•0.21

2.6K 166 0
                                    

Isak tangis memenuhi ruangan putih tersebut. Bukannya hantu yang membuat suara tersebut, tetapi Veux.

"Hiks Daddy, pulang~"

Peux sampai memijit pelipisnya, ia sudah menolak namun tetap saja anaknya itu menginginkan pulang

"Daddy~"

Peux langsung saja berdiri menghampiri Veux, tangannya terulur untuk menghapus air mata anaknya tersebut.

"Jangan menangis boy, nanti dada mu sesak" ujar Peux halus

"Aku mau pulang!" Kesalnya

"Satu Minggu lagi" jawab Peux

"DADDY!"

"Jangan berteriak, ini di rumah sakit" ujar Peux datar

Veux menepis tangan Peux yang membelai Surai coklatnya, mereka yang di dalam ruangan sampai terkejut.

"Aku.mau.pulang" ujar Veux menekan setiap katanya

"VEUX!" tegur mereka semua

Veux menatap mereka datar, "silahkan keluar dari ruangan ini" usirnya

Mereka tertegun mendengar usiran halus Veux, bahkan baru pertama kali ini Mereka semua di usir keluar oleh sang empunya

"Baiklah-baiklah, mari kita pulang baby boy" ujar Jeux

Veux menggeleng cepat, "keluar!"

"Veux, jangan melewati batas kesabaran kita"

"AKU BILANG KELUAR!" Bentak Veux

"VEUX! JANGAN MEMBANTAH!" bentak Peux yang sudah tak terkontrol

Sekejap saja keadaan menjadi hening tanpa suara, bahkan Veux menatap Peux dengan penuh rasa benci.

"Boy, maafkan Daddy, tadi Daddy sudah-"

Perkataannya terpotong oleh terbuangnya pandangan Veux dari manik matanya, dan membuat hatinya sakit.

"Aku tau, dad"

Peux langsung saja menarik tubuh Veux ke depan, mendekap erat tubuh Veux yang bersandar pada kepala brankar.

"Maafkan Daddy" ujar Peux lagi

"Aku hanya ingin pulang, apa itu sulit?"

"Besok saja, besok sudah boleh pulang" jawab Aux yang baru saja selesai mengotak-atik iPad miliknya.

Peux terpaksa melepaskan pelukannya pada Veux saat ia baru mengingat jika ada rapat bersama koleganya.

"Maaf sayang, Daddy ada rapat" ujar Peux yang terburu-buru keluar ruangan

Kenapa malam-malam ada rapat? Ya karena Sudah ada janji sebelumnya antara Peux dengan kolega tersebut

+.+.+.+.+

Pagi harinya, Raut wajah Veux terus saja murung, bahkan ia terus saja menatap jendela yang menampakkan beberapa orang berlalu lalang.

Ceklek

Veux menoleh ke arah pintu, dahinya berkerut bingung melihat orang yang baru saja masuk. Tunggu? Membawa kado lagi?

"Pagi tuan muda, bagaimana kabar anda?"

Itu Dante, dia datang membawa kado kecil di tangannya, dan juga beberapa bungkus coklat di atasnya.

"Baik" jawab Veux singkat

Dante memberikan kado beserta coklat tersebut pada Veux. Veux membolak-balikkan kado tersebut, mencari sebuah memo.

"Tidak ada memo nya?" Tanya Veux

Dante menepuk jidatnya karena ia lupa memberikan memo dari tuan besarnya terlebih dahulu

"Ini tuan" ujar Dante memberikan kertas memo yang dilipat pada Veux

Veux membuka memo tersebut, tidak ada reaksi apapun bahkan hanya raut wajah datar yang ia tunjukkan

To : Al Fabregas

Pagi adik tersayang kakak, apa kabar? Kakak harap baik. Dan ya, terima hadiah dari kakak, jangan lupa membukanya okay?

Zee Charlie

Veux melipat lagi memo tersebut, lalu beralih membuka kotak hitam kecil yang tadi di berikan oleh Dante.

Jam tangan?

Isinya hanya jam tangan hitam yang sangat elegan dan juga manis. Angkanya berupa Romawi. Sangat indah.

Veux menaruh memo tersebut di dalam kotak jam tersebut dan menutupnya lagi. Tangannya beralih membuka salah satu coklat tersebut.

Tiga rasa berbeda? Bagaimana dia bisa tau jika aku menyukai coklat?. Batin Veux

Dante berdehem, "maaf tuan muda, saya keluar dulu" ujar Dante

"Terimakasih"

Langkah Dante terhenti bahkan tangannya masih menggantung di udara saat ingin membuka pintu ruangan itu. Ia lantas menoleh pada Veux lalu tersenyum, "sama-sama tuan muda" jawabnya lalu keluar ruangan.

Siapa dia sebenarnya?

𝖆𝖙𝖙𝖆𝖑𝖎 '𝖛' 𝖋𝖆𝖇𝖗𝖊𝖌𝖆𝖘𝖈𝖍𝖆 [𝖊𝖓𝖉]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang