SEVENTY TWO ✧ CONFLICTED

2K 106 12
                                        

Jessi menaiki tangga, diiringi suara langkah heels-nya yang khas, bergaung memenuhi ruangan setiap kali ia berpijak. Sesampainya di depan pintu, ia membukanya perlahan, membiarkan semburat cahaya neon dari dalam menyelinap ke luar sebelum kembali teredam. Ia melangkah masuk, disambut oleh dentuman musik yang tertahan serta udara hangat yang dipenuhi aroma alkohol dan parfum yang bercampur samar.

Lampu remang-remang menggantung di langit-langit, memantulkan warna ungu dan biru yang bergerak halus mengikuti irama musik. Sorotannya jatuh di wajah-wajah asing yang tenggelam dalam percakapan, tawa, dan bisikan yang nyaris tak terdengar jelas. Langkah Jessi terhenti sejenak di ambang pintu, matanya menyapu ruangan dengan saksama. Dalam hitungan detik, ia telah menemukan sosok yang terasa familiar, Jason. Tanpa ragu, ia melangkah menghampiri pria African-American dengan tinggi sekitar seratus delapan puluh sentimeter itu.

Jason sudah mengenali Jessi dari jarak satu setengah meter. Ia pun segera melangkah mendekat untuk menyambutnya.

"Jessicah!!"

Sapa Jason dengan nada ramahnya, lalu bergerak memeluk Jessi.

"Hi!! Udah lama nunggu? I'm so sorry yaa, I'm just done."

Jessi menyambut pelukannya secara singkat, lalu mereka berjalan mendekati meja.

"Nope. No worries, gue baru selesai hang out juga kok!"

Setelah memesan sebotol Dom Pérignon kepada bartender yang menghampirinya, Jessi kembali berbincang dengan Jason, mereka langsung membahas rancangan MV nya.

✧✧✧

Jessi menuangkan champagne-nya ke dalam gelas, entah sudah berapa gelas ia meminumnya, tapi Jessi masih merasa itu tidak akan membuatnya mabuk. Jason sudah pergi terlebih dahulu, sementara Jessi menetap sambil menunggu Yuli. Sesekali, matanya menelusuri seisi ruangan, mencoba menebak isi pikiran orang-orang di sekelilingnya, beberapa menari di dance floor, seakan mencoba melupakan segala resah kehidupan. Ada juga yang tertidur lelap dengan botol-botol kosong di samping mereka. Sebagian lainnya mencoba flirting. Jessi juga menjadi korban dari mereka, entah sudah berapa kali orang asing meminta nomornya dan mencoba mengajaknya berbincang, tapi Jessi hanya membalas dengan senyuman, lalu mengacuhkan mereka.

Setelah Ia pikir-pikir, rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki ke tempat hiburan semacam ini. Ia bahkan tidak mau mengingat kapan terakhir kali Ia clubbing.

Pintu bar kembali terbuka, tidak terlalu lebar, hanya cukup untuk membiarkan satu sosok masuk dengan cepat sebelum kembali menutup rapat. Angin dari luar sempat menyelinap sesaat, lalu hilang begitu saja, tergantikan oleh udara hangat yang familiar. Seorang perempuan melangkah masuk dengan ragu. Tatapannya bergerak cepat, menyapu ruangan seolah memastikan sesuatu, atau seseorang. Jemarinya saling menggenggam di depan tubuhnya, memberi kesan tenang yang dipaksakan.

Tak butuh waktu lama hingga matanya menemukan sosok yang ia cari.

Jessi.

Langkahnya perlahan berubah lebih pasti, meski sesekali ia masih melirik ke sekeliling, seakan khawatir terlihat oleh orang yang tidak seharusnya. Ia merapikan rambutnya sekilas sebelum akhirnya benar-benar mendekat.

"YULII!!"

Pelukan erat Jessi menyambutnya saat ia bahkan belum benar-benar sampai. Setelah puas memeluknya, Jessi beralih berdiri di sebelahnya, lalu menggandeng tangannya sambil menggiringnya duduk.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 06 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DominantCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang