TWENTY SIX ✧ BLUEBERRIES

51.2K 881 96
                                        

⚠️CAUTION⚠️

THIS PART CONTAINS A LOT OF VIOLENCE SCENES, SLAVERY, MIND PLAYING, AND TORTURE. FOR YOUR OWN MENTAL HEALTH, SKIP THIS PART IF YOU CAN'T DEAL WITH IT.

✧✧✧

Felix melepaskan clamp yang menjepit klitoris Jessi, namun kedua clamp di putingnya dibiarkan begitu saja.

Felix mulai menepuk-nepuk vagina Jessi, sesekali menyelipkan jari-jarinya diantara bibir vaginanya. Membuat Jessi mendesah terus menerus.

"Don't cum until i tell you, i know you can do it. Ssshh, don't let it flow.."

Felix menepuk-nepuk lagi, kali ini tepat di depan lubang vagina Jessi, seakan-akan mencegah cairan di dalamnya keluar. Tapi aksinya itu justru membuat cairan di dalamnya semakin tidak sabar untuk memancar keluar.

"No cums for bad girl, i won't let you feel the pleasure."

PLAKK!!

"Ahhh sirr.. i wanna cum!!"

Yah, tamparan pada vaginanya membuat Jessi ingin orgasme, tapi ia menahannya sebisa mungkin karena ia yakin Felix pasti tidak suka hal itu.

PLAKKK!!!!

Jessi menggigit bibir bawahnya, kali ini, tamparan itu terasa sakit. Tapi tetap merangsang, ia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi dengan tubuhnya. Entah kenapa, apapun yang dilakukan Felix terhadap tubuhnya membuatnya terangsang, bahkan rasa sakit sekalipun.

"Oh Jessica, i can't hold it anymore.."

Dengan cepat, Felix membalikkan tubuh Jessi, mengatur posisi doggy dengan kedua lengan Jessi dicengkeramnya erat.

Felix tidak langsung memasukkan penisnya, ia hanya menggesek-gesekkan penis itu di bibir vagina Jessi.

Jessi merasa tercekik ketika rantai collar yang dipakainya di tarik kebelakang, membuat tubuhnya mendekat ke dada bidang Felix.

"Don't cum. Try to hold it. I'll punish you if you cum. Understand?"

Felix berbisik tepat di telinga Jessi, membuat gadis itu bergidik sekaligus merasa geli karena hembusan napas Felix yang memasuki rongga telinganya.

"Yes sir."

Perlahan, Felix mulai mendorong penisnya masuk, kemudian langsung menghentakkan penis itu dalam-dalam. Walau sudah sering di hantam penis Felix, Jessi masih merasa vagina nya terlalu sempit untuk penis Felix yang besar.

Jessi berteriak kencang saat Felix bergerak semakin cepat. Felix tersenyum, lalu menarik rantai ditangannya lagi, membuat tenggorokan Jessi tercekat, menghalau teriakannya. Tangannya yang lain melepaskan kedua pergelangan Jessi yang dicengkramnya, beralih menampar bokongnya beberapa kali.

Jessi hanya bisa berteriak sambil mendesah, tangan kanannya mencoba melonggarkan choker dipakainya, tapi Felix malah menarik rantai itu lebih dekat, membuat kepala Jessi mendangak.

Tangan kanan Felix berhenti menampar bokongnya, kali ini bergerak meraih sucking vibrator di nakas, lalu menempelkannya pada klitoris Jessi. Membuat gadis itu mengejang seketika.

"OHH!! NOHH! NNN-NOONGHHH PLEASE DON'T!!! AHHH"

Jessi tidak bisa menahan rangsangan dari vibrator itu, klitoris nya terasa seperti dihisap kuat, tanpa henti. Ia tidak bisa menahan orgasme nya.

"Don't cum, or i'll punish you."

Jessi menggigit bibir bawahnya kuat, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak bisa, ia tidak bisa menahan orgasme nya lebih lama lagi. Ia tidak bisa menahan untuk tidak orgasme ketika penis Felix keluar masuk lubang vaginanya dengan brutal, ketika kedua putingnya yang sudah begitu tegang di jepit oleh nipple clamp, sementara klitorisnya dihisap kuat oleh vibrator sialan itu.

DominantCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang