0. 53

1.3K 83 3
                                        

"Berapa umurmu? Pendidikan? Pengalaman?"

Huh?

Di pikiran pemuda tersebut sudah sangat beragam pertanyaan, mengapa Tuan Veux bertanya seperti itu padaku? Apa aku membuat kesalahan? Ataukah ayahku akan dipecat!?. Pikir Lio

"Kau mendengar ku?"

Lio tersadar dari lamunannya lalu mengangguk cepat, bahkan ia lupa jika ia tidak menjawab pertanyaan Veux.

"Jawab pertanyaan ku!"

Lio nampak menelan salivannya dengan kasar, ia sangat gugup jika menghadapi situasi seperti ini.

"Na-nama sa-saya Lio, u-umur saya 17 tahun, saya masih bersekolah tuan, dan tentang pengalaman, saya pernah bekerja di sebuah Cafe di dekat mansion Hayden, dan bekerja sebagai waiter di cafe tersebut." Jawab Lio

Veux nampak masih saja tenang dalam mengemudi, bahkan Veux nampak melamun.

"Kau bersekolah di mana?"

Lio nampak terkejut, ia pikir Veux tidak mendengarkan perkataan nya namun itu salah besar.

"Di National High School, tuan" jawabnya

Veux nampak tertawa kecil, entah apa yang membuat Veux sampai menunjukkan senyuman yang nampak candu nan manis tersebut.

"Itu milik keluarga Arga, dan kenapa dia tidak bersekolah di sekolahnya sendiri?"

Lio nampak menoleh dengan cepat, "tuan mengenal Arga?"

Veux mengangguk, "dia adalah sahabatku, dia pemilik sekolah yang dimana sekarang kau bersekolah"

Lio tersenyum manis melihat Veux yang selesai tertawa dan masih tersenyum, rasanya sangat tenang bisa melihat Veux tersenyum.

"Apa kau mau bekerja?"

Lio mengangguk, walau hatinya masih ragu, ia memilih jalan tersebut karena ia ingin membantu orang tuanya.

"Besok pindah lah ke sekolahku"

"Untuk?"

"Apa keahlian mu?" Tanya Veux

Lio nampak berfikir, "Saya tidak tau tuan, saya rasa jika dalam bela diri saya bisa, dan hack, saya juga bisa, yang lainnya saya tidak tau" jawabnya

Veux mengangguk, "Turuti perintah ku"

Setelah berkata seperti itu pada Lio, ia lantas turun dari mobil dan berjalan ke arah bangku di bawah pohon yang rindang, disusul oleh Lio yang langsung berdiri di sampingnya.

"Duduklah!"

Lio langsung saja menurut, ia langsung duduk di samping kanan Veux. Walaupun jika di perhatikan dengan baik, Veux nampak ingin menyendiri.

"Tuan muda!"

Veux dan Lio langsung saja mendongak karena terkejut dengan panggilan dari orang asing.

Segerombol orang yang berpakaian layaknya seorang preman yang sudah kelas bandit, nampak berdiri di depan Veux dan juga Lio.

"Ada yang bisa kami bantu tuan?" Tanya Lio

Mereka nampak masih memperhatikan Veux yang sudah mengalihkan pandangannya ke arah kirinya lebih tepatnya ke arah para pemuda yang tengah duduk dengan seorang wanita paruh baya yang merupakan pemilik pusat rehabilitasi Maria tersebut.

"Dia adalah bos kami tuan, jika anda bisa membantu, bisakah anda mengembalikan rasa trauma bos kami semula, agar ia melupakan trauma yang dialaminya dua tahun silam?"

Veux menggeleng, "Itu susah, dilihat dari gerak-geriknya, dia sangat tertutup, bahkan sulit untuk di dekati" jelas Veux

Lio sekarang baru menyadari siapa yang tengah dibicarakan mereka, namun mengapa Mereka meminta bantuan kepada Tuannya?

"Kami mohon tuan, bantu kami, kami tidak akan melupakan jasa anda jika anda membantu kami"

Veux nampak mengangguk, "aku tau, tapi itu susah, jika memang aku bisa merubahnya, akan aku coba"

Veux dengan tiba-tiba berdiri, dan berjalan ke arah pemuda yang tengah memeluk kedua kakinya dan wajah yang sayup.

Veux berhenti di depan mereka, seolah tidak sengaja berhenti di depan mereka.

"Makanlah, jika kau memang sayang nyawamu, untuk membalaskan dendam mu itu"

Setelah itu Veux melanjutkan langkahnya ke arah meja yang dimana Seorang Wanita paruh baya sudah menunggunya.

"Siapa dia?"

"Tuan muda Fabegras"

Veux mendengar samar-samar, namun tetap mengabaikannya, ia memilih ke tujuan awalnya.

"Kenapa dia mengabaikan bosmu?"

"Entah"

𝖆𝖙𝖙𝖆𝖑𝖎 '𝖛' 𝖋𝖆𝖇𝖗𝖊𝖌𝖆𝖘𝖈𝖍𝖆 [𝖊𝖓𝖉]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang