab, ia bisa merasakan Felix begitu marah saat ini. Jessi sudah berbohong dua kali soal pekerjaan, ia tidak mau menatap Felix, ia tidak mau menjawab, ia ingin lari. Ia tidak ingin berhadapan dengan Felix, ia takut, ia tidak sanggup menghadapi amarah Felix. Ia tidak tahu apa yang akan Felix lakukan, tapi ia begitu takut, sungguh.
BRAK!
Tubuh Jessi terloncat kaget saat Felix menggebrak meja dengan telapak tangannya.
Ya Tuhan, Felix gak pernah begini..
"Bisu?"
Entah kenapa, Felix semakin frustasi karena Jessi tidak kunjung menjawab pertanyaannya, ia benci diabaikan, terutama oleh Jessi.
Jessi hanya menggeleng sambil menunduk, ia tidak berani mengelak, apalagi menutupi kebohongannya dengan kebohongan lainnya, saat ini, Felix serius. Jessi tahu itu.
"Kalo emang ngga bisu.."
Felix menggantungkan kalimatnya, tangan kanannya dengan lembut menyentuh tulang selangka Jessi, menelusuri lehernya, dan terus naik keatas secara perlahan.
"Jawab!"
"AKHH!" Jessi meringis kesakitan saat dagunya di cengkram paksa oleh tangan kanan Felix, wajahnya menengadah saat ini, hanya berjarak berapa sentimeter dengan wajah Felix, tapi Jessi tidak berani membuka matanya, ia tidak berani menatap mata Felix. Bahkan dalam keadaan terpejam saja ia sudah bisa merasakan tatapan Felix yang dalam menusuk, ia tidak akan sanggup menatap mata itu.
"Jess, denger."
Felix merendahkan suaranya, membuat Jessi jauh lebih takut daripada sebelumnya.
"Answer, and i'll ease your punishment."
"Lix, pleaseee.. kita bisa ngomongin masalah ini baik-baik kan? jangan begini please.. gue.. gue takut.."
Kedua tangan Jessi berusaha menyingkirkan tangan kanan Felix dari lehernya, lama kelamaan Jessi mulai merasakan rahangnya terasa sakit.
"Hands off."
Jessi tidak berani membantah setiap kali Felix mengeluarkan kata-kata dengan penuh penekanan, akhirnya ia menjauhkan kedua tangannya secara perlahan.
"Bicara baik-baik? kita udah pernah bahas soal ini, Jess. Lo udah tau kenapa gue ngelarang lo jadi model, lo tau sejak kita masih pacaran."
"I-iya Lix, gue tau.. tapi.. gue gak bisaa!"
Felix melepaskan cengkramannya sambil berdecak, lalu mundur kebelakang.
"Batu."
"Alright then, i'll make you understand."
"Berdiri."
Jessi tetap duduk. Ia tidak tahu apa yang Felix rencanakan, tapi ia yakin ia tidak akan menyukainya. Ia takut, ia tidak mau. Bahkan jika dipaksa pun Jessi tidak akan mau.
"I said stand, Jessi."
Jessi diam, menggeleng lemah sambil terus menunduk, kedua tangannya berpegangan erat pada tepi meja.
"Jess, listen. Ikutin kata-kata gue, atau hukumannya bakal jauh lebih parah."
"Nggaa Lix!! gamauuu, gue gamau berenti kerjaaa!!!!!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Dominant
Romance⚠️ALERT!!!⚠️ 18+ 21+ Kisah cinta Jessi berakhir bahagia, ia sudah berpacaran dengan Felix sejak berada di bangku SMA. Setelah melewati berbagai cobaan, mereka berhasil menikah. Jessi bersyukur kisah cintanya tidak rumit, tidak ada siapapun yang beru...
