"Siapa dia?"
"Tuan muda Fabegras"
Veux mendengar samar-samar, namun tetap mengabaikannya, ia memilih ke tujuan awalnya.
"Kenapa dia mengabaikan bosmu?"
"Entah"
Lio yang memang harus bersama Veux pun dengan segera menyusul tuannya itu, ia bahkan tadi hampir melupakan tujuannya disini.
Dari kejauhan Lio bisa melihat jika tuan mudanya yang sedang duduk dengan wanita paruh baya yang sedang berbicara kepada Veux.
Namun keanehan terjadi saat melihat Veux diam dengan menatap wanita paruh baya tersebut dengan tatapan tanpa ekspresi sedikitpun.
'kenapa tuan muda seperti itu?' batin Lio.
Mau tidak mau, Lio harus tetap menyusul Veux, ia duduk di samping wanita paruh baya tersebut.
"Kau siapa tuan?"
Lio menoleh, "Saya Lio, saya tadi bersama tuan Veux ke sini" jawabnya ramah
Veux yang memang sudah malas pun melipat kedua tangannya di atas meja dan menelusup kan kepalanya ke celah lipatan tangannya.
"Tuan muda-"
"Aku sudah mendengar, bisakah kau diam Madam?" Sarkas Veux dingin
Sekarang Lio baru menyadari jika Veux memang tengah tidak ingin di ajak bicara dengan siapapun.
"Baiklah tuan muda, saya permisi"
Wanita paruh baya tersebut pun pamit undur diri, ia takut membuat Veux bertambah kesal.
Lio menatap Veux penuh dengan keresahan, ia takut tuan mudanya sakit atau terjadi apa-apa
"Kau tau kenapa aku diam?"
Lio nampak berfikir, "Anda tengah kesal tuan?" Tebaknya
Veux mengangkat kepalanya, lantas menggeleng, "Aku sudah bosan dengan hidup ini"
Deg!
Walaupun Veux bukan siapa-siapanya, namun entah kenapa hati Lio sangat sakit mendengar jawaban dari Veux.
"Tuan, anda-"
"Veux. Namaku adalah Veux, kau lebih tua dari ku, jangan memanggilku dengan sebutan tuan"
Lio mengangguk faham, "Ekhem.. Vé, kau tidak boleh bicara seperti itu, banyak diluar sana yang ingin menjadi dirimu"
Veux masih menyimak, ia yakin ucapan Lio belum selesai.
"Contohnya aku, diriku ingin kehidupan seperti mu, namun kenapa kau ingin pergi?"
"Aku tau jika Kau memang sedang Merasa kesepian, maka dari itu, nikmatilah hidupmu walaupun selalu di lingkungan mansion"
Veux benar-benar menyimak, dari segi pandangan dan juga kedipan matanya yang seperti mencerna perkataan Lio.
"Aku bosan hidup di dalam ruang lingkup yang selalu over dalam semua hal" jelasnya
Lio hanya mengangguk, ia juga tak bisa berkata apapun lagi jika Veux sudah berkata seperti itu.
Terjadi keheningan di sana, sampai segerombol orang yang tadi mendekati mereka dengan... Bos mereka?
Veux mendongak, bahkan Lio sampai memutar posisinya mengarah pada mereka semua.
"Kau Veux?"
Veux hanya mengangguk, lalu membuang pandangannya ke arah kiri, namun belum sempat ia menoleh, dagunya sudah di cengkram oleh pemuda tersebut.
"Sejak kapan kau menetap di sini Veux? Bahkan ku kira keluarga mu itu akan menyerah begitu saja saat tidak menemukanmu" ejeknya
Veux masih bergeming, ia menatap datar pemuda tersebut, bahkan ia mempunyai niat untuk mengubah kehidupan pemuda di depannya menjadi kehidupan yang lebih cerah dibandingkan kehidupan kelam miliknya.
"Kau! Hanya seorang pecandu narkoba, dan lebih baik jika kau pergi dari hadapanku sebelum aku membakar markas besarmu!"
Terdengar suara tawa dari pemuda tersebut, bahkan saat melihat itu, Veux bisa menebak jika pemuda tersebut melupakan kenangannya sesaat.
"Silahkan jika bisa, akan ku berikan kau dua mobil Lamborghini keluaran terbaru"
Veux hanya tersenyum, tangan kirinya memegang pergelangan tangan pemuda tersebut, "Nantikan berita itu".
Setelah mengucapkan itu, Tangan pemuda tersebut langsung di sentak olehnya, dan pergi berlalu dari sana bersama Lio.
"Adik kecilku, sepertinya kau sudah lupa denganku"
KAMU SEDANG MEMBACA
𝖆𝖙𝖙𝖆𝖑𝖎 '𝖛' 𝖋𝖆𝖇𝖗𝖊𝖌𝖆𝖘𝖈𝖍𝖆 [𝖊𝖓𝖉]✓
Ficção AdolescenteBagaimana jika seorang remaja yang baru saja menginjak kata 'Remaja' nekat kabur dari kekangan keluarganya yang dibilang super overprotektif terhadapnya. Bahkan tak hanya Keluarga, Sepupunya juga ikut overprotektif terhadap dirinya. Ia di jaga oleh...
![𝖆𝖙𝖙𝖆𝖑𝖎 '𝖛' 𝖋𝖆𝖇𝖗𝖊𝖌𝖆𝖘𝖈𝖍𝖆 [𝖊𝖓𝖉]✓](https://img.wattpad.com/cover/295587395-64-k421448.jpg)