NAH LOH, GIMANE NIH?

4.3K 435 174
                                        


Anggi baru pulang pada sore hari meski sedikit lebih awal dari biasanya. Ia tidak menunggu Kartika yang selalu menjemput nya seperti biasa. Ia memilih naik taksi dan menolak Lidya yang menawarkan diri untuk mengantarnya sampai rumah.

Jujur saja ia masih sakit hati dengan sikap Lidya yang tidak sopan pada Kartika, tapi bukan berarti ia berbaik hati karena Lidya yang juga mengungkap kejadian yang sebenarnya.
Tidak, bukannya berterima kasih, tapi pikiran nya  justru semakin campur aduk.



Anggi memasuki rumah dengan wajah datar. Ia bahkan tak menjawab sapaan seorang asisten rumah tangga yang membukakan pintu.
Ia berjalan dengan wajah tanpa ekspresi, namun sorot matanya terlihat tajam.

Ia membuka pintu kamar yang ia tempati bersama Kartika. Namun nihil, mama tirinya itu tidak ada disana. Ia berdecak kesal.
Ia keluar dengan membanting pintu. Membuat seorang asisten rumah tangga yang hendak menemui nya pun terkejut.

"Mama mana?" Tanya Anggi.

"Nyonya belum pulang Non, mungkin sebentar lagi" jawab perempuan itu dengan menunduk.

Mendengar itu Anggi pun pergi keluar.  Sebenarnya hatinya dongkol. Mengetahui fakta jika ternyata Kartika lah yang menyebabkan papanya marah besar padanya.
Meski kini ia telah mengakui jika ia juga memiliki rasa yang sama, tapi tetap saja ia tidak bisa mengelak kalau ia kecewa.

*****

Mobil Kartika nampak memasuki halaman rumahnya. Setelahnya ia turun dengan tergesa gesa. Sepertinya ia tahu jika seseorang yang dicarinya telah berada dirumah.

"Nyonya sudah pulang?" Tanya seorang asisten rumah tangga yang membukakan pintu.

"Iya. Anggi sudah dirumah?" Tanya Kartika.

"Sudah dari tadi Nyonya" jawabnya.

Kartika pun bergegas ke kamarnya. Ia ingin menanyakan pada anak tirinya itu mengapa tidak menunggu nya.

"Sayang?" Panggilnya.
Namun ia tak mendapati Anggi disana. Ia keluar lagi dan berjalan ke halaman belakang.

Sesaat kemudian, Kartika tersenyum melihat punggung orang yang dicarinya itu tengah berdiri membelakangi nya.
Anggi berdiri di tepi kolam dengan telapak tangan yang ia masukkan kedalam saku celana. Matanya menatap kebawah, pada sehelai daun kering yang mengambang di permukaan air.

Wanita dewasa itu mendekat dan memeluknya dari belakang. Menenggelamkan wajahnya di tengkuk Anggi. Menghirup wanginya yang selalu membuatnya kecanduan.

"Kenapa nggak bilang kalau pulang cepat? Jadi mama bisa jemput kamu lebih cepat juga" tanya Kartika masih dengan memeluk Anggi.

Namun ia menjadi terusik karena gadis itu tidak merespon nya sama sekali. Bahkan tak menoleh apalagi membalas pelukannya.

Kartika melepas pelukannya dan menghadap Anggi. Hendak mencium bibir nya namun gadis itu malah memalingkan wajah. Jelas itu membuat hati Kartika sakit.
Gadis ini masih baik baik saja pagi tadi. Pun juga tidak akan menolak meski ia menciumi bibir nya tanpa ampun.
Tapi ini apa? Ia ditolak?

"Ada apa?" Tanya Kartika. Namun Anggi masih tidak menatap nya.

"Jawab sayang jangan diam saja" Kartika mendesak.

Anggi pun mulai menatapnya. Sorot matanya begitu dingin. Kartika tidak suka tatapan itu. Tatapan yang selalu hangat itu kini terlihat dingin.

Anggi mengeluarkan ponsel dari sakunya. Mencari sesuatu dan menunjukkan nya pada Kartika.
Sebuah foto yang seketika membuat Kartika memucat.

"Ini apa maksudnya?" Suara gadis itu amat tegas.

Bola mata wanita itu bergerak tak tentu arah. Ia bingung harus menjawab apa. Bagaimana bisa Anggi mengetahui ini semua?

DADDY'S WIFECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang