SIXTY SEVEN ✧ HI

7.1K 260 56
                                        

Jessi memilih untuk tinggal di apartment untuk sementara waktu, ia tidak mau tinggal satu rumah dengan Felix. Meskipun begitu, Jessi tidak mau menceraikannya dulu, ia ingin menilai Felix sendiri.

Dua hari telah berlalu sejak ia kembali menginjakkan kakinya di Jakarta, ia sudah mendapat asisten rumah tangga yang baru untuk mengurus urusan rumah dan juga menjaga Vincent. Dilihatnya wajah tenang anaknya yang tertidur lelap di sofa, Vincent pasti kelelahan setelah merapikan barang-barang bawaannya, padahal jam dinding baru menunjukkan pukul delapan malam.

"Mbak"

Jessi memanggil ART nya pelan, tidak ingin membangunkan Vincent. ART nya yang masih berusia lebih muda itu pun menghampirinya dengan sigap,

"Saya mau keluar sebentar, Vincent biarin aja disini gak perlu di gendong ke kasur, nanti dia bangun dan pindah sendiri kok. Saya titip jagain aja ya"

"Mau kemana bu malam-malam begini?"

"Ada yang mau saya beli, sebentar aja ya"

"Gak saya beliin aja bu?"

"Gak usah, gapapa. Jagain Vincent aja ya"

"Iya bu.."

Jessi segera turun menuju basement dan memasuki mobilnya, Ia menghela napas panjang sebelum mulai menancap gas, setelah dirasa sudah yakin, barulah Jessi melesat keluar meninggalkan apartmentnya.

✧✧✧

Felix termenung memandangi layar ponselnya yang memaparkan kontak Jessi, ia masih bertanya-tanya kapan dan dimana Jessi akan menemuinya. Ia masih menantikan panggilan lain dari Jessi, entah kapan, tapi Felix akan terus menunggu ponsel itu berdering dengan nama Jessi yang memenuhi layarnya.

Setelah cukup lama memandangi ponselnya dalam keheningan, ia memejamkan mata, lalu menghembuskan napasnya perlahan. Ia menuangkan liquor ke dalam gelasnya, namun liquor itu sudah terlebih dahulu habis sebelum sempat memenuhi seperempat gelas. Felix bangun dari duduknya dan berjalan ke pantry untuk mengambil botol ke-tiga nya hari ini.

Ketika ia berbalik, betapa terkejutnya ia melihat Jessi disana, berdiri di ruang tamunya, dengan dress abu-abu nya yang elegan. Rambutnya sudah bukan berwarna pirang lagi, tapi hitam pekat.

 Rambutnya sudah bukan berwarna pirang lagi, tapi hitam pekat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Felix diam seribu bahasa. Ia terpana, untuk pertama kalinya setelah lebih dari satu windu lamanya. Setelah menatap Felix beberapa saat, Jessi berbalik dan berjalan duduk di sofa nya.

"Drink?" Felix menawarkan secara spontan, sambil mengangkat gelasnya sedikit, menunjukkannya kepada Jessi.

Still a heavy drinker aren't you?

Jessi tidak menjawab, hanya berkedip perlahan, lalu tersenyum samar, begitu samar sampai senyumannya itu tampak semu di mata Felix. Felix sendiri merasa bimbang,  juga canggung. Bertemu Jessi membuatnya senang, sungguh. Amat senang sampai ia bahkan tidak mampu berkata-kata. Namun ia juga merasakan ada sedikit perasaan asing, aneh sekali bukan? Felix bisa merasa asing dengan orang yang paling familiar dengannya.

DominantCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang