SIXTY FIVE ✧ COMING BACK

8K 354 48
                                        

"Mamaa ada telfon!!"

Vincent kecil berlari menuju ibundanya yang sedang memasak di dapur, dengan senyum ceria di wajahnya, ia memberikan ponsel Jessi yang tak henti-hentinya berdering.

Jessi tersenyum lembut, mengusap puncak kepala anaknya seraya meraih ponsel itu. Kedua alisnya saling bertautan saat melihat nomor tidak dikenal memenuhi layar, tapi ia tetap memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.

"Halo?"

"Jessi.."

Jessi tersentak saat mendengar suara yang sangat dikenalinya itu berbisik melalui telepon. Lidahnya kelu, bibirnya tidak dapat mengucap kata, ia hanya menelan ludah.

"Jessi, Please don't hang up."

"We need to talk, Jessi. I wanna meet you."

"..."

Semua emosi dalam pikiran Jessi bercampur aduk, membuatnya bingung. Ia bingung, juga takut. Sungguh naif jika Jessi berpikir ia akan semudah itu "pergi" dari Felix. Sungguh naif jika ia selama ini mengira bahwa Felix sudah melupakannya. Sungguh naif jika Jessi lupa akan semua anak buah Felix yang akan dengan sangat mudah melacaknya jika ia mulai aktif kembali di social media.

"Jessi i'm sorry.. but if something is wrong, you should've told me earlier. You can't just disappear like that.."

"I'm a father of our son, Jessi. Please let me fill the role. Now, it's not only about us.. it's our little family.."

"Jessi please.. you know how bad it feels to live without a dad in such a young age, don't you? you said you want me to be a hero for our children and i promised you that, so please just let me do what i have to do"

"I knew you're scared. So i won't come right to you even though i can. But it's okay, you can take your time and please think about it.. think about Vincent."

Air mata Jessi membasahi pipinya. Entah apa yang dirasakannya sekarang, tapi emosinya seakan meluap-luap, saat ia bahkan tidak mampu mengucapkan satu kata pun.

"Ma? itu papa ya?"

Seakan tersadar dari lamunan, Jessi mengerjap. Jarinya dengan cepat menutup sambungan telepon, lalu menarik napas panjang, berusaha untuk tetap tenang di depan anak laki-lakinya.

Jessi membentuk senyuman di wajahnya, lalu berlutut, mengusap puncak kepala Vincent sekali lagi,

"Bukan, sayang.. ini temen kerja mama. Vincent kenapa bisa bilang begitu?"

"Gapapa, Vincent tau aja."

Jessi mengernyit, apakah ikatan anak itu begitu kuat dengan Felix? bahkan setelah Jessi menjauhkan anaknya dari Felix, perilaku anak itu lama-lama menunjukkan kemiripan dengan ayahnya.

Lalu, untuk apa Jessi memisahkan Vincent dengan ayahnya jika pada akhirnya Vincent tetap akan menjadi seperti ayahnya?

"Mama!!"

Suara nyaring Vincent menyadarkan Jessi, kemudian ia hanya tersenyum sambil mengusap kepala anaknya, lalu Jessi mendekap Vincent dalam pelukannya.

Ia bimbang. Untuk kesekian kalinya.

✧✧✧

Felix memandangi layar hitam ponselnya beberapa saat setelah ia mendengar sambungan telepon diputus secara sepihak. Sayangnya, Felix bahkan tidak mendengar lawan bicaranya berucap sedikitpun, padahal sudah lama sekali ia merindukan suara itu, suara Jessi. 

I even missed the way you moan my name, Jessica.

Tapi sudahlah, setidaknya Felix bisa melacak Jessi melalui ponsel itu sekarang. Sebenarnya, sudah lama sekali Felix mendapatkan akses nomor ponsel Jessi, namun Felix sengaja tidak menghubungi nya langsung. Felix ingin Jessi yang mengejarnya.

DominantCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang