[Di harapkan follow sebelum membaca]
___________
"Kenapa lo bisa suka sama gue? Dan terus terus deketin gue?,padahal gue ga pernah gubris lo?," tanyanya.
"Gue ga punya alasan buat suka sama lo Al, perasaan ini hadir tanpa di minta," jawab Aliesha...
Hai, selamat membaca cerita ku. Jangan mengharap lebih dengan tulisanku, tulisan masih amatiran hehe.
JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AKU YA BIAR GA KETINGGALAN KALAU NANTI AKU UPDATE. JANGAN LUPA JUGA BUAT TEKAN TOMBOL BINTANG DI SETIAP PART, DAN COMENT NYA BIAR AKU TAMBAH SEMANGAT BUAT NULISNYA.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Level tertinggi dalam mencintai adalah Mengikhlaskan."
»»--⍟--««
Berduka cita atas meninggalnya Wakil ketua Olethros kita Axelle Aydin Jekonia.
Tulisan itu tertera jelas di spanduk yang di pasang di belakang mobil jenazah. Setelah menyelesaikan semua prosesi pada jenazah, kini tepat pukul 7 pagi Axelle akan di antarkan ke peristirahatan terakhirnya.
Empat inti Olethros memimpin jalannya mobil jenazah itu. Puluhan motor mengiringi mobil jenazah itu di belakang. Mereka anggota Olethros yang senada memakai pakaian sebrang hitam, ikut memakamkan Axelle. Ratusan lelaki itu berduka harus kehilangan wakil ketua yang sudah membina mereka selam tiga tahun ini.
Keluarga Axelle berada di dalam mobil mereka, begitupun dengan para perempuan yang sejak malam menemani masa-masa terakhir Axelle. Reanna, wanita yang paling merasa kehilangan itu hanya duduk lemas di dalam mobil sambil menatap jalanan. Matanya terlihat hitam dan sembab, wajahnya juga sangat pucat, semalaman wanita itu tak berhenti menangis. Teman-teman nya merasa prihatin melihat keadaan Reanna sekarang.
Setelah beberapa menit kini mereka sudah sampai di TPU yang menjadi lokasi peristirahatan Axelle. Mobil jenazah terbuka, Aldrich dan tiga inti Olethros lainnya dengan sigap meraih pegangan keranda dan menaruhnya di pundak mereka.
Tak bisa mereka sembunyikan, sambil membawa keranda dan tahlil ketiga lelaki itu menangis pelan. Tak pernah mereka bayangkan, akan membawa keranda sahabat nya seperti ini begitu cepat. Tak pernah mereka bayangkan, hari ini akan memakamkan sahabat yang kemarin masih tertawa bersama mereka.
Sampai di depan kuburan yang sudah di siapkan, di sana sudah ada seorang ustadz dan juga penggali kuburan. Dengan berat hati dan perasaan sedih mereka semua melihat prosesi pemakaman Axelle. Hingga sampai tubuh Axelle di tutupi dengan tanah, mereka hanya bisa melihat sambil mencoba mengikhlaskan.
"Axell e... " lirih Diana memegang nisan putranya. "Semoga tenang di sana nak, Mamih selalu ada di samping kamu, Mamih sayang sama kamu Nak."
"Mih, ayo pulang," ajak Alex.
"Engga Lex, Mamih mau temenin Axelle di sini, kasian Axelle sendirian."
"Mih, pulang ya? Kondisi Mamih gak baik, Mamih harus ke Dokter. Kalau Mamih sakit, Alex yakin Axelle pasti gak mau Mih, tolong Mih ... "