Pagi-pagi sekali, Jessi melesat di jalan raya menuju apartment nya, jujur saja, ia mulai memikirkan untuk tinggal bersama Felix lagi, tapi tentu saja ia masih berpikir rasional, hanya karena ia menghabiskan satu malam bercumbu dengan Felix, bukan berarti itu cukup untuk membuktikan bahwa kembali dengan Felix merupakan keputusan yang tepat.
Tapi tanpa ia sadari, senyuman tipis terukir di bibirnya saat ia mengigat kembali kejadian tadi malam, mengingat Felix.
Suara beratnya,
sentuhannya yang lembut, tapi sedikit.. menyiksa..
dan entah kenapa, semua itu terasa.. candu.
Dering ponselnya membuyarkan lamunan, Jessi segera memasang earphone dan mengangkat teleponnya sambil kembali fokus menyetir.
"JESS!! LO DIMANA??"
Jessi memejamkan matanya seraya melepas salah satu earphonenya, suara melengking manajernya hampir membuat gendang telinganya pecah.
"Astaga! kenapa sih? ini gue lagi di jalan ke apartment gue"
"HAH!?!? JAM BERAPA INI JESS? LO GILA BARU MAU PULANG KE APARTMENT LO JAM ENAM?"
Jessi mengernyit, tidak menyadari apa yang salah dengan dirinya. Ia rasa Ia sudah mengatur jadwalnya dengan tepat. Ia bahkan pulang lebih awal.
"JESSICAH! I'M TALKING TO YOU!!"
Suara itu melengking lagi, membuat telinga Jessi yang terpasang earphone berdengung. Akhirnya Jessi melepas kedua earphone nya dan beralih menyalakan speaker mode.
"Ini masih pagi banget Mel, Astaga!"
"MASIH PAGI??? OKAY!! MASIH PAGI! OKAY! TAPI LO ADA JANJI SAMA BRAND UNTUK PHOTOSHOT JAM TUJUH JESS!"
Sial! Jessi baru ingat. Ponsel nya mati sejak semalam, ia baru sempat mengisi baterai ponselnya di mobil, sementara ia juga belum membuka sosial medianya.
"Astaga, Mel! Sorry banget gue lupa!!"
"OH MY GOD JESSICAH!! YAUDAH LO PUTER BALIK SEKARANG, LO PREPARE DISINI AJA!"
Jessi mengusap seluruh bagian wajahnya dengan telapak tangan, ia merasa frustasi. Bisa-bisa nya ia lalai dalam pekerjaannya!
"JESSICAH I'M TALKING TO YOU!!"
Suara manajernya yang cerewet itu semakin membuatnya frustasi,
"Iiyaa iyaaa gue kesana ini ngebutt"
"Oke, gue tunggu. 06.30 udah harus ada disini."
"Iya.."
Jessi mendengar sambungan terputus, lalu ia berdecak melihat jalan raya di hadapannya tak kunjung menyediakan jalur putar balik.
"Shit, gue kayaknya bakal telat."
✧✧✧
Di sela-sela makan siangnya, Jessi merasakan kedua telinganya panas mendengar celotehan non-stop managernya. Ia dimarahi habis-habisan karena terlambat datang sehingga membuat pihak brand membatalkan kontrak dengannya. Tentu saja Jessi menyesal, ia juga sedih, ia juga merasa kecewa dengan time-management nya sendiri. Tapi nasi sudah menjadi bubur, tidak ada untungnya Jessi terus menerus meratapi satu kegagalan dari sekian banyak pencapaian yang telah ia raih semenjak kembali ke dunia entertainment.
"Anyway, Jess. Ada yang reach out ngaku temen lo."
Jessi menghela napas panjang saat mood managernya sudah membaik, seakan menganggap tidak ada masalah sebelumnya.
"Siapa?"
"Katanya sih namanya Yuli, dia langsung minta nomor lo gitu karna dia bilang nomor lama lo gak aktif, di hubungin di medsos gak pernah di bales, kan gak pernah gue buka. Terus ternyata dia reach out by email."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dominant
Romance⚠️ALERT!!!⚠️ 18+ 21+ Kisah cinta Jessi berakhir bahagia, ia sudah berpacaran dengan Felix sejak berada di bangku SMA. Setelah melewati berbagai cobaan, mereka berhasil menikah. Jessi bersyukur kisah cintanya tidak rumit, tidak ada siapapun yang beru...
